Minggu, 25 Februari 2018

Kenikmatan Threesome Tak Terduga Dengan Selimut Tetangga


Kenikmatan Threesome Tak Terduga Dengan Selimut Tetangga

Tante Lendir - Kali ini akan memberikan anda sebuah Cerita Dewasa, semua berawal pada suatu ketika dimana aqu dan istriku pindah ke sebuah rumah kost di sebuah kota besar, sebut saja kotaX, dimana aqu harus pindah ke kota itu karena tempat kerjaqu menugaskan aqu untuk menjadi kepala cabang di kantor yg baru.

Kost yg kita tempati ini memang khusus untuk karyawan dan juga keluarga oleh sebab itu kost ini sangat lengkap mulai dari dapur hingga kamar mandi dalam semua ada. Telah sebulan kita tinggal disini, aqu dan istriku telah mulai terbiasa bergaul dengan para tetangga kost kita.

“Pagi mas Ridwan. Berangkat kerja?” sapa seorang wanita. Dia adalah istri tetangga kost kita yg bernama Susilo, wanita ini sendiri bernama Safhira.
“Iya nih mbak. Mau bareng?” tanya qu kepada Safhira atau mbak Fhira begitu kita biasa menyapanya. Memang lokasi kerjanya berdekatan dengan kantorku. Mbak Fhira lalu mengangguk tanda setuju,
“Boleh mas. Tapi nggak apa-apa nih nebeng di mobilnya mas Ridwan? Ntar mbak Nia marah lagi.” Kata mbak Fhira kepadaqu. Aqu hanya tertawa karena saat itu Nia, istriku juga berada disampingku. Nia ikut tertawa mendengar candaan mbak Fhira.

Aqu dan Nia memang pasangan baru. Kita baru menikah 1 tahun lalu dan belom dikaruniai seorang anak. Istriku Nia berusia 27 tahun, 2 tahun lebih muda dariku. Sementara itu pasangan Susilo dan Safhira berusia sekitar 32 tahun dan 29 tahun. Jadi bisa dibilang mbak Fhira itu seumuran denganku. Suaminya, Susilo memang tak bekerja karena telah satu tahun ini dia di PHK, makluk sedang krisis ekonomi jadi banyak PHK dimana-mana.

Dulunya dia bekerja diperusahaan plastik sementara istrinya bekerja sebagai pegawai perusahaan keuangan yg cukup terkenal di Indonesia meskipun dia hanya sebagai bawahan.Sesampainya di kantor aqu berpisah dengan mbak Fhira yg memang berjalan kaki dari kantorku menuju kantor tempat dia bekerja.

Beberapa karyawan melirik kearah kita dan aqu yakin mereka bertanya-tanya siapa sebenarnya wanita yg dibawa atasannya itu. Aqu sih, tak ambil pusing karena memang pada dasarnya Safhira memang cukup cantik meskipun tak secantik istriku. Namun body nya memang lebih yahud dan berisi.

Terutama payudaranya yg sedari tadi kuperhatikan sekitar F-Cup jauh lebih besar dibandingkan istriku yg cuman C-Cup. Ah ada apa dengan diriku ini? Kenapa aqu malah kepikiran mengenai badan istri orang. Akhirnya aqu masuk juga ke gedung kantorku sembari berusaha melepaskan pikiran mesum itu dari otakku. Hari demi hari berlalu dan aqu sering sekali berangkat bareng dengan mbak Fhira, memang sih baik istriku maupun suami mbak Fhira tak pernah cemburu atau keberatan.

“Kasihan mbak Fhira mas kalau sendirian jalan.” Kata istriku saat aqu bilang apa dia keberatan kalau aqu berangkat bareng dengan mbak Fhira. Memang sih dari tempat kost kita untuk mencapai daerah tempat kerjaqu harus jalan sekitar 100 meter menuju jalan besar yg kemudian harus naik angkot sebanyak dua kali agar bisa sampai ke daerah tujuan kita. Aqu bisa membayangkan kalau Mbak Fhira berangkat kerja sebelom ada aqu dulu seperti apa susahnya. Pagi hari itu aqu seperti biasa bersiap untuk ke kantor dan istriku membawakan aqu bekal makan siang.

Nia memang juru masak yg handal. Selama ini aqu tak menolak tiap kali dia membawakan bekal karena memang masakannya luar biasa enak, maklum setahun kursus masak waktu kuliah dulu.

“Mas, maaf udah nungguin lama yah? Habisnya mas Susilo tadi rewel terus minta dilayanin sih. Maaf ya kalo kelamaan nunggunya.” Kata mbak Fhira ramah. Aqu kaget juga melihat penampilan mbak Fhira kali ini. Memang dia mengenakan pakaian kerja tetapi rok nya kulihat lebih pendek dari biasanya begitu juga dengan kerah bajunya seperti lebih lebar dan terkesan lebih turun. Mbak Fhira lalu mengenakan sepatunya dengan posisi setengah menungging. Aqu yg saat itu sedang berdiri didepannya, kontan saja melihat pemandangan aduhai dari depan.

Sepasang payudara mbak Fhira seperti menggelantung seolah ingin melepaskan dirinya dari breast houlder warna ungu yg membungkusnya. Besar dan bentuknya indah sekali, batinku dalam hati. Mas Susilo benar-benar beruntung memiliki istri seperti mbak Safhira.

CERITA DEWASA - Telah cantik, bodynya bagus, dadanya juga besar, pastilah hebat saat bermain diranjang. Sesaat aqu membandingkan dengan istriku. Penyesalan muncul dibenakku. Akh, lelaki macam apa aqu ini, membayangkan istri orang lain sementara aqu sendiri telah beristri dan istriku pun juga selalu setia terhadapku.

Bahkan akhir-akhir ini seminggu belakangan ini istriku terasa lebih hangat dari sebelomnya. Kita menjadi seperti pasangan suami istri baru lagi. Tadi malam saja dia minta untuk bercinta sampai dua kali padahal sebelomnya paling tiga atau empat hari sekali. Entah apa yg mempengaruhi hasrat seksualnya sekarang ini.

“Wah kok macet ya? Padahal kalau lewat jalan ini nggak macet tuh jam segini.” Celetukku pelan. Mbak Fhira tersenyum terus meneruskan membaca buku laporan keuangan yg dia pegang. Sesekali aqu melirik kearah pahanya yg tersingkap karena mobilku ini memang tempat duduknya cukup rendah jadi aqu bisa melihat paha mulus mbak Fhira dengan jelas.

“Eh mas. Sepertinya ada demo deh disana? Waduh bakalan telat kalo gini.” Mbak Fhira kelihatan mulai khawatir. Memang benar ada demo dipersimpangan jalan didepan kita. Entah apa topik demonya karena aqu juga tak begitu peduli lagi, yg kupedulikan hanyalah pekerjaanku di kantor dan kesempatan lirik-lirik paha mbak Fhira. Lumayan buat selingan, batinku. Habis telah rasa penyesalanku tadi.

Untungnya kita sampai kantor tepat pada waktunya. Kali ini sampai di kantor ada kejutan yaitu kawanku waktu kuliah dulu yg sekarang bekerja sebagai manager sebuah perusahaan kimia swasta berkunjung.

“Wah, Rid, sekarang kamu udah sukses ya. Telah jadi pimpinan cabang sekarang.Hahaha…” seloroh sobatku yg satu ini. Aqu hanya membalasnya ringan, aqu memang bukan tipe orang yg suka memamerkan prestasi sih.
“Eh, perempuan yg tadi bareng sama kamu itu siapa sih? Kece juga tuh perempuan. Bodynya keren dan wajahnya juga mantap punya tuh. Siapa sih? Kenalin donk!” goda Iwan kawanku ini.

Aqu hanya tersenyum simpul saja tapi dia malah semakin penasaran dan membombardirku dengan berbagai pertanyaan susulan.
“OK, OK, gua jawab. Diatuh tetangga kost gua. Dia tinggal di kamar sebelah kamar kost gua. Lagian dia kerja didekat sini maka dari itu gua anterin dia kesini barengan ma gua. And sekedar informasi, dia udah punya suami bro.” kataqu menjelaskan daripada nanti di berondong pertanyaan lagi.
“Heh? Emangnya istrimu nggak cemburu tuh? Kalian khan pasangan muda, biasanya istri suka cemburu kalau suaminya bareng perempuan lain yg cantik. Khan bawaan dari masa pacaran masih ada hahaha…” Iwan kembali menggodaqu sembari melihat-lihat foto-foto di dinding ruang kantorku. Aqu hanya menghela nafas saja,
“Istriku nggak seperti itu lagi. Dia orangnya kagak pencemburu. Dia juga yg nyuruh gua buat nganterin mbak Fhira dari pada ntar dia jalan sendiri khan kasihan.” Kataqu padanya. Iwan tertawa lagi,
“Wah boleh juga tuh. Kalo ntar aqu punya istri aqu pengin kaya istrimu tuh, orangnya nggak cemburuan.

Nggak kaya pacarku sekarang ini, cemburuannya minta ampun. Tiap jam telepon terus kalau nggak ya sms. Dikira aqu pembantunya apa yah…”selorohnya sembari tertawa. Memang sih pacar Iwan pencemburu berat padahal telah pacaran selama 3 tahun lebih.
“Tapi Rid…” Iwan menimpali lagi,
“Memangnya kamu nggak ada rasa tertarik sama mbak Fhira itu? Dia cantik lho dan seksi lagi. Bayangin aja kalau kamu di ranjang dilayanin dia sama istrimu…pasti serutuh…hahahaha….threesome gitu.” Katanya lagi.

Aqu memang tak kaget dengar ucapan itu dari Iwan karena sejak waktu kuliah dulu memang mulutnya sering mengeluarkan ucapan-ucapan seronok apa adanya. Dia paling gemar berbicara soal seks meskipun tak pernah berhubungan seks dengan wanita manapun selama ini.

“Halah…lo ini ngomong apaan sih. Mana mau istri gua diajakin threesome. Dia orangnya konvensional kok.” Kataqu pada Iwan. Memang selama ini istriku selalu konvensional dalam bermain cinta. Selama satu tahun ini kita hanya bermain cinta menggunakan gaya-gaya yg itu-itu saja.

Kecuali dua hari terakhir ini dimana kita berdua menggunakan gaya baru sama sekali dalam bercinta dan memang efeknya dahsyat. Aqu sendiri tak tahu dari mana dia mendapatkan gaya tersebut. Sesiang ini aqu memikirkan ucapan sahabatku itu. Threesome, sepertinya menarik tapi mana mau istriku melaqukannya.

Lagipula mana mau mbak Fhira melakukannya karena didekat kita juga terdapat suaminya. Tentu saja resiko sangat tinggi jika suaminya sampai tahu mengenai hal ini. Sore harinya aqu mendapat kejutan keduaqu. Mbak Fhira datang berkunjung ke kantorku. Memang kala itu kantorku telah tutup dan tinggal aqu bersama dengan dua orang satpam diluar dan dua orang petugas cleaning service.

“Lho, mbak Fhira belom pulang? Ini khan telah jam 5 sore. Bukannya mbak Fhira selesai kerja jam 4 tadi?” kataqu sembari mempersilakan wanita cantik ini masuk kantor kerjaqu. Mbak Fhira tersenyum manis,
“Iya nih mas. Tadi saya telat pulang karena pembukuan akhir bulan masih menumpuk lalu saya kerjain aja sekalian biar besok lebih senggang waktunya. Kirain mas Ridwan belom selesai kerjanya ternyata telah ya…”

“Akh, ini mbak, biasa tender dengan klien telah selesai dan rapatnya diundur tiga hari lagi karena klien yg satunya berhalangan hadir. Sebenarnya sih jadwalnya pulang jam 6 nanti tapi kalau telah tak ada yg dikerjakan ya mau apalagi.” Kataqu menjelaskan.

Memang para karyawan telah pulang sejak jam 4 tadi sementara aqu tetap disini karena menghindari macet dan biasa mulai pulang jam 7 atau setengah 7 untuk menghindari kemacetan.
“Ohhgitu. Kirain sedang ada apa. Wah berarti saya mujur dong karena nggak ketinggalan hehehe…” kata mbak Fhira bercanda. Dalam hatiku sih aqu senang-senang saja malam ini dia pulang bareng denganku karena malam ini dia pakai pakaian yg sangat seksi. Kenapa harus dilewatkan, iya khan?

Kita lalu ngobrol berdua di ruangan kantorku sembari minum sereal hangat yg kubuat.Sesekali mbak Fhira mengalihkan silangan kakinya dari kiri ke kanan saat itulah aqu bisa melihat jelas celana dalam mbak Fhira karena kita duduk berhadap-hadapan.

Pahanya yg mulus putih itu semakin lama membuatku semakin tak kuasa menahan rasa ingin memeluknya dan mencumbu wanita cantik ini dan mengabaikan kalau dia ini istri orang lain. Jam telah menunjukkan pukul 6 malam. Masih tersisa waktu setengah jam lagi untuk kita berduaan.

Serasa hatiku ini tak rela untuk pulang dan ingin berlama-lama dengan wanita didepanku ini.Aqu tahu ini salah tetapi hasrat sebagai seorang lelaki membuatku tak dapat berpikir jernih.
“Mas, gimana kalau sembari menunggu jam tujuh kita makan dulu.Didepan kantor ada warung makan yg enak.” Usul mbak Fhira kepadaqu. Aqu sih setuju-setuju saja.

Lagipula perutku juga telah mulai lapar. Padahal biasanya aqu betah-betahin untuk menahan lapar sehingga sampai dirumah nanti bisa makan masakan istriku. Tetapi kali ini berbeda. Jadi juga akhirnya kita berdua makan di warung makan itu. Meskipun tak begitu besar tetapi bersih dan masakannya juga enak meskipun tak seenak masakan istriku tentunya. “Telah jam 7 kurang 15 menit.

