Kamis, 17 Agustus 2017

TANTE YUS YANG KURINDUKAN SELAMA 7 TAHUN


TANTE YUS YANG KURINDUKAN SELAMA 7 TAHUN

Tante Lendir - Sudah lamanya aku hanya berdiri di depan pintu gerbang sebuah rumah mewah tetapi berarsitektur gaya Jawa kuno. Hampir separuh bagian rumah di depanku itu adalah terbuat dari kayu jati tua yang super awet.

Di depan terdapat sebuah pendopo kecil dengan lampu gantung kristalnya yang antik. Lantai keramik dan halaman yang luas dengan pohon-pohon perindangnya yang tumbuh subur memayungi seantero lingkungannya. Aku masih ingat, di samping rumah berlantai dua itu terdapat kolam ikan Nila yang dicampur dengan ikan Tombro, Greskap, dan Mujair.

Sementara ikan Geramah dipisah, begitu juga ikan Lelenya. Dibelakang sana masih dapat kucium adanya peternakan ayam kampung dan itik. Tante Yus (nama samaran) memang seorang arsitek kondang dan kenamaan.

Enam tahun aku tinggal di sini selama sekolah SMU sampai D3-ku, sebelum akhirnya aku lulus wisuda pada sebuah sekolah pelayaran yang mengantarku keliling dunia. Kini hampir tujuh tahun aku tidak menginjakkan kakiku di sini. Sama sekali tidak banyak perubahan pada rumah Tante Yus. Aku bayangkan pula si Vivi yang dulu masih umur lima tahun saat kutinggalkan, pasti kini sudah besar, kelas enam SD.

Kulirik jarum jam tanganku, menunjukkan pukul 23:35 tepat. Masih sesaat tadi kudengar deru lembut taksi yang mengantarku ke desa Kebun Agung, sleman yang masih asri suasana pedesaannya ini.

Suara jangkrik mengiringi langkah kakiku menuju ke pintu samping. Sejenak aku mencari-cari dimana dulu Tante Yus meletakkan anak kuncinya. Tanganku segera meraba-raba ventilasi udara di atas pintu samping tersebut. Dapat. Aku segera membuka pintu dan menyelinap masuk ke dalam.

Sejenak aku melepas sepatu ket dan kaos kakinya. Hmm, baunya harum juga. Hanya remang-remang ruangan samping yang ada. Sepi. Aku terus saja melangkah ke lantai dua, yang merupakan letak kamar-kamar tidur keluarga.

Aku dalam hati terus-menerus mengagumi figur Tante. Walau hidup menjanda, sebagai single parents, toh dia mampu mengurusi rumah besar karyanya sendiri ini. Lama sekali kupandangi foto Tante Yus dan Vivi yang di belakangnya aku berdiri dengan lugunya. Aku hanya tersenyum.

Kuperhatikan celah di bawah pintu kamar Vivi sudah gelap. Aku terus melangkah ke kamar sebelahnya. Kamar tidur Tante Yus yang jelas sekali lampunya masih menyala terang. Rupanya pintunya tidak terkunci. Kubuka perlahan dan hati-hati.

Aku hanya melongo heran. Kamar ini kosong melompong. Aku hanya mendesah panjang. Mungkin Tante Yus ada di ruang kerjanya yang ada di sebelah kamarnya ini. Sebentar aku menaruh tas ransel parasit dan melepas jaket kulitku. Berikutnya kaos oblong Jogja serta celana jeans biruku.

Kuperhatikan tubuhku yang hitam ini kian berkulit gelap dan hitam saja. Tetapi untungnya, di tempat kerjaku pada sebuah kapal pesiar itu terdapat sarana olah raga yang komplit, sehingga aku kian tumbuh kekar dan sehat.

Tidak perduli dengan kulitku yang legam hitam dengan rambut-rambut bulu yang tumbuh lebat di sekujur kedua lengan tangan dan kakiku serta dadaku yang membidang sampai ke bawahnya, mengelilingi pusar dan terus ke bawah tentunya.

