Sabtu, 10 Juni 2017

Menjadi Pelampiasan Kakak Sahabatku


Menjadi Pelampiasan Kakak Sahabatku

Tante Lendir - Pertama kali aku ingin mengenalkan sahabatku yang bernama Bagas dan kakaknya Gia, mereka dari keluarga yang kaya raya. Keluarganya pun cukup mengenalku yang sering berkunjung di rumahnya. Kejadian ini terjadi saat saya mengerjakan tugas kelompok bareng Bagas.

“Gass..kapan ngerjain tugas nih? besok dikumpulin cuy!!!” tanyaku pada sahabatku.
“sekarang aja deh, kita ngerjain dirumah gw”
aku dan Bagas memang satu kelompok untuk menyelesaikan tugas analisa perancangan sistem. tugas yang belakangan ini membuat otakku sedikit kacau. aku dan Bagas berteman sejak semester awal. entah hal apa yang membuat kami bisa berteman sampai saat ini. tapi yang jelas Bagas teman terbaikku dikelas. saking akrabnya kami untuk menginap dirumahnya pun sudah hal biasa bagiku. smua anggota keluarganya pun mengenalku.

” ya…. ? Joni (nama samaran) itulah aku.
mobil Bagas melesat membelah jalan ibu kota. matahari sore memancarkan sinar kekuningan. membuat pemandangan gedung bertingkat menjadi lebih indah. waktu di jam tanganku menunjukkan jam 4 sore. lalu lintas saat ini belum terlalu padat. Bagas pun makin menginjak dalam pedal gas mobilnya, membuat perjalanan kami menuju rumah Bagas lebih singkat. rumah 2 lantai dengan pekarangan yang luas berdiri kokoh.

“masuk Jon, bokap nyokap gw lg gak ada” ajak Bagas.
“mang bokap nyokap lo kemana?”
“lagi ada acara di surabaya”
“oh” jawabku singkat.

kami pun masuk ke dalam rumah mewah milik keluarga Bagas. sangat beruntung bocah ini. di beri harta yang cukup berlimpah. menaiki tangga menuju kamar Bagas di lantai dua. kamar cukup besar dengan fasilitas dan elektronik yang cukup lengkap. tv flat, ac, dvd, dan lain-lain.
“tuh jon laptopnya. tinggal pake aja. gue mandi dulu ya”
“gue bingung mulai dari mana nih Gass?”
“catetannya ada di file gue. lo copy paste aja. nanti tinggal tambahin”
“oke deh”

aku mulai mengutak atik tugas yang membebaniku saat ini. dengan sedikit usaha dan pikiran akhirnya selesai sebagian. Bagas keluar dari kamar mandi. rambutnya masih basah. handuk masih membelit di pinggangnya. aku masih duduk di depan laptop dengan pikiran yang mulai jenuh dengan tugas.
“kenapa lo jon?” tanya Bagas.
“mumet nih gue. lo lanjutin nih. ntar tinggal di gabungin”
“hahahahahahahaha. gue kira lo kenapa? yaudah istirahat dulu sana!”

bi yum datang membawa nampan berisi se-pitcher besar sirup dan sepiring wafer coklat ke kamar Bagas.

“saya kira siapa? nggak taunya mas joni. monggo di minum mas”
“makasih bi yum”

bi yum, pembantu rumah tangga keluarga Bagas sejak dulu. sangat setia melayani keluarga Bagas. bi yum kenal akrab denganku karena aku memang sering menginap dirumah Bagas. tak asing lagi wajahku di kediaman keluarga Bagas.
“sana lo istirahat! sini biar gue yang lanjutin” sergah Bagas.
“eh, kakak lo mana Gass?” tanyaku seraya merebahkan badan di atas renjang empuk.
“siapa? gia?”
“ya kakak lo emang siapa lagi selain si gia”
“hehehehehehehe. nggak tau gue. paling dirumah temennya”

gia (nama samaran), kakak perempuan Bagas. gadis dengan tinggi semampai dan rambut terurai agak pirang. yang selalu bercanda dan berbincang denganku. gadis supel dan baik. anak tertua di keluarga ini sedang menyelesaikan studinya di sebuah universitas ternama di ibukota. namun dari tadi tak kulihat wajah oval miliknya.