Kita masuk mobil saja dulu sepertinya jalanan telah mulai longgar tuh.” Kataqu pada Mbak Fhira. Wanita ini mengangguk setuju dan akhirnya kita masuk ke mobil sedanku. Sebuah peristiwa tak terduga terjadi secara tak sengaja. Mbak Fhira tersandung saat akan masuk kedalam mobil. Badannya terhempas kedepan dan menindih aqu yg telah duduk di kursi. Untung saja kepalanya tak terantuk setir mobilku. Namun yg membuatku gugup adalah kepalanya pas sekali ambruk di atas selangkanganku.

Tanganku juga tak sengaja tertindih payudaranya yg besar itu.Entah apa yg merasukiku, tanganku tanpa dapat kukendalikan lagi meremas payudara wanita ini. Mbak Fhira melenguh pelan lalu bangkit dari terpuruknya. Wajahnya memerah sepertinya menahan malu. Aqu sendiri juga malu setelah sadar kalau batang kemaluanku ternyata telah tegang saat wajah mbak Fhira tanpa sengaja menyentuh selangkanganku ini. Kita berdua terdiam cukup lama di dalam mobil ini. Aqu mencoba membuka percakapan dan saat itulah kita bertatapan muka. Pandangan kita beradu cukup lama.

Entah apa yg mempengaruhiku, aqu mulai berani mendekatkan wajahku kepadanya. Sesaat kemudian bibir kita saling bersentuhan. Setan apa yg mendorongku aqu sendiri juga tak tahu. Yg jelas selang beberapa detik saja kita telah saling melumat bibir satu sama lain. Mobil itu menjadi saksi betapa panasnya ciuman kita berdua, diluar dugaan Mbak Fhira sangat mahir dalam berciuman. Dia juga tak sungkan ketika aqu menggunakan lidahku dalam berciuman.

Tak cukup hanya itu, tanganku telah mulai meraba payudara Mbak Fhira lagi yg saat itu masih berbalutkan pakaian kerja. Aqu copot jas kerjanya lalu satu demi satu kancing kemeja Mbak Fhira aqu lepaskan hingga sekarang tinggal breast houlder warna krem-lah yg menjadi penghalang mataqu dengan payudara indah wanita cantik ini. Remasan-remasan tanganku sepertinya telah berhasil membangkitkan gairah terpendam milik Mbak Fhira. Dia semakin liar saja. Bahkan tangannya telah berani mengusup kedalam celana panjangku dan hanya butuh waktu beberapa detik saja sebelom akhirnya dia berhasil menemukan batang kemaluanku yg memang bukan hanya telah tegang tetapi telah basah.

Mbak Fhira tersenyum begitu tahu kalau aqu juga terangsang berat. Lalu dia merebahkan kursinya dan mencopot breast houlder yg dia pakai sehingga aqu bisa dengan leluasa menikmati pemandangan indah tersebut. Payudara Mbak Fhira memang benar-benar besar. Sesuai dengan dugaanku yaitu F-Cup. Aqu tak sabar ingin meremas dan menciumi payudara indah tersebut beserta puting susunya yg telah tegang menantang itu. Sesekali badan Mbak Fhira membusung tiap kali aqu menghisap puting susunya yg mancung itu.

Tanganku meraba kemaluan wanita cantik ini dan ternyata celana dalamnya telah basah sekali. Tanpa pikir panjang segera ku singkap rok mininya itu sehingga tersingkap keatas lalu kutarik celana dalamnya hingga lepas. Sekarang bukan cuma payudara Mbak Fhira yg terlihat jelas tetapi juga kemaluannya dapat jelas kulihat. Wanita ini masih sedikit malu-malu ketika aqu berhasil melucuti celana dalamnya. Sebelah tangannya berusaha untuk menutupi kemaluannya yg tercukup rapi itu. Namun aqu tak ambil pusing, jemariku segera bekerja disana.

CERITA SEKS - Jari telunjuk dan jari kelingkingku membuka bibir kemaluan Mbak Fhira yg telah basah itu sementara jaru tengan dan jari manisku kuarahkan kedalam kemaluannya. Dengan gerakan menusuk-nusuk membuat mbak Fhira semakin kalang kabut dibuatnya. Desahan demi desahan tak terhindarkan lagi keluar dari mulutnya.

“Akhh..Mas..jangan disitu…akhhh…” desahnya lagi saat jemariku berkarya di lubang kewanitaannya. Cairan pelumas segera kembali meluber membasahi bibir kemaluan wanita cantik ini. Memang soal permainan jari aqu telah ahli. Istriku saja sampai kubuat orgasme dengan jari saja. Klitorisnya mulai menegang dan tanda dia akan orgasme semakin dekat saja. Beberapa menit kemudian berkat permainan jemariku di kemaluannya ditambah dengan cumbuan tangan dan bibir beserta lidahku di sepasang payudaranya, Mbak Fhira mencapai klimaksnya. Dia mendesah cukup keras sembari menahan jeritan nikmat. Bibir bawahnya dia gigit sendiri menahan sensasi kenikmatan yg meluap dari dalam dirinya. Badannya mengejang sesaat lalu setengah menit kemudian dia lemas.

Peluh membasahi badan seksi dan montok wanita ini. Mbak Fhira akhirnya mencapai klimaksnya hanya dengan petting saja. Aqu tersenyum melihatnya terduduk lemas di bangku mobilku yg telah disandarkan.

“Mbak Fhira benar-benar hebat. Mas Susilo beruntung punya istri secantik dan seseksi mbakFhira.” Pujiku.
“Aqu sebenarnya telah lama suka dengan mbak Fhira hanya saja selalu kutahan, sekarang aqu telah puas bisa bermesraan dengan wanita secantik mbak ini.” Pujiku lagi. Wajah mbak Fhira memerah entah karena pergumulan tadi atau karena menahan malu karena telah menyerahnya separuh dirinya padaqu padahal dia punya seorang suami yg menunggunya dirumah.
“Mas Ridwan ini memujinya koktinggi banget sih? Ntar aqu jadi ke ge-er-an lho. Lagian mas Ridwan khan juga punya istri cantik. Pasti mbak Nia juga setiap malam merasakan keahlian tangan mas Ridwan ini, beruntungnya mbak Nia ya…” ujar Mbak Fhira.

Aqu tersanjung dibuatnya karena dia mengaqui kehebatan jemariku ini. Belom sempat aqu bicara tiba-tiba tangan Mbak Fhira menyentuh kemaluanku lalu dengan cekatan dia mengocoknya perlahan.


Batang kejantananku yg sebelomnya telah setengah tiang sekarang kembali perkasa hanya dengan sedikit sentuhan dan rangsangan dari Mbak Fhira. Lalu tanpa kuduga Mbak Fhira mengarahkan bibirnya ke ujung kemaluanku dan menciumnya perlahan lalu lidahnya bermain di ujung kemaluanku itu dan pada akhirnya seluruh batang kemaluanku itu dilumatnya masuk kedalam mulut wanita cantik ini. Rasanya bagaikan di awang-awang. Disertai dengan rangsangan tangannya pada buah zakarku, mulut Mbak Fhira maju mundur seolah mengocok kemaluanku sembari dari dalam, lidahnya tak henti-hentinya melumat batang kemaluanku ini.

“Mbak Fhira…akhhh…” desahku menahan rasa nikmat. Tak butuh waktu lama sampai akhirnya aqu merasa akan mencapai klimaks. Lalu Mbak Fhira mencabut kemaluanku dari mulutnya begitu dia tahu kalau aqu telah nyari ejaqulasi. Aqu lalu mengarahkan kemaluanku ke belahan payudaranya.

Mbak Fhira lalu menggunakan himpitan sepasang payudaranya untuk mengocok batang kemaluanku ini.
“Keluarin aja semua mas. Aqu pengen mas Ridwan juga merasakan nikmat seperti yg aqu rasakan tadi.” Kata Mbak Fhira sembari sesekali menjilati ujung kemaluanku.
“Akhh..mbak…aqu keluar…akhhh…” racauku sembari kedua tanganku menekan pundak Mbak Fhira. Batang kemaluanku berdenyut sangat cepat lalu cairan putih kental menyembur membasahi sepasang payudara wanita cantik ini bahkan beberapa sempat menyemprot kearah wajah Mbak Fhira.
“Maaf mbak. Tadi nggak sempet aqu kontrol. Wajah mbak jadi kotor deh.” Kataqu meminta maaf. Mbak Fhira hanya tersenyum sembari membersihkan wajahnya dengan tissue sementara aqu membantu membersihkan payudaranya dengan tissue juga.

“Nggak apa-apa kok. Kalau mas Susilo sering nakal sih menyemprotkan didalam mulut tanpa bilang-bilang padahal saya nggak suka dengan rasanya, jadi pengen muntah mas.” Sahutnya pelan.
“Mungkin karena belom biasa aja kali mbak.” Kataqu. Padahal istriku sendiri juga tak pernah mau menelan spermaqu. Dia selalu marah-marah ketika aqu tanpa sengaja atau sengaja menyemprotkan cairan maniku kedalam mulutnya ketika melakukan oral seks. Akibatnya dia sering kali menolak melakukan oral seks tersebut. Jam telah menunjukkan pukul setengah delapan malam.

Kita lalu merapikan diri dan bergegas pulang. Sepanjang perjalanan aqu tak henti-hentinya meraba-raba payudara Mbak Fhira yg telah terbungkus oleh breast houlder itu. Wanita cantik itu hanya tersenyum melihat ulahku. Dia sempat membalas dengan meraba dan mengocok kembali kemaluanku namun karena aqu nyaris kehilangan kendali atas setir mobilku maka niatan itu dia hentikan. Sesampainya dirumah, Mbak Fhira langsung masuk kamarnya sementara aqu telah ditunggu istriku.

“Mas, kok baru pulang? Macet ya?” tanya istriku, aqu hanya mengiyakan saja. Seandainya dia tahu kalau aqu habis petting habis-habisan dengan Mbak Fhira entah apa yg akan dia lakukan. Malam itu istriku tumben tak meminta jatah malamnya. Tapi bagiku tak masalah karena aqu telah mendapatkan dari Mbak Fhira meskipun hanya sebatas blow job saja. Dua hari kemudian, tepat akhir pekan, pekerjaanku sepertinya telah selesai semua dan aqu mempunyai waktu luang cukup banyak. Semua laporan dan pembukuan telah ditangani dan sejak jam 12 siang aqu telah bebas dari pekerjaan.

Sebenarnya aqu bisa saja pulang namun aqu iseng ingin kembali mengulang kebersamaanku dengan mbak Fhira tempo hari. Iseng-iseng aqu telepon Mbak Fhira lewat telepon kantorku dan dia menyahutnya. Ternyata Mbak Fhira juga sedang senggang. Lalu kita makan siang berdua.

“Wah kebetulan mas, saya juga sedang nggak ada kerjaan. Maklum selama dua hari terakhir ini selalu lembur jadi semua laporan telah selesai. Mas sendiri habis ini mau kemana?” tanya Mbak Fhira diselang makan siang kita.
“Hmmm, nggak tahu yah. Tapi kalau Mbak Fhira memang udah nggak ada kerjaan gimana kalau kita keluar aja. Kebetulan tadi ada selebaran promo mengenai tempat karaoke yg baru. Tempatnya nggak begitu jauh dari sini dan katanya sih lumayan eksklusif gitu.” Ajakku. Dalam hati aqu berharap agar dia setuju. Mbak Fhira menghabiskan minumannya lalu beranjak berdiri.
“Boleh juga tuh mas. Ayo! Lagi pula dari pada bengong di kantor.” Dia setuju dan dengan hati gembira penuh pengharapan aqu melajukan mobilku kearah tempat tujuan kita. Ternyata tempat karaoke itu benar-benar eksklusif, jadi wajar saja kalau promonya juga besar-besaran di perkantoran.

Aqu lalu memesan kamar untuk kita berdua selama dua jam. Pelayan disana lalu menyajikan menu minuman dan makanan ringan untuk kawan karaoke kita. Setelah selesai administrasinya kita langsung menuju ke kamar yg dimaksud.

“Wah, gede juga yah. Ini sih bisa untuk delapan sampai sepuluh orang mas.” Kata Mbak Fhira kepadaqu. Memang sih kamarnya cukup besar dengan televisi LCD ukran 30 Inchi dan sound lengkap. Sofanya yg besar juga empuk bahkan pas buat tidur sekalipun….tidur? Ya, pikiran itu terbersit di otakku baru saja. Selama lima belas menit pertama kita hanya berkaraoke berdua sembari sesekali menenggak minuman dalam botol. Aqu tahu minuman itu mengandung alcohol sekitar 5% namun Mbak Fhira sepertinya tak sadar dan menganggap kalau muniman itu hanyalah soft drink biasa.

Setelah hampir dua botol minuman itu habis kita tenggak, aqu mulai melihat Mbak Fhira telah mulai pusing meskipun belom sepenuhnya mabuk. Bicaranya mulai sedikit ngelantur. Aqu mempergunakannya untuk mendekatinya.

Sengaja aqu mendekatkan wajahku dengan wajahnya dan sesuai dugaanku tak butuh waktu lama untuk akhirnya kita berdua berciuman dengan mesra atau lebih tepatnya dengan panas. Nafsu telah sampai diujung kepala dan tak tertahankan lagi. Baik aqu maupun Mbak Fhira masing-masing saling melucuti baju pasangannya.

Sejak awal memang aqu telah mengunci pintu kamar ini sehingga aqu telah bebas kekhawatiran jika ada orang masuk. Sekarang dihadapanku adalah Mbak Fhira yg telah bugil total. Dia tak mengenakan sehelai benang pun dibadannya begitu juga denganku. Kita lalu berpagutan mulut kembali. Lidah kita berdua saling melilit dan menjilat satu sama lain sementara kedua tangan kita bergerilya ke area rawan pasangan masing-masing.