Ya aku hanya ingin merasakan siraman air shower dari kamar mandi Tante yang bisa hangat dan dingin itu. Aku hendak melepas cawat hitamku saat kudengar sapaan yang sangat kukenal itu dari belakangku, “Andrew..? Kaukah itu..?”

Aku segera memutar tubuhku. Aku sedikit terkejut melihat penampilan Tante Yus yang agak berbeda. Dia berdiri termangu hanya mengenakan kemeja lengan panjang dan longgar warna putih tipis tersebut dengan dua kancing baju bagian atasnya yang terlepas. Sehingga aku dapat melihat belahan buah dadanya yang kuakui memang memiliki ukuran sangat besar sekali dan sangat kencang, serta kenyal.

Aku yakin, Tante tidak memakai BH, jelas dari bayangan dua bulatan hitam yang samar-samar terlihat di ujung kedua buah dadanya itu. Rambutnya masih lebat dipotong sebatang bahunya. Kulit kuning langsat dan bersih sekali dengan warna cat kukunya yang merah muda.

“Ngg.., selamat malam Tante Yus.. maaf, keponakanmu ini datang dan untuk berlibur di sini tanpa ngebel dulu. Maaf pula, kalau tujuh tahun lamanya ini tidak pernah datang kemari. Hanya lewat surat, telpon, kartu pos, e-mail.., sekali lagi, saya minta maaf Tante. Saya sangat merindukan Tante..!” ucapku sambil kubiarkan Tante Yus mendekatiku dengan wajah haru dan senangnya.

“Ouh Andrew.. ouh..!” bisik Tante Yus sambil menubrukku dan memelukku erat-erat sambil membenamkan wajahnya pada dadaku yang membidang kasar oleh rambut.

Aku sejenak hanya membalas pelukannya dengan kencang pula, sehingga dapat kurasakan desakan puting-puting dua buah dadanya Tante Yus.

“Kau pikir hanya kamu ya, yang kangen berat sama Tante, hmm..? Tantemu ini melebihi kangennya kamu padaku. Ngerti nggak..? Gila kamu Andrew..!” imbuhnya sambil memandangi wajahku sangat dekat sekali dengan kedua tangannya yang tetap melingkarkan pada leherku, sambil kemudian memperhatikan kondisi tubuhku yang hanya bercawat ini.

Tante Yustina tersenyum mesra sekali. Aku hanya menghapus air matanya. Ah Tante..
“Ya, untuk itulah aku minta maaf pada Tante..”
“Tentu saja, kumaafkan..” sahutnya sambil menghela nafasnya tanpa berkedip tetap memandangiku, “Kamu tambah gagah dan ganteng Andrew. Pasti di kapal, banyak crew wanita yang bule itu jatuh cinta padamu. Siapa pacarmu, hmm..?”
“Belum punya Tan. Aku masih nabung untuk membina rumah tangga dengan seorang, entah siapa nanti. Untuk itu, aku mau minta Tante bikinkan aku desain rumah..”
“Bayarannya..?” tanya Tante Yus cepat sambil menyambar mulutku dengan bibir tipis Tante yang merah.

Aku terkejut, tetapi dalam hati senang juga. Bahkan tidak kutolak Tante Yus untuk memelukku terus menerus seperti ini. Tapi sialnya, batang kemaluanku mulai merinding geli untuk bangkit berdiri. Padahal di tempat itu, perut Tante Yus menekanku. Tentu dia dapat merasakan perubahan kejadiannya.

“Aku.. ngg..”
“Ahh, kamu Andrew. Tante sangat kangen padamu, hmm.. ouh Andrew.. hmm..!” sahut Tante Yus sambil menerkam mulutku dengan bibirnya.

Aku sejenak terkejut dengan serbuan ganas mulut Tante Yus yang kian binal melumat-lumat mulutku, mendasak-desaknya ke dalam dengan buas. Sementara jemari kedua tangannya menggerayangi seluruh bagian kulit tubuhku, terutama pada bagian punggung, dada, dan selangkanganku.

Tidak karuan lagi, aku jadi terangsang. Kini aku berani membalas ciuman buas Tante Yus. Nampaknya Tante Yus tidak mau mengalah, dia bahkan tambah liar lagi. Kini mulut Tante merayap turun ke bawah, menyusuri leherku dan dadaku. Beberapa cupangan yang meninggalkan warna merah menghiasi pada leher dan dadaku.