Hari makin senja. matahari makin tenggelam di ufuk barat. awan makin gelap dan lampu telah dinyalakan. Bagas masih setia duduk di depan laptop, menggerakkan jarinya memijit-mijit huruf demi huruf di keyboard. kata demi kata bermunculan di layar monitor. dan hampir selesai tugas kelompok kami. jari Bagas terhenti karena dering telepon genggam miliknya.

“iya sayang…” kata-kata Bagas menutup pembicaraannya di telepon. pasti itu liza (nama samaran), cewek asal jogja yang ia pacari sejak setahun yang lalu. wajahnya ayu khas orang jawa, dengan alis tebal dan bulu mata lentiknya. pipinya agak tembem. giginya berhiaskan kawat dengan karet warna-warni sebagai hiasan.
“Jonn, gue cabut bentar ya. si Liza minta di jemput”
“yaaahh, sendirian dong gue disini?”
“yaelah lu.. kayak baru pertama kali aja kesini. biasanya juga semaunya aja disini”
“kan nggak enak kalo nggak ada lo”
“udah, gue cabut dulu. kalo mau butuh apa-apa minta ama bi yum aja. cabut ya!”
“iye iye”

Tugas kami hampir selesai. aku melanjutkan mengerjakan tugas. tak apalah, nanti biar Bagas yang menjilidnya. kurang dari seperempat jam tugas pun telah kuselesaikan. lelah bercampur lapar yang kini kurasakan. ada baiknya minta bi yum membuatkan mie goreng untukku. aku keluar kamar, menuruni tangga menuju dapur. angka digital di arlojiku menunjukkan pukul delapan. namun rumah ini sangat sepi. tak ada suara. kulihat kamar bi yum, lampunya telah padam. pertanda beliau telah tidur. terpaksa kubuat mie goreng sendiri. tak berapa lama, terdengar suara gerbang depan terbuka dan gerungan suara mobil memasuki pelataran. mungkin Bagas dan liza datang. jika meraka datang, lebih baik tidak usah membuat mie, pikirku. karna pasti nanti liza akan mengajak kami makan biasanya.

Setelah kuintip melalui jendela ruang tengah. ternyata bukan Bagas, melainkan gia. gia keluar mobil dengan terburu-buru. membuka pintu rumah dengan gegas. langkahnya sempat terhenti ketika melihatku di depan meja makan. kemudian ia naik ke lantai atas, dan masuk kedalam kamarnya. belum sempat aku menyapanya, ia sudah mengurung diri dalam kamarnya dan rumah ini kembali sepi. kulanjutkan membuat mie untuk makan malamku.

Sedang asik menikmati mie goreng sambil menonton film, tiba-tiba pintu kamar Bagas diketuk. aku bergegas membuka pintu. gia berdiri di depan pintu dengan mata yang basah. aku hanya terdiam.

“lo punya rokok Jonnn?” tanya gia.
“eh..emm..a..punya kok” aku gagap.
“gue minta donk!”

dengan sigap kuambil rokok yang tergeletak didepan tv. aku tidak berani bertanya, ada apa sebenarnya. menurutku itu bukan permasalahanku. jika kubertanya, yang kutakutkan gia malah marah kepadaku.

“makasih Jonn” ia pun berlalu.
“emm..gi” mulutku tiba-tiba berbicara dengan otomatis. ah, bodohnya aku!!
“kenapa Jonn?”
“a..a..ada yang bisa gue bantu?” tanyaku gagap.

gia hanya membalas dengan senyuman. kemudian beranjak pergi meninggalkanku. tak kuhabiskan mie goreng sisa tadi. tangisan gia dan mata yang basah mengganggu pikiranku. aku keluar mencari udara segar. duduk didepan kolam renang sambil menikmati secangkir kopi.