Tangan Mbak Fhira mulai mengocok kemaluanku sementara tangan yg satunya mengelus dadaqu yg bidang ini.Sementara itu dia membiarkan kedua payudaranya aqu mainkan malah dengan tangannya dia mengarahkan sebelah tanganku yg satu lagi untuk menstimulsi kemaluannya yg sangat basah itu. Kembali Mbak Fhira merasakan kenikmatan permainan tanganku yg memang pernah membuatnya orgasme dua hari lalu.Sekarang tak ada lagi bunyi orang bernyanyi yg ada hanya bunyi desahan kitaberdua yg sedang berpacu dengan kenikmatan.

Aqu lalu merebahkan badan Mbak Fhira ke sofa yg lebar itu lalu mengangkat kedua tungkai kakinya dan menyandarkan kedua tungkai kakinya tersebut ke pundakku. Perlahan aqu mengarahkan kemaluanku kearah kemaluan Mbak Fhira, namun Mbak Fhira sepertinya sadar hal tersebut dan dengan kedua tangannya berusaha untuk menutupi kemaluannya agar aqu tak bisa penetrasi.


“Mas Ridwan,jangan! Aqu masih belom siap. Aqu nggak mau mengkhianati mas Susilo lebih dari ini.” Ujar Mbak Fhira sembari berusaha mencegahku. Namun nafsuku telah sampai diubun-ubun membuatku tak peduli lagi. Aqu lalu menindih badannya sembari kedua tanganku menarik tangannya keatas kepala Mbak Fhira dan mencekalnya supaya tak berontak lagi sembari bibirku terus menjelajah bibir, leher dan payudara wanita cantik ini. Akhirnya Mbak Fhira kehabisan tenaga untuk melawan, mungkin juga karena dia telah tipsy sebelomnya.

Wanita cantik itu hanya menyerah begitu saja ketika ujung kemaluanku mulai menyentuh bibir kemaluannya yg merah merekah itu. Dengan sedikit dorongan akhirnya kepala kemaluanku masuk juga kedalam lubang senggamanya diiringi dengan desahan yg keluar dari mulut wanita seksi ini.

“Mas Ridwan…akhhh…” desahnya sembari memalingkan mukanya kesamping mungkin Mbak Fhira malu karena kemaluanku sekarang telah menjebol batas kesetiaannya kepada suaminya. Sekarang kemaluan pria yg bersarang di kemaluannya bukanlah milik suaminya melainkan milik orang lain.

“Mbak Fhira, ternyata kemaluan mbak Fhira masih sempit ya. Mas Susilo pasti senang tiap hari dapat jatah dari Mbak Fhira.” Ujarku dan Mbak Fhira semakin malu dibuatnya. Wajahnya memerah dan tak ada satu patah katapun terucap dari bibir manisnya itu.
“Akhhh…pelan mas…” ujar Mbak Fhira ketika aqu mulai kembali mendorong masuk batang kemaluanku yg tersisa. Apa mungkin kemaluanku ini lebih besar dari milik Mas Susilo atau memang kemaluan Mbak Fhira yg memang sempit. Perlahan tapi pasti akhirnya aqu berhasil melesakkan seluruh bagian kemaluanku kedalam kemaluan Mbak Fhira.


Pelan-pelan aqu mulai menyodok-nyodok kemaluanku yg bersarang di lubang kewanitaan wanita cantik ini. Sekarang Mbak Fhira seolah tergolek tak berdaya di depanku. Aqu menindihnya dengan nafsu yg terus bertambah. Pompaanku yg semula pelan sekarang telah mulai cepat. Entah berapa kali pompaanku berhasil membuat ujung kemaluanku menyodok dinding rahim Mbak Fhira. “Akhh..mas..pelan-pelan!” ucap Mbak Fhira lirih diiringi desahan suaranya.

Suara seksi desahan yg keluar dari mulut wanita ini bercampur dengan bunyi kecipak cairan kedua kemaluan kita yg saling beradu. Suara khasorang bercinta ini memenuhi seluruh ruangan. Untungnya ruangan ini kedap suara, karena jika tak maka bisa terdengar diluar sana. Aqu mengangkat badan Mbak Fhira hingga kita sekarang duduk berhadap-hadapan sementara badannya aqu pangku dengan pahaqu. Aqu tak henti-hentinya mengangkat-angkat pantatnya agar kemaluanku tetap bisa memompa kemaluan Mbak Fhira sembari sesekali menggoyangnya kekiri dan kekanan sehingga ujung kemaluanku ini bisa menelusuri dinding lubang senggama istri Mas Susilo ini.

Namun tak butuh waktu lama sampai Mbak Fhira mulai terhanyut dalam permainanku dan dia dengan sukarela menaik turunkan selangkangannya sendiri sehingga sekarang aqu tinggal menikmati pelayanan Mbak Fhira ini. Dengan gaya women on top wanita ini semakin beringas saja. Aqu bisa melihat payudaranya bergoyang kesana kemari karena ukurannya yg besar sehingga menjadikan pemandangan seksi sekali bagiku karena milik istriku tak sampai sehebat itu berguncangnya.

Sembari tanganku meremas-remas payudaranya aqu ikut membombardir kemaluan Mbak Fhira dari bawah. Cairan kemaluan keluar deras dari kemaluan Mbak Fhira disertai badannya yg mengejang. Ternyata Mbak Fhira telah mencapai klimaksnya kali ini. Namun aqu masih belom puas, lalu aqu kembali menindih wanita cantik ini dan kembali menumpangkan kedua tungkai kakinya di bahuku dan menindih badan seksinya itu sehingga lutut Mbak Fhira sekarang menyentuh buah dadanya sendiri.

CERITA BOKEP - Lalu dengan tak kalah beringas aqu memompa kemaluanku didalam kemaluannya dengan cepat hingga beberapa menit kemudian aqu merasakan kemaluan kumulai berkedut keras dan akhirnya menyemburkan cairan putih kental di dalam rahim Mbak Fhira. Tak ada nada protes dari mulut Mbak Fhira meskipun kala itu dia tahu kalau didalam rahimnya telah penuh cairan spermaqu. Beberapa bahkan mengalir keluar lewat bibir kemaluannya. Tak ada pikiran taqut akan resiko hamilnya Mbak Fhira nanti. Kita berdua hanya memikirkan kepuasan hasrat kita saja.

Sepuluh menit kemudian kita lalu merapikan diri dan menyudahi acara karaoke ini meskipun baru satu jam kurang lebih kita menggunakan ruangan tersebut. Setelah menyelesaikan urusan administrasi kita segera cabut dari tempat itu dan pulang kerumah. Hanya ada diam selama di dalam mobil yg melaju kala itu. Mbak Fhira terdiam begitu juga dengan aqu. Mungkin Mbak Fhira menyesali semua keputusannya yg menyerahkan kesetiaan cintanya akan sang suami dengan hasrat seksualnya denganku.

Aqu sendiri diam karena bingung harus ngomong apa dengannya. Sesampainya dirumah kost, sepertinya rumah masih sepidan seluruh penghuni kost tak ada dirumah. Maklumlah karena semua penghuni kost merupakan karyawan dan jika ada pasangan suami istri tinggal disana juga adalah pasangan muda yg baik lelaki maupun wanitanya bekerja dan pulang biasanya jam 5 sore atau malam malahan. Berarti tinggal ada istriku Nia dan suami Mbak Fhira, batinku dalam hati. Ketika kita berdua melangkah dan mendekati kamar kita yg bersebelahan, aqu mendengar suara rintihan dan desahan dari kamar Mas Susilo dan Mbak Fhira.

Sepertinya Mbak Fhira juga mengetahui hal tersebut dan memintaqu agar berjalan perlahan. Bagaikan maling yg mengincar barang berharga, kita berdua mengendap-endap mendekati jendela kamar Mbak Fhira. Karena jendela bagian depan kamar tertutup rapat maka kita memutuskan untuk mengintip dari bagian belakang. Bagian belakang kamar mereka memang terdapat lubang kecil dengan ukuran sekitar 30cm-40cm yg dulu merupakan bekas exhause fan. Namun sekarang hanya tinggal lubangnya saja. Semakin dekat dengan lubang itu, aqu semakin mendengar jelas desahan yg keluar dari kamar itu. Itu jelas-jelas desahan seorang wanita tetapi siapa? Semakin dekat aqu semakin jelas dan tiba-tiba terbersit dalam benakku kalau desahan dan rintihan wanita itu seperti milik istriku, Nia.

Desahan tersebut sangat mirip sekali dan begitu aqu mengintip lewat lubang tersebut benar saja aqu kaget bukan kepalang. Aqu melihat Nia, istriku sedang disebadani oleh Mas Susilo. Keduanya telah dalam keadaan telanjang. Suara televisi yg di nyalakan tak dapat mengelabui suara desahan yg keluar dari mulut mereka berdua. Mereka sedang bercinta.

Istriku dengan posisi merangkak sedang Mas Susilo dibelakangnya terus membombardir kemaluan istriku dengan sodokan-sodokan kemaluannya. Badan istriku yg langsing dan putih mulus berkebalikan dengan badan Mas Susilo yg cokelat kehitaman dan sedikit gemuk. Mbak Fhira menahan rasa terkejutnya melihat suaminya bermain cinta dengan wanita lain.

“Akhh…masSusilo…terusss…masss..” desah istriku. Aqu tak percaya istriku meminta Mas Susilo agar terus menyebadaninya.
“Enak ya dik dientotin sama mas Susilo? Kalau sampai Mas Ridwan tahu gimana coba…hehe…” ujar Mas Susilo sembari menyodok kemaluan istriku dengan keras.
Istriku menjerit kecil, “Akhh…nggak apa-apa. Mas Ridwan juga jarang dirumah pulang baru…akhhh…nanti malam…” ujarnya kemudian keduanya berciuman hangat. Breast houlderk!!!

Keduanya kaget ketika pintu dibuka oleh Mbak Fhira.Memang Mbak Fhira mempunyai kunci duplikat untuk jaga-jaga seandainya dia pulang pas Mas Susilo sedang pergi. Keduanya kelimpungan mencari kain untuk menutupi badan mereka yg telanjang. Namun selimut yg diraih Mas Susilo telah buru-buru di serobot oleh Mbak Fhira.

Dalam kebingungan, istriku hanya menangis lalu menghambur kearahku dan bersujud dikakiku sembari berlinang air mata. Segala macam ucapan permintaan maaf keluar dari bibirnya. Dadaqu sesak melihat istriku yg telanjang ini telah habis di garap oleh orang lain selain diriku. Namun terbersit ucapan Iwan tempo hari mengenai variasi seks lalu aqu mencegah saat Mbak Fhira akan melabreast houlderk suaminya. Lalu meng-kode-nya agar dia tenang dan sepertinya dia tahu maksudku.

Lalu setelah menutupi tubu bugil Mas Susilo dan istriku kita menutup pintu kamar dan menanyai hubungan mereka berdua. Dari semua pengakuan mereka ternyata hubungan Mas Susilo dengan istriku baru berlangsung dua hari yg lalu ketika aqu telat pulang kantor. Sementara itu istriku telah terlanjur minum obat perangsang. Itu menjelaskan mengapa hari-hari sebelomnya dia begitu hangat, ternyata dia meminum obat perangsang dosis tinggi sehingga dia selalu minta jatah berulang kali padaqu dan dua hari lalu dia malah tak minta sama sekali, ternyata dia telah memperoleh jatahnya dari Mas Susilo, suami Mbak Fhira. Bahkan sampai 4 kali dalam dua jam.

Aqu lalu bertanya apakah mereka menggunakan pelindung waktu itu dan mereka menjawab tak karena istriku mengatakan dia telah meminum pil KB sebelom dan setelah berhubungan intim tersebut. Dia sama sekali tak sengaja bercinta dengan Mas Susilo jika bukan karena pengaruh obat tersebut.

Karena waktu itu Mas Susilo sedang datang untuk meminjam tang untuk memotong kawat sementara istriku tak tahu tempat penyimpanannya sehingga mereka berdua dikamar mencarinya. Kala itu istriku hanya mengenakan daster untuk tidur, karena memang dia rencananya akan menyambut kepulanganku. Tak disangka yg menuai malah Mas Susilo. Sore itupun mereka berdua bercinta habis-habisan. Dan peristiwa barusan juga karena istriku dan Mas Susilo berunding agar hal itu tak terjadi lagi namun karena rayuan Mas Susilo akhirnya istriku takluk juga untuk kedua kalinya. Dan mereka berdua bercinta habis-habisan lagi, hanya saja, kali ini telah ketahuan terlebih dahulu. Dengan berlagak marah aqu dan Mbak Fhira menghakimi mereka. Baik istriku maupun Mas Susilo sama-sama meminta maaf berulang kali dan tak ingin bercerai.

Bahkan Mas Susilo sampai menyembah-nyembah kita berdua agar memaafkannya. Sebuah ide yg telah lama tertanam diotakku langsungku keluarkan.
“OK kalau begitu. Karena kalian berdua telah sering bercinta maka sebagai balasannya aqu dan Mbak Fhira akan bercinta juga. Bukan cuman itu tapi kita akan berhubungan intim didepan kalian berdua.” Ucapku. Mas Susilo protes namun karena Mbak Fhira kembali menekannya maka dia hanya pasrah.

Akhirnya jadi juga aqu bercinta dengan Mbak Fhira. Siang itu aqu kembali memompa kemaluan Mbak Fhira kali ini dengan posisi doggy style seperti yg dilakukan istriku dengan Mas Susilo. Aqu sengaja memperlihatkan ekspresi wajah Mbak Fhira didepan suaminya yg masih bugil itu (baik Mas Susilo maupun Nia tak diijinkan untuk memakai pakaian mereka kala itu). Aqu tertawa dalam hati melihat kemaluan Mas Susilo yg menegang melihat istrinya aqu kerjai. Tak puas hanya menggarap Mbak Fhira sekarang aqu memanggil Nia agar bergabung. Sekarang Nia, istriku aqu minta untuk berbaring terlentang sementara diatasnya aqu minta Mbak Fhira dalam posisi merangkak.