Kini dengan liar Tante Yus menarik cawatku ke bawah setelah jongkok persis di depan selangkanganku yang sedikit terbuka itu. Tentu saja, batang kemaluanku yang sebenarnya telah meregang berdiri tegak itu langsung memukul wajahnya yang cantik jelita.

“Ouh, gila benar. Tititmu sangat besar dan kekar, An. Ouh.. hmm..!” seru bergairah Tante Yus sambil memasukkan batang kejantananku ke dalam mulutnya, dan mulailah dia mengulum-ngulum, yang seringkali dibarengi dengan mennyedot kuat dan ganas.

Sementara tangan kanannya mengocok-ngocok batang kejantananku, sedang jemari tangan kirinya meremas-remas buah kemaluanku. Aku hanya mengerang-ngerang merasakan sensasi yang nikmat tiada taranya.

Bagaimana tidak, batang kemaluanku secara diam-diam di tempat kerjaku sana, kulatih sedemikian rupa, sehingga menjadi tumbuh besar dan panjang. Terakhir kuukur, batang kejantanan ini memiliki panjang 17 sentimeter dengan garis lingkarnya yang hampir 5 senti. Rambut kemaluan sengaja kurapikan.

Tante Yus terus menerus masih aktif mengocok-ngocok batang kemaluanku. Remasan pada buah kemaluanku membuatku merintih-rintih kesakitan, tetapi nikmat sekali. Bahkan dengan gilanya Tante Yus kadangkala memukul-mukulkan batang kemaluanku ini ke seluruh permukaan wajahnya.

Aku sendiri langsung tidak mampu menahan lebih lama puncak gairahku. Dengan memegangi kepala Tante Yus, aku menikam-nikamkan batang kejantananku pada mulut Tante. Tidak karuan lagi, Tante Yus jadi tersendak-sendak ingin muntah atau batuk. Air matanya malah telah menetes, karena batang kejantananku mampu mengocok sampai ke tenggorokannya.

Pada satu kesempatan, aku berhasil mencopot kemejanya. Aku sangat terkejut saat melihat ukuran buah dadanya. Luar biasa besarnya. Keringat benar-benar telah membasahi kedua tubuh kami yang sudah tidak berpakaian lagi ini. Dengan ganas, kedua tangan Tante Yus kini mengocok-ngocok batang kemaluanku dengan genggamannya yang sangat erat sekali. Tetapi karena sudah ada lumuran air ludah Tante Yus, kini jadi licin dan mempercepat proses ejakulasiku.

“Croot.. cret.. croot.. creet..!” menyemprot air maniku pada mulut Tante Yus.

Saat spremaku muncrat, Tante Yus dengan lahap memasukkan batang kemaluanku kembali ke dalam mulutnya sambil mengurut-ngurutnya, sehingga sisa-sisa air maniku keluar semua dan ditelan habis oleh Tante Yus.

“Ouhh.. ouh.. auh Tante.. ouh..!” gumamku merasakan gairahku yang indah ini dikerjai oleh Tante.
“Hmm.. Andrew.. ouh, banyak sekali air maninya. Hmm.., lezaat sekali. Lezat. Ouh.. hmm..!” bisik Tante Yus menjilati seluruh bagian batang kemaluanku dan sisa-sisa air maninya.

Sejenak aku hanya mengolah nafasku, sementara Tante Yus masih mengocok-ngocok dan menjilatinya.
“Ayo, Andrew.. kemarilah Sayang.., kemarilah Baby..!” pintanya sambil berbaring telentang dan membuka kedua belah pahanya lebar-lebar.

Aku tanpa membuang waktu lagi, terus menyerudukkan mulutku pada celah vagina Tante Yus yang merekah ingin kuterkam itu. Benar-benat lezat. Vagina Tante Yus mulai kulumat-lumat tanpa karuan lagi, sedangkan lidahku menjilat-jilat deras seluruh bagiang liang vaginanya yang dalam.