“Joni..Jonn..” panggilan gia membuyarkan pandangan kosongku.
“kenapa gi?”
“boleh gue duduk bareng lo disitu?”
“ya bolehlah. ini kan rumah lo”

Kemudian gia menghampiriku. duduk di bangku sebelahku. aku kembali diam.

“gue abis diputusin Jonnn” kata gia membuka obrolan.

“sama si Yudit (nama samaran)?” tanyaku.
“iya, padahal gue udah pacaran empat tahun. tiba-tiba aja dia mutusin gue dan ngasih undangan pernikahan”
“aduh, yang sabar ya gi”
“iya, gue harus belajar terima keputusan kalo ini yang terbaik”
“lo kan masih punya keluarga yang sayang banget sama lo,,lo punya temen-temen yang baik-baik juga ,,lo punya semua orang yang sayang sama lo. jadi, lo harus kuat gi” gia hanya tersenyum.
“makasih Jonn. kata-kata lo dalem. gue emang harus kuat”
“iyalah. ada gue kok gi. ya, walaupun gue nggak berarti apa-apa. hehehehehehe”
“hahahahahahaha” gia tertawa lebar.
“saat ini lo berarti banget buat gue Jonnn. lo udah tenangin hati gue. makasih ya Jon”
“iya sama-sama. buat kakak sahabat gue apa sih yang enggak”
“Jonn!”
“ya, kenapa gi?”
“gue boleh peluk lo nggak?”
aku kikuk. aku diam. mematung.
“emmm..bo..boleh kok. boleh. kalo itu bikin hati lo tenang”
gia memelukku erat. hangat. wangi tubuhnya sangat khas. rambutnya lurus terurai. ku elus-elus rambutnya. cukup lama kami berpelukan.
“Jonn, lo mau kan temenin gue malem ini?” tanya gia. pertanyaan yang aneh menurutku.
“i..iya. gue temenin lo malem ini”

Wajah gia mendekat kearah wajahku. matanya terpejam. aku makin kikuk. gia mencium bibirku. aku hanya diam. tak membalas. dilumatnya bibirku. lidahnya bermain. aku tetap diam. gia makin buas menciumi bibirku. akhirnya kubalas cium. melumat bibirnya. memainkan lidahku. basah. bibirku dan bibirnya basah. pelukan gia makin erat. makin hangat, hingga akhirnya panas. tak hanya bibirnya yang bermain. tangan gia perlahan-lahan menjamah tubuhku. memilin-milin puting kecilku. aku terangsang. tubuhku bergetar. dan kami masih saling melumat bibir.

Kali ini tangan gia makin nakal. resleting jeans-ku dibukanya. merogoh isinya. mengusap-usap pelan penisku. seketika penisku tegang tingkat tinggi. tangannya aktif membuka ikat pinggang dan kancing jeans-ku. di buka jeans dan cd-ku. penisku menjulur keras. menegang dan besar. gia hanya tersenyum melihat ukuran penisku. ia mengambil posisi jongkok. kemudian melumat penisku. lidahnya lincah bermain. maju mundur kepalanya memainkan penisku. aku keranjingan. namun, was-was juga menghantuiku. jika ternyata Bagas pulang. apa yang harus kulakukan?

“gi, kalo Bagas pulang gimana?”
ia menghentikan lumatannya.
“kita ke kamar tamu aja yuk!”

kamar tamu yang letaknya di halaman belakang memang kamar yang cukup nyaman. tak pernah ada yang menempati. dan permainan mulut gia dilanjutkan di kamar ini. diatas ranjang yang empuk dan suhu dingin yang dihembuskan dari ac.

Aku terlentang dengan penis berdiri menjulang. gia masih dengan senang terus melumat penisku. sambil melepas pakaiannya, terus ia lumat penisku. mataku terpejam merasakan nikmat yang luar biasa. payudara mungilnya menggantung indah di tubuh putihnya. putingnya merah kecoklatan. tak sabar ingin kugigit-gigit puting payudaranya. gia menyudahi permainan mulutnya. kini aku yang melahap vaginanya. kujilat-jilat klitorisnya, sambil memilin-milin puting payudaranya. ia mendesah pelan. sangat pelan.