Sekarang didepanku terpampang dua kemaluan siap sodok. Di bagian atas Mbak Fhira kemaluannya yg sempit dan basah itu sementara itu di bawahnya terdapat bibir kemaluan Nia istriku yg berbulu agak lebat itu.

“Akkhhh…mas Ridwan…ekkhhh…” desah Mbak Fhira ketika aqu menusukkan lagi batang kemaluanku kedalam kemaluannya. Lalu setelah beberapa kali pompaan aqu lalu mencabutnya dan mengarahkan kemaluanku ke kemaluan Nia istriku dan melesakkannya kedalam kemaluannya. Bergantian istriku dan Mbak Fhira merasakan kenikmatan sodokan kemaluanku. Mungkin karena aqu telah berejaqulasi sebelomnya sehingga permainanku kali ini jauh lebih lama.

Bergantian kedua wanita ini mencapai klimaks mereka. Istriku mencapai orgasmenya lebih dulu lalu setelah beberapa detik kemudian segera aqu alihkan sodokanku ke kemaluan Mbak Fhira dan kita berdua mencapai orgasme bersama. Sebagian spermaqu menyembur di kemaluan mbak Fhira lalu dengan cepat kucabut dan kumasukkan kedalam lubang kemaluan Nia istriku dan menghabiskan sisa spermaqu disana. Mbak Fhira lalu terkulai lemas di atas badan istriku.

Aqu punya ide tambahan lagi meminta mereka berdua berciuman.Adegan lesbi yg menggairahkan lalu aqu minta supaya keduanya kembali melayaniku meskipun kali ini aqu tak sampai orgasme. Aqu melihat Mas Susilo yg termenung melihat polah istrinya yg disebadani orang lain. Aqu kemudian menghentikan gerakan sodokanku di vagian Mbak Fhira.

“Mas. Kalau mas Susilo mau silakan pakai aja Nia untuk sementara ini. Dari pada bengong, aneh juga kalaupas ngentotin cewe ada yg nonton.” Ujarku kepadanya. Mas Susilo bingung tapi setelah itu sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Akhirnya kita menutup tragedy itu dengan sebuah swing party antara aqu, istriku, Mbak Fhira dan MasSusilo.

Sesekali aqu melihat Mas Susilo yg sedang asik menggarap badan molek istriku yg dibaringkan terlentang disamping badan Mbak Fhira yg memang sedang kutindih. Kita berdua berlomba mengerjai istri lawan kita masing-masing. Sengaja atau tidak, tapi aqu melihat istriku mencium mesra mas Susilo lalu Mbak Fhira membalasnya dengan menciumku lebih panas lagi.

Seperti lomba saja jadinya, hanya saja lomba kali ini adalah lomba seks. Entah telah berapa kali sperma tumpah di badan istriku atau dibadan Mbak Fhira. Baik kemaluan maupun bagian perut mereka berdua telah diselimuti cairan sperma baik dari milikku maupun Mas Susilo. Beberapa kali aqu bertukar posisi dengan Mas Susilo, dan baik Mbak Fhira maupun Nia sepertinya merasakan kenikmatan tersendiri ketika pergantian kemaluan tersebut.

Percintaan itu kita akhiri dengan pasangan resmi kita masing-masing. Mas Susilo menyemprotkan hasil ejaqulasinya yg ketiga sore itu di dalam kemaluan istrinya, Mbak Fhira. Sementara itu aqu menumpahkan sisa spermaqu yg mulai encer itu kedalam rahim Nia, istriku. Lalu kita berpelukan dengan pasangan masing-masing. Meskipun beberapa kali tangan Mas Susilo mencoba bermain-main dengan puting istriku. Entah petualangan kali ini apakah akan berlanjut ke hal yg lebih seru atau tidak, karena aqu dan Mbak Fhira jelas tak ingin menyudahi kenikmatan ini.


Selasa, 20 Februari 2018

Ibaku Dengan Ratih Yg Terlilit Hutang Berbuah Kenikmatan Tubuhnya


Ibaku Dengan Ratih Yg Terlilit Hutang Berbuah Kenikmatan Tubuhnya

Tante Lendir - Keliatan bukan Ratih yang tadi malam aku temui. Aku tersenyum melihat penampilannya yang tomboy itu. Setelah mencium bibirnya, aku gandeng tangannya, kami bergegas keluar kamar. Setelah mengembalikan kunci kamar di resepsionis, kami langsung masuk ke taksi. Ransel kuletakkan di tempat duduk depan. Ratih dan aku duduk di belakang. Taksi langsung tancap gas ke airport. Aku minta cepat dengan alasan mengejar jam.

Di dalam taksi, Ratih terlihat menikmati perjalanan. Wajahnya begitu berseri-seri. Dia menikmati kesibukan jalan raya yang kami lalui. Perlahan-lahan aku lihat matanya meredup. Dia pasti capek banget, pikirku. Aku tepuk pelan lengannya dan kuisyaratkan dengan tanganku ke bahuku, Ratih mengerti dan menyandarkan kepalanya ke bahuku.

Taksi melaju dengan cepat menuju airport. Tidak banyak halangan berarti di jalan. Sampai di airport, sebelum turun aku bangunkan Ratih. Sambil merapikan rambut dan pakaiannya, Ratih mengikutiku berjalan ke arah terminal keberangkatan. Sambil membawa ranselku, aku perhatikan loket-loket di terminal keberangkatan yang ada jurusan Denpasar.

Terlihat ada jurusan Denpasar, aku langsung menarik tangan Ratih, menanyakan jam keberangkatan dan harga tiket pesawat. Staf yang bertugas menyebutkan angka di bawah 500-an ribu per orang. Aku hitung sebentar, aku pikir uangku cukup. Apalah arti uang segitu, yang penting nyawa Ratih bisa aku selamatkan, pikirku lagi. Aku keluarkan kartu kredit dan minta diselesaikan pembayaran. Kebetulan keberangkatan 1 jam lagi, Ratih masih bisa beristirahat.

Aku lihat Ratih begitu bersemangat. Tidak ada ketakutan atau kecemasan di wajahnya. Hanya senyum yang terkembang lebar dan binar mata gembira yang aku lihat. Aku senang akhirnya Ratih akan keluar dari masalahnya. Aku mulai mengingat-ingat nama teman yang bisa aku minta tolong untuk mencarikan pekerjaan buat Ratih nanti.

Setelah tiket aku dapatkan, aku pegang tangan Ratih, aku gandeng ke tempat duduk tunggu penumpang yang akan berangkat. Bangku di tengah-tengah deretan terlihat masih kosong. Ada sandaran juga. Setelah Ratih duduk, aku dekatkan ranselku ke kakinya biar dia bisa selonjorkan kakinya. Lalu aku sandarkan punggungku. Sambil meluruskan kakinya, Ratih kembali menyandarkan kepalanya di bahuku. Waktu di hendak melepaskan topinya, aku larang.

“Pakai aja terus. Nanti di dalam pesawat aja baru lepas” bisikku.
“Siapa tahu di sini ada teman bos kamu atau ada orang yang pernah kamu kenal. Bahaya” bisikku lagi.

Ratih mengerti. Dia menganggukkan kepala lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. Setelah lebih kurang satu jam menunggu, aku dengar suara informasi dari pengeras suara yang memberitahukan pesawat dengan jurusan Denpasar akan berangkat dan para penumpang diminta bersiap-siap. Aku bangunkan Ratih. Dengan memanggul ranselku, aku gandeng tangan Ratih.

Perjalanan pesawat menuju Denpasar lancar dan kami tiba pada saat hari menjelang sore. Ratih tertidur dengan pulas di pesawat. Sekarang wajahnya terlihat lebih segar. Keluar dari terminal kedatangan, kami langsung masuk ke dalam taksi yang aku hentikan. Tak terasa beberapa menit lagi kami akan tiba di kamar kostku. Aku punya segudang rencana yang akan kulakukan untuk Ratih. Kulihat wajahnya yang berseri-seri.

Wajahnya celingukan kanan-kiri memperhatikan kendaraan yang lalu-lalang. Persimpangan jalan raya yang besar. Kesibukan di sepanjang jalan. Para turis yang berjalan kaki di sepanjang trotoar. Semua tak lepas dari pengamatannya. Karena begitu penasaran atau heran, Ratih memandang sambil memutar kepalanya ke belakang. Lalu menanyakan kepadaku setiap yang dilihatnya. Aku sedikit sibuk menerangkan dan menjawab. Sopir taksi senyum-senyum memperhatikan kami dari kaca spion di depannya. Kadang dia ikut menerangkan sambil tertawa-tawa.

Aku senang karena Ratih mulai melupakan masalahnya. Keceriaan di wajah dan kata-katanya yang kadang konyol meyakinkanku bahwa Ratih siap memasuki dunia yang baru. Dunia yang lebih cerah untuk masa depannya.

Pintu pagar rumah kostku terlihat. Aku bisikkan bahwa kami sudah sampai, Ratih bergegas dan merapikan pakaian dan memakai topinya lagi. Aku katakan dia sudah aman, gak perlu pakai topi lagi. Dia langsung tertawa. Kulihat argo taksi dan kulebihkan uang untuk tips si sopir.

Keluar dari taksi, aku sandang ranselku dan kugandeng tangan Ratih. Di depan pintu, aku peluk pinggangnya, setelah pintu terbuka, kupersilahkan dia masuk duluan. Hari menunjukkan sekitar pukul 4 sore. Untung aku terbiasa rapi. Jadi aku tak malu mengajak wanita masuk kamarku. Lima hari aku tinggalkan kamarku untuk pendakian ke Semeru. Rencananya aku mendaki bersama-sama mahasiwa pecinta alam dari Surabaya. Tapi mereka masih terkendala dana akhirnya aku berangkat sendiri.

CERITA SEKS - Kuletakkan ranselku dan kulihat Ratih langsung terbaring di tempat tidur. Aku maklum Ratih pasti sangat lelah. Kuhidupan pemanas air dan kutuangkan dua sachet kopi ke dua buah gelas untuk kami minum berdua. Lalu kunyalakan TV. Kukeluarkan semua pakaian di dalam ranselku dan keletakkan di atas tempat tidur. Ratih terlihat langsung tertidur pulas. Tanpa bermaksud membangunkannya, pakaian yang aku letakkan di tempat tidur menyentuh lenngannya. Dia langsung terbangun.

“Oh maaf, sayang. Gak sengaja” kataku.
“Kamu mau langsung tidur? Gak mandi dulu?” tanyaku.
“Capek, sayang” jawabnya pelan. Matanya masih tertutup.

Aku tersenyum. Sambil berdiri, aku elus lengannya. Aku lihat warna pemanas air sudah berubah. Air masak, pikirku. Aku tuangkan untuk dua gelas kopi. Lalu aku duduk di lantai sambil meluruskan kakiku. Sambil merokok. Aku nikmati tayangan di TV. Ratih tertidur pulas sekali. Dengan tidur miring begitu, kaki kanan disilangkan ke kaki kiri memperlihatkan bulatan pantatnya yang indah. Gak pakai CD, gumamku sambil tertawa sendiri.

Sekitar pukul setengah delapan malam, Ratih terbangun. Aku selesai merapikan pakaianku. Semua yang masih bersih sudah aku masukkan ke dalam lemari. Ratih duduk di tempat tidur sambil mengucek-ngucek matanya.

“Enak tidurnya, sayang?” tanyaku sambil mencuci gelas yang aku pakai untuk kopi tadi.
“Tuh kopi kamu. Udah dingin. Kamu tadi langsung tidur. Padahal aku buat dua gelas kopinya” sambungku. Aku letakkan gelasku di rak kecil.
“Jam berapa sekarang, sayang?” tanya Ratih sambil celingukan mencari jam dinding.
“Setengah delapan, sayang. Ayo mandi. Aku temani. Abis mandi kita beli makan malam ya” ajakku mengulurkan tangan ke arahnya. Ratih menyambut tanganku. Sambil berjalan ke kamar mandi, aku ambil handuk dari lemari pakaian.


Di dalam kamar mandi, setelah aku hidupkan lampunya aku masukkan tangan ke dalam bak kamar mandiku. Huuuuhh… lumayan dingin, gumamku. Dengan air kran yang mengalir, sedikit mengurangi dingin suhu air. Aku bantu Ratih membuka kemejanya. Aku buka retsleiting celanaku, aku lepaskan dan aku gantung bersama kemeja yang Ratih pakai. Ratih juga gantungkan celana pendek yang dipakainya.

Dalam keadaan telanjang bulat seperti itu, aku takkan bosan mengagumi keindahan bentuk tubuh Ratih. Tubuh sintal dengan kulit putih bersih. Bulatan belahan dadanya begitu sempurna dengan putting kecil yang berwarna merah kecoklatan. Lingkaran berwarna coklat muda di sekitar putingnya sangat mengundang lidahku menjilati. Pinggulnya membulat diimbangi dengan perut rampingnya membentuk lekukan huruf V di tengah selangkangannya. Berakhir di bulu-bulu tipis yang berurutan tumbuh mengarah ke samping kanan-kiri.

Sambil menunduk, aku cium bibirnya, tanganku mengambil air dari dalam bak. Aku guyurkan ke atas tubuh kami berdua. Ratih langsung memelukku erat sambil berteriak.

“Aaaaaah… Dingin, sayaaaang…” teriaknya megap-megap.