Berulang kali aku temukan kelentitnya lewat lidahku yang kasar. Rambut kemaluan Tante memang lebat dan rindang. Cupangan merah pun kucap pada seluruh bagian daging vagina Tante Yus yang menggairahkan ini. Tante Yus hanya menggerinjal-gerinjal kegelian dan sangat senang sekali nampaknya.

Kulirik tadi, Tante Yus terus-menerus melakukan remasan pada buah dadanya sendiri sambil sesekali memelintir puting-putingnya. Berulang kali mulutnya mendesah-desah dan menjerit kecil saat mulutku menciumi mulut vaginanya dan menerik-narik daging kelentitnya.

“Ouh Andrew.. lakukan sesukamu.. ouh.., lakukan, please..!” pintanya mengerang-erang deras.

Selang sepuluh menit kemudian, aku kini merayap lembut menuju perutnya, dan terus merapat di seluruh bagian buah dadanya. Dengan ganas aku menyedot-nyedot puting payudaranya. Tetapi air susunya sama sekali tidak keluar, hanya puting-puting itu yang kini mengeras dan memanjang membengkak total.

Di buah dadanya ini pula aku melukiskan cupanganku banyak sekali. Berulang kali jemariku memilin-milin gemas puting-puting susu Tante Yus secara bergantian, kiri kanan. Aku kini tidak tahan lagi untuk menyetubuhi Tanteku. Dengan bergegas, aku membimbing masuk batang kemaluanku pada liang vaginanya.

“Ooouhkk.. yeaah.. ayoo.. ayoo.. genjot Andrew..!” teriak Tante Yus saat merasakan batang kejantananku mulai menikam-nikam liar mulut vaginanya.

Sambil menopang tubuhku yang berpegangan pada buah dadanya, aku semakin meningkatkan irama keluar masuk batang kemaluanku pada vagina Tante. Wanita itu hanya berpegangan pada kedua tanganku yang sambil meremas-remas kedua buah dadanya.

“Blesep.. sleep.. blesep..!” suara senggama yang sangat indah mengiringi dengan alunan lembut.
Selang dua puluh menit puncak klimaks itu kucapai dengan sempurna, “Creet.. croot.. creet..!”
“Ouuhhkk.. aoouhkk.. aahhk..,” seru Tante Yus menggelepar-gelepar lunglai.
“Tante.. ouhh..!” gumamku merasakan keletihanku yang sangat terasa di seluruh bagian tubuhku.

Dengan batang kemaluan yang masih tetap menancap erat pada vagiana Tante, kami jatuh tertidur. Tante Yus berada di atasku.

Karena kelelahanku yang sangat menguasai seluruh jaringan tubuhku, aku benar-benar mampu tertidur dengan pulas dan tenang. Entah sudah berapa lama aku tertidur pulas, yang jelas saat kubangun udara dingin segera menyergapku. Sial. Aku sadar, ini di desa dekat Merapi, tentu saja dingin. Tidak berapa lama jam dinding berdentang lima sampai enam kali.

Jam enam pagi..! Dengan agak malas aku beranjak berdiri, tetapi tidak kulihat Tante Yus ada di kamar ini. Sepi dan kosong. Dimana dia..? Aku terus mencoba ingin tahu. Dalam keadaan bugil ini, aku melangkah mendekati meja lampu. Secarik kertas kutemukan dengan tulisan dari tangan Tante Yus.

Andrew sayang, Tante kudu buru-buru ke Jakarta pagi ini. Udah dijemput. Ada pameran di sana. Tolong jaga rumah dan Vivi. Ttd, Yustina.




Kenikmatan Datang Dari Guru Sampingan


Kenikmatan Datang Dari Guru Sampingan

Tante Lendir - Aku siswa SMA di sebuah sekolah negeri Jakarta. Aku merupakan siswa yang dibilang cukup pintar di kelasku. Apalagi setelah aku menang olimpiade komputer tingkat provinsi, namaku jadi makin dikenal di sekolahku. Nilai-nilai ku di sekolah juga bisa terbilang bagus. Selalu dapat nilai diatas 7.