“aaaaahhh..Sammiiii”

Terus kujilati klitorisnya. sesekali menyedotnya dalam-dalam. memainkan lidahku dengan nakal. gia makin terangsang. kini kumainkan payudaranya. kuhisap putingnya yang mungil menggoda. sesekali kuperas dan kuremas kuat payudaranya. ia keranjingan. desahan demi desahan terlontar dari mulutnya. aku masih asik memainkan payudaranya. bentuknya yang mungil membuatku makin terangsang. kini kami sudah bugil sepenuhnya. tak selembar kain pun menutupi tubuh kami. dua jariku asik mencolok-colok vaginanya. sementara mulutku masih terus menghisap puting gia. tubuhnya bergetar. kukunya mencakar punggungku. gia sangat terangsang.

“aaaahhh..Jonnii…Jonniii”
“aaaaahhh..”
“masukin Jonn..pelan-pelan yaaa” pintanya.

Perlahan penisku memasuki lubang vaginanya. rapat. licin. hangat. nikmat. sungguh nikmat. vaginanya mencengkram erat penisku. gia mendesah pelan. tangannya mencakar-cakar sprei. kugoyangkan pinggulku. maju mundur. penisku menari didalam vaginanya. aku menindih tubuh gia yang kecil. pahanya terbuka lebar. bulu-bulu kemaluannya agak jarang. menambah keindahan vaginanya. sambil terus penisku bermain di dalam vaginanya, lidahku tetap menjilati puting payudaranya. warna merah kecoklatan. aku terus menggoyangkan pinggulku. vaginanya sungguh rapat. rasanya hangat dan nikmat. tak kusadari peluhku membasahi jidat. terus kugenjot tubuh gia. sesekali dengan tempo yang cukup cepat.

“aaaaaahhh..aaaaahhh..” gia mendesah hebat.
“terus Jonn…teruuuusss..aaaaaahhh”
makin kutambah kecepatan goyangan pinggulku. gia pun berkeringat. terus ku genjot tubuhnya, sambil kuremas-remas payudaranya. gia memelukku erat. lagi-lagi kukunya mencakar punggungku. sakit pun kuhiraukan. vaginanya basah.
“aaaaaahhh..Jonniiii”
“uuuhhh..uuuuhhh..”
desahannya membuatku makin terangsang. penisku menikmati rapatnya vagina gia. payudaranya bergoyang-goyang seiring genjotanku. penisku terus menghujam vaginanya.
“aaaaaahhhhh..aahhhh..Jonn”
“Jonniiii..gue mau keluar Jonn..”
“aaahhh..aaahhh”
“terus Jonn..teruuusss..aahhh”

desahannya makin sering. hantaman penisku makin kuat. kemudian cairan hangat membanjiri vaginanya. ia klimaks.
“aaaaaaaahhhhh..aaaaaahhhh”
aku pun hampir klimaks. ku percepat goyanganku. penisku makin panas.
“gu..gu..gue..hhaaahhh..hhaaahh..mau keluar gi..hhaaahh” dengan napas terengah-engah.
“keluarin di badan gue aja Jonn..aaaahhh..aaaahhh”

Penisku bertambah panas. vaginanya telah banjir. dan aku pun hendak klimaks. kucabut penisku dari dalam vaginanya. kusemburkan cairan maniku di atas payudaranya.
hangat. nikmat.

“aaaaaahhh..aaaaaahhh” terus kupompa keluar cairan maniku. membanjiri payudara putihnya.
“aaaaaahhh..terus Jonn” pinta gia.

gia melumat penisku. menyedot habis cairan maniku. tubuhku gemetar nikmat. bulu romaku berdiri. terus ia jilati penisku. tak ia hiraukan payudara putihnya yang basah oleh maniku. terus melumat penisku. hingga akhirnya ia mencium keningku mesra… END


EmoticonEmoticon