Aku tertawa melihat tingkahnya. Ratih memelukku erat sambil meloncat-loncat kecil. Air dingin yang aku guyurkan sangat menusuk kulit halusnya pikirku. Lalu aku ambil lagi dari dalam bak. Aku guyurkan lagi beberapa kali. Sambil mengulum bibirnya, aku sabunkan punggungnya. Sabun berganti-ganti dari tangan kiriku ke tangan kanan. Sambil aku sabuni punggungnya, aku remas-remas pantatnya dengan tanganku yang lain.

Ratih membalas ciumanku sambil memeluk tubuhku. Ratih memelukku dengan kedua tangannya masuk ke bawah ketiakku, dilingkarkan ke bahuku dari belakang lewat punggung. Tangannya menekankku agak menunduk. Ratih hanya setinggi bahukku.

“Ooooohhh… sayaaang… “ Ratih melepaskan ciumanku, mendesah dengan pelan sambil menyandarkan kepalanya ke dadaku.
“Enak banget ciuman kamu, sayang. Bikin horny berat” katanya sambil tersenyum menatapku.

Aku membalas senyumannya dengan meneruskan ciumanku. Sabun aku letakkan di dinding bak, kedua tanganku bebas meremas, mengelus bulatan pantat dan pinggulnya. Satu tangan Ratih mengelus punggungku, tangannya yang mencari batang kejantananku yang tertekan tubuhnya yang memelukku erat. Gesekan batang kejantananku di perutnya mungkin mengundang tangannya untuk mengukur seberapa keras berdiri. Ratih menggenggam sambil meremas-remas.

Lalu dikocoknya pelan-pelan. Ratih selalu gemas tiap memegang batang kejantananku. Dia meremas kuat-kuat setelah mengelus dari sela pahaku naik ke batang otot keras yang mengacung berdiri di sela pahaku. Batang kejantananku yang bersih bulu itu mungkin membuatnya betah mengelus dan meremas dengan bebas. Tanpa terhalang oleh bulu-bulu selangkangan. Tubuh kami yang berhimpitan rapat menekan buah dadanya ke dadaku. Tergesek-gesek karena gerakan tubuhnya yang menikmati aliran rangsangan ke selangkangan.

“Ooooohhhhh… Jilatin, sayang…” pintanya sambil menundukkan tubuhku lebih ke bawah.
Aku guyurkan dulu air dari dalam bak beberapa kali ke tubuhnya untuk membersihkan sabun yang akan menghalangi kenikmatanku mengemut bibir belahan di sela pahanya. Lalu aku menunduk dan jongkok di depan Ratih sambil meletakkan satu kakinya di bahuku. Ratih merapatkan tubuhnya ke dinding bak.

CERITA DEWASASatu tangannya pegangan di pinggir bak. Sambil meremas rambutku, Ratih mendesah-desah menikmati lidahku yang menggesek-gesek bibir dan belahan dalam di sela pahanya. Aku gesek-gesekkan gigiku pelan, aku hisap bibirnya lalu lidahku menjulur ke dalam sambil menggesek-gesek dinding kanan-kirinya. Aku keluarkan lidahku dari dalam belahan sela pahanya, aku jilatin gundukan tembem itu kea rah atas. Di bagian atas belahannya, lidahku berhenti lalu menekan-nekan lebih kuat daging kecil yang menonjol keluar di sela bagian atasnya.

“Ooooooohhhhh… Enak banget, sayaaaang…” Ratih melenguh keras. Tangannya meremas kuat rambutku. Tiap lidahku menekan atau menggesek area selangkangannya, pantat Ratih langsung bergerak maju-mundur dan berputar-putar. Terutama tiap mulutku mengemut sambil menghisap blehan sela pahanya itu.

“Ooooohhh… Enak, sayaaaang…” Ratih mendesah berulang-ulang. Aku lihat ke atas, kepalanya menengadah sambil memejamkan mata. Kakinya yang bersandar di bahuku bergerak menekan-nekan bahuku. Aku rasakan aliran cairan kental dari dalam sela pahanya. Sambil lidahku menggesek-gesek dinding belahan sela pahanya, aku jilat cairan kental itu. Lidahku terus menggesek-gesek dinding belahan sela pahanya sampai ke dalam-dalam. Tanganku mencengkeram pantat Ratih dengan kuat. Aku pegang sambil kuremas-remas.

Lalu aku berdiri, aku cium bibirnya sambil kuangkat satu kakinya. Ratih langsung melingkarkan kedua tangannya di leherku. Kemudian aku angkat satu lagi kakinya hingga akhirnya aku gendong. Kedua kakinya kutahan di tanganku, tangannnya memeluk erat leherku. Sambil menggendong, aku sandarkan pantat Ratih sedikit di dinding bak mandi. Yakin poisi bercinta kami aman, sambil mengangkat-angkat tubuhnya, batang kejantananku mulai mngocok-ngocok liang kewanitaannya dengan cepat. Kedua kakiku aku lebarkan. Ratih menyandarkan kepalanya di bahuku sambil mendesah-desah.

“Oooooohhh, sayaaang… Ooooohhhhhhh, sayaaaang…” desahnya berulang-ulang.

Sambil memperbaiki gendonganku, dengan tubuhnya yang sedikit terangkat, bibirku sekarang bisa menjangkau bibir Ratih. Dengan memeluk leherku erat-erat Ratih membalas ciumanku. Lidahnya terjulur ke dalam mulutku memilin dan menjilat lidahku. Bibirnya tak henti-henti menyedot bibirku. Aku balas dengan mengemut bibirnya juga. Lidahku juga kugesek-gesekkan dengan lidahnnya di dalam mulut. Tapi Ratih tak dapat menahan aliran kenikmatan dari belahan sela pahanya yang dikocok-kocok batang kejantananku.

“Oooooohhhh, sayaaaang… Aku mau keluar, sayaaaaang…” Ratih menjerit sedikit keras. Cepat-cepat aku cium lagi bibirnya. Meredam suara desahan kami yang sedang bercinta mungkin terdengar orang di luar kamar. Tapi Ratih benar-benar tidak dapat lagi menahan kenikmatan yang datang bertubi-tubi merangsang belahan sela pahanya.

“Oooooohhhh, sayaaaaang… Oooooohhh, sayaaaang…. Ooooohhhhhhh…” Ratih mendongakkan kepalanya menikmati aliran kenikmatannya keluar dari dalam. Dijepitkan kedua kakinya yang aku tahan dengan tanganku. Aku rasakan denyutan-denyutan bibir dan dinding belahan sela pahanya meremas batang kejantananku berulang-ulang. Cairan kental dari cinta kami berdua mengalir membasahi batang kejantananku yang terus mengocok-ngocok dari bawah.

“Ooooooohhhh… Enak banget, sayaaaang… “ Ratih menjatuhkan kepalanya bersandar di bahuku. Pelukan tangannya di leherku sedikit berkurang. Aku cium bibirnya dengan lembut. Berlawanan dengan kocokan batang kejantananku yang semakin kencang menyodok-nyodok dari bawah. Denyutan dinding belahan sela paha Ratih merangsang batang kejantananku. .

Aliran kenikmatan itu semakin memenuhi kepala batang kejantananku dengan cepat. Aku mungkin tidak dapat menahan lebih lama dorongan yang telah terkumpul di kepala batang kejantananku. Pantatku berdenyut-denyut kencang. Aku kencangkan otot pantatku. Tapi aku tak sangup lagi.

“Aaaaaaaahhhh… Ratiiih… Oooooohhhh, sayaaaaaang…” aku mendesah kencang. Kuangkat pantatku menekan ke atas, masukkan batang kejantananku lebih dalam di belahan sela paha Ratih. Aliran kenikmatan yang aku tahan dari tadi menyembur dengan kencang ke dalam belahan liang kewanitaan Ratih yang sangat aku cintai.

Sejenak aku diamkan batang kejantananku yang berdenyut-denyut memuncratkan cairan kental hasil percintaan kami malam ini. Aku masih merasakan dinding belahan liang kewanitaan Ratih terus berdenyut meremas batang kejantananku yang masih keras. Sambil menikmati aliran kenikmatan yang tersembur keluar hasil percintaan kami, aku cium lembut bibir Ratih. Lalu pelan-pelan aku turunkan tubuhnya.

“Suka, sayang? Enak tadi?” tanyaku sambil mengguyurkan air dari dalam bak ke tubuhnya lalu ke tubuhku.
“Selalu enak bercinta dengan kamu, sayang“ katanya dengan gembira. Senyum lebar terkembang di bibirnya. Aku cium lagi bibirnya. Kami bersih-bersih dan langsung berpakaian.

Kami makan keluar malam ini sambil keliling bermotor berdua menikmati suasana malam di daerah Kuta, Bali. Sambil makan aku memperhatikan Ratih yang memakai pakaianku. Akan banyak pengeluaranku untuk menata ulang hidup Ratih termasuk membeli pakaiannya. Ratih juga harus bekerja. Karena dengan bekerja, hidupnya akan semakin berkembang baik. Tapi hatiku gembira karena aku harus menyelamatkan hidup Ratih, seorang anak manusia yang butuh seseorang untuk membantunya meniti perjalanan hidup. Aku harus siap dengan segala beban dan resiko, pikirku sambil menghela nafas.

Sambil mengarahkan laju motor ke kost, aku nikmati hangatnya dekapan Ratih yang menyandarkan kepalanya di punggungku. Besok kami punya banyak kegiatan yang sudah aku rencanakan untuk masa depan Ratih. Aku sendiri masih memiliki dua hari lagi libur sebelum masuk kerja.


Minggu, 18 Februari 2018

Istriku Mengijinkanku ML Dengan Sahabatnya Yang Sudah Menjanda


Istriku Mengijinkanku ML Dengan Sahabatnya Yang Sudah Menjanda

Tante Lendir - Kisah ini terjadi beberapa bulan berselang saat kami sedang berada dikota B, kota kelahiran istriku, kebetulan kami mempunyai rumah disana dan saat itu liburan anak sekolah. Sudah 2 hari kami berada di kota itu, hampir seluruh sudut kota kami jelajahi dan anak anak juga sangat senang menikmati liburannya dengan mengunjungi berbagai lokasi wisata di kota berhawa sejuk itu.

Saat itu kami sedang berada disebuah factory outlet ketika sebuah suara terdengar
“Hey……, apa kabar ..?”
Seorang wanita berusia sedikit diatas istriku tiba tiba setengah berteriak menegur Anita,
“Eh.., Mira….apa kabar..” jawab istriku yang langsung menghampiri wanita itu dan mereka berpelukan.
“Pa…ingat kan..ini Mira….” kata istriku
“Tentu saja aku ingat…apa kabar..? “tanyaku menyalaminya

Mira adalah sahabat istri binal ku saat masih kuliah…, wajahnya khas sunda, tidak terlalu cantik, namun putih dan bersih, terakhir kami bertemu empat tahun lalu disuatu pesta di Jakarta, ketika itu ia datang dengan suaminya.., lupa..aku namanya…namun suaminya adalah seorang arsitek.

Kedua wanita lalu ngobrol entah apa yang dibicarakan namun tampak mereka bicara tak putus – putusnya, bahkan istriku nampaknya lupa kalau ia sedang belanja, dan akupun melangkah meninggalkan mereka dan menggandeng anak anaku meneruskan belanja kami, kubiarkan istriku melepas kerinduan dengan sahabatnya.

Sesaat kemudian kedua wanita itu menghampiriku dan Mira pamit mau pulang.
“Kasihan…ia sudah bercerai” kata istriku dimobil
“Lho..kok…? tanyaku
”Suaminya kawin lagi dengan wanita lain, dan ia tidak mau dimadu, ya akhirnya mereka cerai…sudah 3 tahun ia menjanda” panjang lebar istriku menjelaskan
“Lalu…?” tanyaku lagi
“Ya sudah…Mira sekarang membuka butik” jelas Anita

Percakapan berhenti sampai disitu karena anak anak mulai cerewet minta makan dan kamipun berhenti di sebuah restoran yang sejak dulu menjadi langganan kami.

“Pa.. Mira kusuruh kesini ya…, sebelum kita pulang, biar dia nginep disini…” istri binal ku membuka percakapan sore itu ketika kami sedang santai di teras rumah kami yang terletak agak dibagian atas kota

“Boleh” jawabku..dan sungguh …saat itu tidak ada satupun pemikiran yang aneh aneh melintas di benakku, aku sedang melepas semua pikiran tentang pekerjaan dan benar benar bersantai, lagi pula anak anak juga tidak mau tinggal diam…selalu ribut tidak karuan

Anita mengambil HP nya, setengah jam ia ngobrol dengan sahabatnya itu, dan menjelang pukul 8, ketika kami baru saja menyelesaikan makan malam kami, suara mobil memasuki halaman.

“Hai…..” sapa Mira ketika kami menyambutnya, malam itu ia nampak segar dengan celana panjang yang mencetak bentuk pantatnya dan atasan model sekarang yang agak gombrong itu, namun sampai saat itu kembali aku belum ‘memikirkan hal itu’ sama sekali..

Istriku segera menarik tangan wanita itu dan mengajaknya kedalam sementara pembantu kami membawakan barang bawaannya masuk rumah. Kebetulan rumah kami agak besar dan masih memiliki sebuah kamar yang tidak terpakai, dan kesitulah barang bawaan Mira diletakan. Malam itu aku masuk kamar duluan, setelah anak anak tertidur, sementara istriku masih asyik ngobrol dengan kawannya, dan tak lama kemudian aku terlelap.

Rasa hangat dan geli yang nikmat menyadarkanku, dan aku tahu kalau mulut istriku sudah mengulum batang kemaluanku yang segera berdiri walau aku sendiri masih setengah sadar, entah kapan celanaku sudah turun sampai kelutut aku benar benar tak tahu. Sesaat kemudian tanpa melepaskan mulutnya dari batang kemaluanku, celanaku sudah terlepas seluruhnya, dan menyusul baju lainnya.

Setelah saling mencumbu, menjilat dan bergumul, akhirnya dengan posisi diatas Anita memasukan batang kemaluanku kedalam vaginanya yang hangat itu dan mulai bergoyang, mula mula perlahan semakin lama semakin cepat, sementara mulutnya berdesis seperti orang kepedasan.

“Srrrt…” aku tak tahan lagi dan melepaskan air maniku duluan dalam vagina istri binal ku yang masih terus bergoyang mengejar puncak kenikmatannya, dan akhirnya beberapa puluh detik kemudian istriku melenguh dan mendesis desis ketika ia menggapai klimaxnya, untung …pikirku…telat sedikit saja kemaluanku sudah melemas dan bisa pusing dia kalau tidak berhasil mencapai klimaxnya.

Tubuh istriku ambruk diatas tubuhku, dan…plop…..kemaluanku terlepas dengan sendirinya, kami berciuman dan saling memeluk, yah…walaupun banyak petualangan kami namun setiap kali berhubungan sex ……..kami sangat puas dan nilai keintiman yang ada diantara kami kalau sedang berdua sangat berbeda dibanding kalau sedang ‘bertualang’.

Kami tidak banyak bercakap malam itu, capek setelah seharian berputar putar dan belanja serta nikmatnya sex yang baru saja kami rasakan membuat kami segera terlelap dalam selimut…. berpelukan telanjang bulat.

Pagi pagi aku sudah terjaga…, melihat istri binal ku masih tidur.. aku lalu mengenakan celana pendek dan kaos oblong, masuk kamar mandi yang ada di dalam kamr, cuci muka…lalu keluar keruang makan…mencari kopi. Saat melintas dapur kulihat Mira sedang asyik mengaduk kopi digelas…dan ketika melihatku Mira tersenyum…

CERITA DEWASA - Mira hanya mengenakan baju tidur yang agak tipis… dan buah dadanya yang saat itu tidak menggunakan bra…membayang jelas…, masih pagi.., baru bangun……. melihat pemandangan seperti itu…langsung saja ‘adik kecil’ diselangkangan berontak keras….

“Mas…kopinya suka manis ?” tanya Mira
“Lho..kok… mana pembantu.. masa kamu yang bikin ..?” tanyaku
“Kusuruh kepasar….Mira ingin masak kalau boleh… tanya Anita deh…. hobby Mira kan masak..” jawabnya.

Ingin kutanya ‘hobby’ nya yang lain..tapi mengingat ia teman istriku dan aku belum diberi tanda oleh istriku aku menjaga lidahku supaya jangan nakal….

“Jangan terlalu manis..ah…. nanti bisa diabetes…” jawabku, hampir…saja kulanjutkan…’kalau diabetes bisa impoten…rugi …’ tapi kembali kujaga lidah ku..

Siang itu aku bersantai dikamar sementara istri binal ku dan Mira asyik memasak…, anak anaku juga asyik dengan urusan mereka masing – masing dikamarnya

“Hey….makanan sudah siap.”teriak istriku dan hawa dingin kota Bandung serta suasana yang nyaman sungguh membuat kami lapar……

Mataku sempat menelusuri tubuh Mira yang tampak sibuk mengambilkan nasi, menyiapkan lauk pauk dan dengan tank top ketat, celana jeans yang dikenakannya mencetak bentuk tubuhnya, sesungguhnya wanita ini bukan wanita yang akan kita pikirkan, berusia menjelang pertengahan, wajahnya biasa saja tidak terlalu cantik, tubuhnya juga sudah tidak sekencang gadis muda..

Namun kulitnya sangat putih dan bersih, dari wajah serta penampilannya serta cara bicaranya terlihat jelas kalau ia bukan ‘petualang’, dan yang agak ‘mengganggu’ pemikiranku adalah sdh 3 tahun bercerai…’jangan jangan sudah rapat kembali’

Pepes ikan mas, sayur asam, sambal dan ayam goreng yang nikmat dalam waktu singkat bersih tandas dan beberapa saat kemudian aku sudah terbuai dalam mimpi, entah apa yang diperbuat istriku, sahabatnya dan anak anak sudah tidak kupedulikan lagi.

Setelah mandi sore kami menyempatkan diri pergi ke mall, beli jagung bakar, makan malam dan menjelang Pk. 9.00 malam kami sudah kembali kerumah…anak – anak langsung masuk kamar dan sesaat kemudian suasana sudah sepi… Aku sedang membaca dikamar ketika istri binal ku masuk dan duduk disampingku, dengan wajah yang berbinar-binar ia berkata

“Pa..menurut papa Mira bagaimana..?” tanyannya tiba tiba.
“Bagaimana apa…”tanyaku
“Ah…mama kan melihat papa memperhatikan Mira, waktu makan siang tadi, …minat….?” lanjut istriku

“Mmmmm bukan gitu” lalu kusampaikan isi pemikiranku siang tadi dan istriku mencubitku “buktikan mau ? lubangnya masih ada atau nggak..? jawab Anita.
“Mm……….tapi kan dia teman mama dan belum tentu memahami gaya hidup kita” jawabku, langsung saja ada yang terasa bergerak diantara pahaku…’kalau iya lumayan kan…’pikirku

Sudah terlalu lama istriku mengenal diriku…kali ini dia yang menjadi ‘pengatur laku’ “sudah..pokoknya papa.. nurut saja. ya…nggak rugi deh…” lalu sambil mencium pipiku ia beranjak keluar kamar… Aku mencoba kembali ke bacaanku, namun konsentrasi ku sudah buyar..

Sekitar lima belas menit kemudian pintu kamar terbuka dan masuklah istriku serta Mira yang sudah berganti pakaian dengan daster, wajahnya tampak segar dengan rambut diikat kebelakang sementara dadanya tampak menggantung lepas..sayang daster batik yang dikenakannya agak tebal..sehingga tidak ada bayangan yang timbul…

“Ngobrol disini saja ya Mir…, pa boleh kan Mira ngobrol dulu disini ..?,” pembantu belum tidur lagi nonton TV, dikamar Mira nggak enak, nggak ada Exhaust Van nya”…, memang terkadang istri binal ku merokok, terbayang kan kalau asap rokok dikamar tidak bisa keluar..?

“Walau awalnya agak canggung namun sebentar saja pembicaraan kami sudah relax, Anita duduk disisiku dan kami duduk diranjang bersandar santai, sementara Mira duduk diujung ranjang…., kami ngobrol segala hal sampai suatu saat istriku bertanya..(aku yakin dia sudah bertanya sebelumnya…tapi diulangi lagi untuk ku),

“Mir…kalau boleh tahu….kamu kan sudah pisah 3 tahun sama mantan mu…, nah kalau ‘kepingin… itu..’ bagaimana kamu mengatasinya…? tanpa tedeng aling aling Anita bertanya yang membuat wajah Mira merah bagi kepiting rebus.

“Ya…gitu deh……….., udah ah….kok nanya in yang begituan sih…….” jawab Mira tersipu.


Tiba tiba Anita bangkit, lalu mengambil lap top yang biasa kugunakan, meletakannya dipangkuannya dan…menyalakannya serta memanggil Mira mendekat… Aku hanya memperhatikan apa yang dilakukan istriku…walau aku tahu apa yang ada dipikrannya, sekejab kemudian terdengar suara Mira berteriak kecil…

”Ih…gila ya kamu……..” sambil melirik kearahku.

CERITA SEKSBerkali kali terdengar jerit tertahan Mira saat melihat apa yang tersaji di laptop ku, ya..kumpulan gambar photo ‘petualangan’ kami…bermacam occasion yang sudah ku compile dalam suatu album, ada yang istri binal ku sedang ‘dikeroyok’, ada yang sedang swinging dengan pasangan lain dan macam macam lainnya.

“Sebentar ya…” kata Anita yang lalu beranjak ke kamar mandi Mira tidak menjawab namun matanya terus menatap layar lap top dengan wajah yang berubah ubah..antara percaya dan tidak..antara ingin tahu dan tertarik….ia masih asyik menscroll gambar gambar itu dan Anita yang sudah kembali duduk didekatku…tangannya langsung menyusup kedalam celana pendek yang kukenakan.

Istri binal ku kalau merangkul leherku, mencium bibirku..lidah kami saling bertautan dan tangannya dengan nakal memainkan kemaluanku yang masih tersimpan didalam celana pendek yang kukenakan…beberapa saat kemudian celana yang kukenakan sudah terlepas…

Ketika Mira menengok…ia terpana….karena saat itu istriku sedang asyik menjilat dan menghisap batang kemaluanku…dan ketika istriku melihat bahwa sahabatnya memperhatikan nya…ia menghentikan gerakannya dan memberi tanda agar mendekat…. dan entah sadar atau tidak Mira mendekati kami duduk disamping tempat tidur.

Tiba –tiba istriku menarik tangan Mira dan meletakannya di batang kemaluan ku yang sudah mengeras. Tangan yang terasa dingin bertemu dengan batang kemaluan yang sangat panas… memberikan sensasi padaku.. dan benar seperti kata istriku…….

Mira sudah terlalu lama tidak menyentuh laki laki…, sesaat kemudian dua mulut mungil menjadikan batang kemaluanku sebagai ‘mainan’, saat Mira menghisap kepala kemaluanku istriku menjilati bijiku dan begitu bolak balik… kujulurkan tanganku… kutarik Mira agar merayap keatas dan sesaat kemudian bibirnya sudah berpagutan dengan bibirku…

Ketika dasternya kulepas..buah dadanya terpampang jelas…puting susunya lebih besar dari istriku merah agak kehitaman, kontras dengan kulit putihnya…, dan walau sdh tidak terlalu padat dan agak turun sedikit namun asyik juga.

Mulutku melumat puting susu yang sudah mengeras itu dan tanganku menyusup ke bawah pusarnya…terasa selangkangan yang lembab agak basah…dengan bulu bulu yang cukup lebat. Istri binal ku yang mengerti apa yang kuinginkan, menghentikan gerakannya menjilati kemaluanku..lalu memberi kesempatan padaku untuk mengubah posisi.

Kubaringkan Mira telentang..dan kucium bibirnya… lalu perlahan jilatanku merambat turun… lehernya, pundaknya dan buah dadanya ganti berganti kujilati dan kuhisap putingnya sementara ia hanya memejamkan mata mengerang lirih….

Lidahku turun terus kebawah…dan ketika sampai di perutnya ia mulai menggelinjang… kuambil bantal.. kuminta ia mengganjal pinggulnya dan kini aku mulai konsentrasi pada vagina yang merekah membasah itu.

Dengan kedua tanganku kusibak bulu bulu di area itu…. kubuka vaginanya… dan lidahku mulai menari nari di klitorisnya…, sesekali menerobos masuk dan kembali menjilat, menghisap dan menjilat.. Anita yang rupanya tidak tahan dari belakang juga ‘menyerang’ku.

“Ssshh….. aduh…. sdh nggak tahan……”

Sesekali kepalaku dijepitnya dengan pahanya..dan aku mengerti..sudah terlalu lama ia ‘haus’..maka ketika aku menyudahi permainan lidahku dan merayap naik ketas tubuhnya dengan serta merat tangannya menyambut dan memelukku, dan setelah batang kemaluanku terarah tepat dengan perlahan mulai kubenamkan… Mira mengerang…. membuka pahanya semakin lebar,… setelah kepala kemaluanku masuk…dengan satu hentakan yang diiringi desahan keras dari wanita ini kubenamkan batang kemaluanku hingga habis.

Kubiarkan sesaat kemaluanku terendam dalam vagina yang sangat hangat namun ‘legit’ itu, memang sih kelebihan wanita jawa barat umumnya bisa membuat vaginanya enak..tidak kering agak basah sedikit, tapi legit.. atau mungkin pengaruh suka makan lalaban?.. dan baru kemudian kutarik sedikit…lalu kubenamkan lagi..demikian berulang – ulang… sementara Mira memeluk dan kakinya bahkan melingkari pinggangku…

Tiba kurasakan sensasi lain…wah……. ternyata istri binal ku mengusap dan memegangi bijiku saat batang kemaluanku bergerak memompa naik turun di vagina Mira, bahkan sesat kemudia bukan lagi usapan yang kurasakan namun ….. jilatan…. gila……………. rasa nikmat yang luar biasa menyerangku …………, batang kemlauanku terbenam dijepit kemaluan Mira dan lidah Anita menjilati bijiku..sesekali batangku terjilat saat tertarik keluar…..

Aku tahu kalau begini terus tidak lama lagi pasti tumbang…….. maka, ku rubah posisi, tanpa melepaskan batang kemaluanku dari vaginanya , kubalik posisi hingga Mira kini diatasku, kini aku punya ‘mainan’ tambahan’, buah dada yang bergoyang dan menggayut diatasku dengan leluasa kuremas…, sesekali putingnya kuhisap…, disisi lain istriku juga jadi lebih leluasa ‘menggarap’ kemaluan ku yang sedang menyatu dalam vagina sahabatnya itu.

Mira mulai bergerak teratur….mungkin terlalu lama tidak merasakan kemaluan laki laki membuatnya tidak tahan terlalu lama….. ia naik turun diatasku dengan teratur…semakin lama semakin cepat..kemaluannya mulai menghangat…

dan aku ‘membantunya’ dengan menghisap puting susunya…..dan akhirnya dengan satu teriakan tertahan ia melemparkan kepalanya kebelakang..mencengkeram pundaku dan mendesah lirih…”Ah…ssss…………….hhh…………. ….. ah…….. aduh….. keluar………..” lalu ia ambruk diatas dadaku.

Kucium bibirnya dan dengan perlahan ia kurebahkan kesamping…, sesungguhnya aku yakin kalau kuteruskan sedikit lagi ia masih bisa menggapai satu klimax lagi walau tidak sedahsyat yang barusan..namun aku juga tahu kalau istri binal ku sudah menanti.. Kusuruh Anita menungging dan dari belakang batang kemaluanku yang masih basah kuyup dengan lendir Mira menerobos memasuki lubang vagina istriku..yang juga sudah basah….

Kami sudah mengenal satu dengan lain sangat baik….maka irama yang berkembang sudah dalam kontrol kami dan karena desakan di bijiku sudah sedemikian mendesak… kuberi tanda pada Anita untuk meningkatkan ‘speed’ dan akhirnya… srrrrt….. creeet………. air maniku menyembur deras mengisi vagina istriku sementara istriku juga mencapai klimax pada saat yang sama dan mendesah desah keras.

Cukup lama kami terdiam dan berpelukan bertiga dalam keadaan telanjang, ganti berganti kedua wanita itu mencium bibirku dan tangan mereka mengelus serta mengusap ngusap kemaluanku yang masih basah itu…, namun juga masih susut.

Belum terlalu rasanya beristirahat Mira sudah mulah memainkan kembali mulutnya di selangkanganku sementara Anita berjongkok diatas wajahku dan lidahku langsung saja menerobos masuk ke lubang vaginanya……, vagina istri binal ku walau sudah banyak yang ‘menikmati’ namun tetap terawat dan terasa nikmat…

juga klitorisnya masih tetap mungil kemerahan….sekitar lima menit kami dalam posisi itu sebelum berbalik… kini kembali aku diatas Mira yang dengan melebarkan kakinya menerima kemaluanku dan Anita memelukku dari belakang menjilati leher dan belakang telingaku.. kadang lidahnya turun ke bawah hingga ke belahan pantatku….

Aku menggenjot Mira yang terlentang dibawah tubuhku dengan teratur dan pada irama yang tetap, bibir kami saling bertemu dalam ciuman yang panas… istriku mengelus dan mengusap usap bijiku yang memberikan sensasi nikmat dan seperti tadi………… Mira yang masih haus itu kembali mencapai klimax duluan…..

”Mas……….ah……. cepet…. cepet.. .aduh………… enaaaak..hhh………” dan setelah seluruh tubuhnya menegang ia tergolek lemas, aku berhenti sebentar tanpa mencabut kemaluanku yang masih terbenam dalam vagina yang berdenyut denyut itu…….

dan semenit kemudian mulai lagi kugerakan maju mundur secara teratur….”waw………. geli…. ah…….. aduhh.. …………” Mira merintih dan mendesah….namun aku meneruskan gerakanku dengan cepat mengejar ejakulasi kedua yang ingin kugapai…dan

“Aduh…….keluar… lagi…… ah……” dan istriku juga semakin giat mengusap dan meremas bijiku dan ketika aku merasa tak tahan lagi……kucabut kemaluanku dari vagina Mira dan istri binal ku segera membuka mulutnya menerima kemaluanku yang basah penuh lendir itu.

Tidak sampai dua menit, aku setengah menjambak rambutnya menembakan air maniku dalam mulut Anita yang tanpa ragu langsung menelannya., Setelah melemas, kemaluanku dilepas dari mulutnya namun bukan berarti berhenti karena lidahnya masih terus menjilati hingga batang kemaluanku bersih dari cairan.

Sekali ini aku perlu waktu setengah jam untuk dapat ‘bangkit’ kembali…. dan setengah jam lebih dikocok dalam vagina Anita untuk kemudian melepaskan isinya yang sudah semakin sedikit dalam vagina yang sejak awal ‘belum sempat diisi’ air maniku

Entah jam berapa Mira kembali ke kamarnya karena saat aku berada dalam pelukannya dengan wajahku terbenam diantara buah dadanya…aku terlelap. Saat terjaga paginya aku diberi ciuman yang amat manis dari istri binal ku…sambil berbisik

”Mira bilang terima kasih, punya papa jauh lebih enak dari mantannya dulu katanya..”

Aku hanya tersenyum karena benar benar merasa ‘habis…..’, terkuras energi dan air maniku…., Hampir tengah hari baru aku beranjak dari tempat tidur setelah anak anak ribut tidak karuan mengajak pergi.


Tak Sanggup Melayani Suami Yang Hiperseksual


Tak Sanggup Melayani Suami Yang Hiperseksual

Tante LendirAku benar-benar dibuat kewalahan saat harus melayani suamiku di atas ranjang. Tak henti-hentinya dekapan erat disertai napas yang memburu, acapkali mengiringi permainan seks kami. Peluh mengalir dengan derasnya, goyangan-goyangan maju mundur yang seakan-akan tidak akan ada habisnya dari bagian bawah tubuh suamiku membuatku tidak mampu lagi menahan kenikmatan yang kurasakan ini, aku hanya bisa berdesah-desah dan mencengkeram dengan eratnya kain sprei ranjang tidurku sebagai pertahanan terakhir dari sisa-sisa tenaga yang masih tertinggal.

Tangan-tangan suamiku sementara itu masih meremas-remas payudaraku dengan cepat namun lembut, dan tangan yang satunya lagi membelai-belai pahaku yang masih terkulai lemah di atas punggungnya, semakin cepat goyangan penisnya, semakin nikmat yang kurasakan, dan semakin tubuhku kehilangan kekuatannya, mataku sampai-sampai tak mampu kubuka kembali, pada hentakan-hentakan berikutnya.

Aku benar-benar tidak berdaya, aku sudah lemas menahan orgasme yang berulang-ulang kali kurasakan pada malam ini, aku pasrah, aku sudah tidak mampu berbuat apa-apa, apalagi menggerakaan tubuhku, aku hanya bisa menahan napas dan merintih menahan nikmat saat orgasme kembali membawa tubuhku ke alam surgawi dunia.

Mulutku seakan ingin meminta kepada Denny untuk menuntaskan permainan seksnya, namun kondisi tubuh suamiku yang masih terlihat fit, membuat aku harus bertahan beberapa jam lagi, sampai suamiku mendapatkan orgasmenya.

Setelah tiga ronde, kami bertempur dalam birahi. Aku tidak mampu membayangkan apalagi yang bakal kualami, Jika Denny kembali meminta jatahnya kembali, mungkin aku hanya bisa telentang pasrah. Akhir-akhir ini suamiku memang senang bertindak yang aneh-aneh dalam melakukan hubungan seks. Pertama sih gayanya sangat lembut.

Mengulum senyum, merangkul, kemudian mencumbuiku. Tetapi setelah itu aku akan tidak dapat lagi menahan seluruh serangan-serangan dan gaya permainan seksnya. Tetapi akhir-akhir ini setelah suamiku memakai shabu-shabu, konsumsi seksnya semakin bertambah, dan permainannya pun menjadi semakin liar dan menggebu-gebu.


CERITA SEKS - Sampai saat ini akupun masih kewalahan untuk melayani birahi seks suamiku, sampai-sampai jika aku merasa tidak kuat lagi menghadapinya, aku akan mencoba mengalahkan nafsunya dengan melakukan oral. Semakin sering aku melakukan oral semakin aku mengetahui titik-titik kelemahannya.

Aku akan menyedot dengan kuat-kuat terutama dibagian kepala penisnya, sembari tanganku dengan cepat melakukan gerakan-gerakan kocokan, mulutku berputar-putar untuk merangsang bagian kepala penisnya, setiap beberapa saat aku mengintip perubahan wajah suamiku, bila dia mulai meringis menahan nikmat, apalagi sampai memejamkan matanya.

Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, aku akan mengulum kepala penisnya dengan dibantu gerakan menyedot, tanganku akan semakin cepat mengocok-ngocok batang penisnya. Sampai pada akhirnya kurasakan cairan sperma hangat menyemprot dengan derasnya di mulutku disertai teriakan-teriakan kecilnya.

Aku akan menyedot sekuat-kuatnya semampuku sampai spermanya tidak keluar lagi, lalu kebuang spermanya dan kemudian kulanjutkan menyedot kembali kepala penisku, Biasanya dengan serangan beruntun seperti ini, biasanya suamiku akan mulai melemah dan tidak akan mampu melanjutkan permainannya ini.

Tetapi jurus-jurus seperti ini tidak selalu berhasil dengan baik, kadang-kadang kondisi suamiku terlalu fit, sehingga aku tidak mampu menaklukannya dan aku akan dibuat tidak berdaya kembali dengan jurus-jurus permainan seks nya. Sering dalam satu hari suamiku meminta jatahnya sampai dengan tiga kali.

Bahkan apabila aku sudah tidak kuat melayaninya, suamiku tetap melampiaskan nafsunya dengan melakukan masturbasi. Aku benar-benar tidak kuat menghadapi suami yang hiperseksual ini.


Kenikmatan Luar Biasa Threesome Dengan Istri dan Mantanku


Kenikmatan Luar Biasa Threesome Dengan Istri dan Mantanku

Tante Lendir - Cerita ini aku alami waktu berlibur di kota S bersama istriku. Saat itu aku ketemu mantanku waktu kerja di kota itu. Namanya Maya, sebut saja demikian. Aku dan istriku waktu itu menginap di hotel ‘S’, kami berdua sudah hampir 3 hari menginap untuk sedikit refresing dari kota J.

Hari keempat setelah usai makan malam, aku dan istriku mulai iseng seperti biasa suami istri saling cium, saling hisap walaupun dengan pakaian setengah telanjang, namun nafsu liar kami berdua tidak ada habis-habisnya (maklum tiap hari pikiran ini dipenuhi pekerjaan kantor, jadi wajar kalau tiap hari waktu liburan kami senantiasa berhubungan).

Kata teman-temanku aku punya libido seks tinggi atau nafsu liar, makanya istriku kadang-kadang tidak kuat meladeni diriku di ranjang. Tengah asyik-asyiknya kami penetrasi pintu kamar hotelku diketuk, aku langsung beranjak tanpa mempedulikan istriku yang sudah ngos-ngosan tidak karuan.

Betapa terkejutnya aku waktu kubuka pintu, sesosok badan montok berdiri di depanku dengan celana jeans ketat dan kaos putih ketat terawang. Aku hampir terpesona “Maya..” kataku setengah gugup. “Ayo masuk,” pintaku, tanpa sadar aku sudah setengah telanjang (walau hanya memakai celana pendek waktu itu). Dia mengikutiku masuk ruangan hotel, istriku pun tengah rebahan dan hanya ditutup oleh selimut hotel.

“Ini Maya, Mah kenalin,” mereka pun saling berjabat tangan.
“Oh, kalian sedang asyik yah, maaf kalo aku mengganggu?” kata Maya kemudian.
Kami pun agak kikuk, namun Maya dengan santai pun berkata,
“Lanjutin aja, cueklah kalian kan sudah suami istri, ayo lanjutin aja!”

Aku dan istriku heran melihat hal itu, namun dengan sedikit kikuk tanpa aku pikirkan siapa dia, aku mulai lagi penetrasi dengan istriku (walaupun agak canggung). Kulumat bibir istriku, turun ke bawah di antara dua payudara nan indah yang kumiliki selama ini (ukurannya sih 34B) kujilat-kugigit puting susu istriku, dengan terpejam istriku mendesah,

“Aaahh.. aahh..” dia pun tidak memperdulikan sekelilingnya juga termasuk Maya.

Mulutku mulai turun ke arah di lubang kemaluan istriku dengan tangan kanan dan kiri meremas-remas kedua payudaranya. Kujilati lubang kemaluan istriku, dia pun mulai bergoyang-goyang. “Mas.. itilnya.. aahh enak.. Mas.. terus..” Aku sempat melirik Maya, dia pun melihat adegan kami berdua seakan-akan ingin ikut menikmatinya.

“Mas, ayo mulai.. aku.. udah nggak.. kuat.. nih..” lalu penisku yang sudah mulai tegak berdiri mulai masuk ke lubang vagina istriku, “Bleess.. sleepp..” begitu berulang-ulang, tiba-tiba tanpa aku sadari Maya sudah melepas semua penutup tubuhnya, dia beranjak dari tempat duduk dan mendekati istriku, dilumatnya bibir mungil istriku. Edan! pikirku, namun ini memang pengalaman baru bagi kami berdua dan lebih ada variasinya.


Istriku pun ternyata membalas ciuman Maya dengan bergairah, tangan Maya pun asyik memainkan puting susu istriku. Hampir satu jam aku naik-turun di tubuh istriku, dan tubuh istriku mulai mengejang “Mas.. aku.. ke.. lu.. aagghh..” Tubuh istriku tergeletak lemas di ranjang, Maya tahu kalau aku belum sampai puncak, ditariknya diriku agar duduk di tepi ranjang, dengan penis yang masih tegak dan basah oleh sperma istriku.

Maya mulai menjilati penisku dengan bergairah, “Enak Mas cairan istrimu ini,” katanya. Istriku yang melihat hal itu hanya senyum-senyum penuh arti, Maya masih dengan bergairah mengulum-ulum penisku yang panjang dan besar itu, “May, aku pengen..” Dia tahu apa yang kuminta, tanpa bertanya pada istriku Maya naik di antara kedua kaki, rupanya lubang kemaluannya sudah basah melihat adeganku dan istriku tadi.

CERITA SEKS - Lalu “Bleess..” penisku sudah masuk ke vagina Maya. Istriku melihat itu hanya terdiam, namun kemudian dia bangkit dan mendorongku sehingga aku di posisi terlentang di ranjang. Ia mulai naik ke tubuhku dengan posisi lubang vaginanya tepat di atas kepalaku.

“Jilati Mas..” pintanya manja. Aku mulai menjilati lubang kemaluan istriku dan klitorisnya yang indah itu, istriku dengan posisi itu ternyata lebih bisa menikmati dengan Maya, mereka saling berciuman dan posisi Maya pun naik-turun di atas penisku.

Istriku dengan bergairah melumat kedua puting payudara indah milik Maya, setelah setengah jam tubuh Maya mengejang, “Mas.. aku.. mau.. ke.. aahh..” cairan panas menerpa penisku, begitu pula aku sudah ingin mencapai puncak dan tak tahan lagi spermaku tumpah di dalam lubang vagina Maya.

Maya kemudian beringsut dari tempat tidur, dia berjalan ke arah tas yang ia bawa tadi, lalu mengeluarkan sebuah benda coklat panjang dengan tali melingkar, itukah yang dinakan “dildo”, aku dan istriku baru tahu waktu itu.

Maya mulai mengenakan dildonya, persis seperti laki-laki, dia berjalan ke arah istriku yang sejak tadi rebahan di sampingku. Maya mulai beraksi, dia menciumi istriku dengan bergairah, melumat puting susu istriku yang tegak, turun ke vaginanya, dijilatinya dengan puas, klitorisnya dimainkan dengan ujung lidahnya, istriku tak tahan dia mendesah-desah kenikmatan.

“May.. terus..” Maya kemudian melepas vagina istriku yang tadi dijilat dan digigitnya, dia naik di atas tubuh istriku, lalu tangannya membimbing dildo yang dia pakai tepat di atas lubang vagina istriku, dengan sekali tekan masuklah dildo itu,

“Aauugghh..” teriak istriku.
“Enak Mas.. lebih enak dari punyamu..” katanya, aku hanya tersenyum.

Maya seakan bergairah sekali dalam permainan itu, seakan-akan dia seorang laki-laki yang sedang menyetubuhi wanita, istriku pun menikmatinya. Aku sudah tidak tahan melihat adegan itu, tanpa minta ijin dulu dengan posisi membelakangi Maya aku melihat warna merah indah vagina milik Maya terpampang di depanku. Dengan sekali genjot penisku sudah masuk ke lubang itu, “Bleess..” Mata Maya sampai terpejam-pejam menikmati itu.

Setelah beberapa lama tubuh istriku tampak mengejang dan,
“Ahh.. May.. sayang..”

Dia lemas untuk kedua kalinya. Maya tiba-tiba menahanku, sehingga aku terdiam, dia bangkit berdiri dari posisi di atas istriku, dia mendorongku ke tempat tidur, dia melepas dildonya dan naik ke tubuhku, dia mulai lagi dengan posisi seperti awal tadi, wow nikmat sekali. Istriku bangkit dari ranjang, dia iseng mengenakan dildo yang dikenakan Maya tadi, lalu berjalan membelakangi Maya, istriku melihat dengan indah pantat Maya yang putih mulus dan halus itu.

CERITA DEWASADibelainya dengan lembut, dia mendorong tubuh Maya sehingga terjerambab, dengan posisi itu kami dapat saling berciuman dengan bergairah. Istriku lalu mengambil posisi, dengan perlahan-lahan dia memasukkan dildonya di dubur Maya (dia ingin anal seks rupanya dengan Maya), dengan gerakan lembut dildo itu masuk ke dubur Maya, Maya pun berteriak,

“Aagghh sa.. kit..”

istriku pun berhenti sebentar, lalu dengan gerakan maju-mundur secara pelan dildo itu akhirnya lancar masuk ke dubur Maya. Mata Maya pun sampai terpejam-pejam,

“Mas.. aku.. udah.. nggakk.. ku.. at.. la..” kembali cairan panas menyerang penisku.

Istriku sudah berhenti memainkan dildonya takut Maya menderita sakit. Tubuh Maya terbaring di ranjang sebelahku, istriku yang nafsu liar nya masih menggebu langsung menyerangku, dia dengan posisi seperti Maya tadi mulai naik-turun dan tanganku pun tak ketinggalan memilin kedua puting susunya.

Setelah hampir satu jam kami bergumul, akhirnya klimaks kami berdua sama-sama mengeluarkan cairan di dalam satu lubang. Istriku kemudian beringsut, dia ingin mengulum penisku yang masih tegak berdiri dan basah oleh cairan kami berdua, Maya pun tak ketinggalan ikut mengulum-ngulum penisku. Betapa nikmatnya malam ini, pikirku.

Akhirnya kami bertiga tertidur karena kecapaian dengan senyum penuh arti semoga permainan ini dapat kami teruskan dengan didasari rasa sayang bukan karena nafsu liar semata di antara kami bertiga.


Sabtu, 17 Februari 2018

Pengalaman Tak Terlupakan Sikat Dua Suster Seksi


Pengalaman Tak Terlupakan Sikat Dua Suster Seksi

Tante Lendir - Saat remaja aku mempunyai kisah seks dimana usiaku saat itu masih 15 tahun, dan aku sering sakit diusiaku itu. Sehingga harus dilarikan di RS, ternyata sejak kecil aku divonis menderita serangan saluran jantung makanya kalau aku lari saja cepat ngos ngosan, kedua orangtuaku memutuskan untuk memeriksakan ku pada dokter ahli jantung.

Si dokter malam itu juga meminta saya dirawat inap di rumah sakit. Nah, dari rumah sakit itulah, saya mengalami pengalaman seks terhebat yang akan saya kenang seumur hidup saya. Karena minum obat yang diberikan dokter, malam pertama saya menginap di rumah sakit, saya tidak bisa tidur. Saya maunya kencing terus. Sebuah botol besar telah disiapkan untuk menampung air urine saya .

Otomatis, penis saya harus dimasukkan ke botol itu . Oleh dokter, saya tidak diperbolehkan untuk turun dari tempat tidur . Jadi sambil tiduran, saya tinggal memasukkan penis ke dalam botol yang sudah ada di samping ranjang.

Ada satu perawat yang rupanya begitu telaten menjaga dan merawat saya malam itu. Seharusnya ia tidak boleh memperhatikan saya membuang urine di botol. Tetapi tatkala saya membuka piyama dan celana dalam saya, dan mengarahkan penis ke mulut botol, eh si perawat yang belakangan kuketahui bernama Nila D**** (edited) malah membantu memegang penis saya.

Dengan pelan dan lembut tangan kirinya memegang penis kecil saya yang masih kecil, sedangkan tangan kanannya ikut memegang botol itu. Setelah urine saya keluar, ia membersihkan penis saya dengan tissue. Sambil terus membersihkannya, ia memperhatikanku dengan senyuman aneh.


“Dik . . kamu tahu bendamu ini bisa membuat kamu melayang-layang?” tanyanya tiba-tiba .
“Maksud Mbak?” tany aku pura-pura tidak mengerti . aku sudah tahu apa maksudnya. Wong, aku sudah pernah nonton video BF seminggu yang lalu.
“Iya . . kalo si kecil ini dipegang, dikocok-kocok oleh tangan halus seorang wanita kemudian dihisap dan dikulum olehnya, pasti deh kamu akan merasakan keenakan yang luar biasa . . lebih dari yang lain yang ada di dunia ini . .” jawab Mbak Nila lagi .

“Masa sih, Mbak? Pengen coba nih . . bisa nggak Mbak melakukannya buat saya?” tany aku hati-hati dengan perasaan campur baur. Berani juga nih cewek .
“Kamu benar-benar mau?” tanyanya penuh semangat .

Tanpa menunggu jawabanku lagi, ia menaruh tissue itu lalu memegang kejantananku dan pelan-pelan mulai mengocok-ngocoknya.

Wah . . memang benar enak kocokannya . Pelan tapi pasti. Beberapa menit kemudian ia jongkok di samping tempat tidur . Mulutnya dibuka lalu batang kejantananku dimasukkan ke dalamnya. Mula-mula dihisapnya, dikulum lalu dijilat-jilatnya kepala kejantananku.

Untuk pertama kalinya dalam masa remaja aku , aku merasakan sesuatu yang amat sangat nikmat! Entah apa namanya . . surga dunia kali ya? Tanpa disangka-sangka Mbak Nila memegang tangan kananku lalu menuntunnya masuk ke balik seragamnya .

Ya . . itu dia!! Gunung kembarnya begitu kenyal dan besar kurasakan. Tanpa disuruh lagi aku pun meremas-remas, meraba-raba ‘susu’ ajaibnya itu . Sementara itu ia terus saja mengulum dan mengisap kejantananku dengan penuh nafsu. Beberapa menit kemudian aku mulai merasa akan ada sesuatu yang akan keluar dari tubuhku yang masih lemah karena sakit .

“Crot . .! crot . .! crot . .!” Sesuatu berwarna putih kekuning-kuningan dan agak kental keluar dari batang kejantananku dan tanpa ampun lagi langsung menyemprot masuk ke mulut Mbak Nila . Setelah sembilan kali semprot, ia menjilati kejantananku dengan mimik muka penuh kepuasan .

“Gimana Dik . .? Puas nggak?” tanyanya sambil tersenyum . Terlihat bekas cairan kental itu di mulut dan bibirnya .
“Wah nikmat ya Mbak . . Boleh dong aku minta lagi . .?” jawabku penuh harap .
“Boleh dong . . tapi jangan sekarang ya . . kamu harus istirahat dulu . . besok pagi kamu pasti akan merasa lebih puas lagi . . Mbak janji deh . .” ujarnya dengan mimik seperti menyembunyikan sesuatu.

CERITA DEWASA - Aku pun mengangguk. Mungkin karena kelelahan setelah di ‘karaoke’ oleh gadis perawat yang cantik dan sexy, aku pun tertidur malam itu. Tapi tengah malam, sekitar pukul dua dini hari, aku merasa ‘senjata’ andalanku kembali diobok-obok dan kini yang mengoboknya bukan hanya Mbak Nila tetapi seorang perawat lain juga. Namanya belakangan kuketahui adalah Viviana .

Gadis ini juga tak kalah cantik bahkan buah dadanya itu benar-benar menggelembung di balik seragam putihnya. Lebih besar dari punya Mbak Nila dan juga pasti lebih kenyal! Mereka terus saja menjilati, mengulum dan menghisap-hisap batanganku. Yang seorang di sebelah kananku dan yang seorang lagi di sebelah kiriku. Tanganku yang kiri meremas-remas susu Viviana sedang tangan yang kanan meremas susunya Nila .

Setelah sepuluh menit, batang kejantananku mulai mengeras dan siap untuk ditusukkan . Viviana kemudian naik ke atas ranjang dan menyingkapkan roknya . Duh . . rupanya ia sudah tidak mengenakan celana dalam . Ia kemudian duduk di atas kepala aku .

Dengan sengaja ia mengarahkan liang kewanitaannya ke wajahku . aku tiba-tiba teringat dengan film porno yang pernah kutonton seminggu yang lalu .

Ya . . aku harus menjilatnya terutama di bagian kecil dan merah itu . . ya apa ya namanya? Klitoris ya? nah itu dia! Tanpa disuruh dua kali aku langsung mengarahkan lidahku ke bagiannya itu .
“Slep . . slep . . slep . .” terdengar bunyi lidahku saat bersentuhan dengan klitoris Viviana . Dan Nila?

CERITA SEKSRupanya ia sudah membuka seluruh pakaian seragamnya lalu menduduki batanganku yang sudah sangat mengeras dan berdiri dengan gagahnya . Dengan tangan kirinya ia meraih batang kejantananku itu lalu dengan pelan ia mengarahkan senjata aku itu ke liang senggamanya .

“Bles . . jleb . . bles . .” batang kejantananku sudah masuk separuh, ia terus saja bergoyang ke bawah ke atas .

Buah dadanya yang montok bergoyang-goyang dengan indahnya, kedua tangannya memegang sisi ranjang . Wah . . dikeroyok begini sih siapa yang nggak mau, bisa main dua ronde nih . Setelah beberapa menit, kami berganti posisi . Viviana kusuruh tidur dengan posisi tertelungkup . Sementara Nila juga tidak ketinggalan .

Lalu dengan penuh nafsu aku membawa batanganku dan mengarahkannya ke liang senggama Viviana dari arah belakang . “Bles . . bles . . bles . .jeb!!” Liang senggamanya berhasil ditembus oleh senjata aku . Terdengar suara lenguhan Viviana karena merasa nikmat.

“Uh . . uh . . uh . . uh . . Terus Dik . . Enak . .ikmat . .!” Tanganku pun tidak kalah hebatnya . Kuraih buah dadanya sambil kuremas-remas . Puting payudaranya kupegang-pegang .
“Gantian dong . .” tiba-tiba Nila minta jatah . Duh, hampir kulupakan si doi . aku cabut batang kejantananku dari liang senggama Viviana lalu kubawa ke ranjang sebelah di mana telah menanti Nila yang sedang mengelus-elus kemaluannya yang indah . Tanpa menunggu lagi, aku naik ke ranjang itu lalu kumasukkan dengan dorongan yang amat keras ke liang senggamanya .

“Jangan keras-keras dong Dik . .” erangnya nikmat .
“Habis mau keluar nih, Mbak . . Di dalam atau di luar . .” aku tiba-tiba merasakan bahwa ada sesuatu yang nikmat akan lepas dari tubuhku .
“Di muka aku aja Dik . .” jawabnya di tengah erangan nafsunya .

Lalu kutarik batang kejantananku dari liang senggamanya yang sedang merekah dan membawanya ke kepalanya . Lalu aku menumpahkan cairan putih kental itu ke wajahnya .

“Crot . . crot . .crott . . crot . . crot!” Kasihan juga Mbak Nila, wajahnya berlepotan sperma aku . Ia tersenyum dan berkata, “Terima kasih Dik . . aku amat puas . . demikian juga Mbak Vivi . .”

Belakangan setelah aku keluar dari rumah sakit, aku mendengar bahwa Nila dan Viviana memang bukan perawat tetap di rumah sakit itu . Mereka hanya bekerja sambilan saja. Mereka sebenarnya dua orang mahasiswi kedokteran di sebuah universitas swasta di Surabaya . Tiap kali mereka bekerja di sana, selalu ada saja pasien pria entah remaja atau orang dewasa yang berhasil mereka ajak berhubungan seks minimal satu kali .