Kecuali pelajaran pkn, pelajaran yang paling susah menurutku. Aku tidak pernah mendapat bagus. Paling bagus cuman dapat 7. Hari rabu ini, aku belajar seperti biasa. Tapi saat pelajaran pkn, bu tanti, guru pkn ku tidak masuk. Biasanya bu tanti tidak pernah telat. Seperti biasa, kalau tidak ada guru masuk, kami sekelas selalu ngobrol di kelas. Tiba-tiba ada seseorang perempuan yang tidak kukenal masuk ke kelas ku.

Bu guru : “Hayoo jangan pada berisik. Oh iya perkenalkan, nama saya ibu diah. Umur 21 tahun. Ibu ada disini karena ibu dipesen sama ibu tanti untuk ngajar disini karena beliau sakit DBD. Ibu seterusnya akan menggantikan ibu tanti mengajar disini selama 1 semester karena ibu lagi praktek kerja lapangan untuk belajar jadi guru.”

Anak-anak : “Yaaaahhhhhh but anti engga masuk deh”, jawab teman-temanku serentak sambil senyum

Bu diah : “halah ibu tau kalian pada seneng kan? Oke ibu dipesen kalo hari ini ibu ngajar bab 2. Coba buka buku kalian”

Anak-anak : “Iya buu”

Anak-anak begitu antusias ketika pertama kali diajar bu diah. Dulu selama diajar bu tanti tidak pernah seperti ini. Bu diah masih muda, cantik, baik lagi. Coba dia jadi pacarku, wah aku seneng banget, pikirku dalam lamunanku. Sejak kehadiran bu diah, aku lebih sering melamun. Terlalu sering liatin bu diah ketimbang liat buku. Bagiku, bu diah adalah cewe yang ideal. Tak terasa sudah bel istirahat sekaligus jam bu diah hari ini sudah selesai.

Bu diah : “sebelum ibu keluar, ibu mau kasi tau kalo minggu depan ulangan bab 2. Ibu dipesen bu tanti”

Anak-anak : “yah kok baru diajar sebentar langsung ulangan sih? Bikin soal yang gampang ya bu”

Bu diah : “yaudah ibu bikin yang gampang. Tapi kalian semua harus dapet bagus ya? Oke ibu keluar dulu. Selamat siang anak-anak”

Anak-anak : “asiik ulangan nya dibikin gampang. Selamat siang bu”

Sepulang sekolah aku langsung buka buku pkn. Aku belajar biar dapet bagus dan demi bu diah aku belajarnya hehehe. Tidak seperti biasanya, aku sepulang sekolah selalu belajar, tak terkecuali pkn. Karena ada bu diah aku jadi semangat untuk dapet bagus.

Seminggu kemudian, bu diah menepati janjinya untuk mengadakan ulangan. Bu diah membagi-bagikan soal ke setiap anak. Begitu aku menerima soal dan aku liat, agak susah menurutku. Aku kerjakan nomer yang aku bisa. Sisanya yang aku engga bisa aku lewatin dulu. Begitu aku liat temenku yang lain, udah hampir selesai padahal waktu ulangan masih 40 menit lagi.

Terpaksa aku liat jawaban temenku yang duduk di sebelahku. Kebetulan bu diah lagi keluar sebentar, jadi ada kesempatan buat aku untuk nyontek. Baru nyontek 2 nomer, tiba-tiba bu diah masuk ke kelas dan sempet liat aku lagi nyontek, tapi bu diah tidak menegurku dan malah mengawasi anak yang lain. Sepertinya bu diah membiarkan saja dan pura-pura tidak tahu atas apa yang aku perbuat tadi, tapi apa urusanku.

Yang penting sekarang ada 4 nomer kosong lagi yang harus diisi. Aku jadi lebih berhati-hati dan lebih memperhatikan situasi. Setiap kali bu diah mengawasi anak lain aku langsung nyontek temenku. Tak terasa sudah bel. Aku langsung mengumpulkan jawabanku ke bu diah. Dan setelah semua anak mengumpulkan jawaban, bu diah mengucapkan selamat siang sambil keluar kelas.

Aku masih kawatir sama kejadian yang tadi. Apa bu diah engga marahin aku tapi nilaiku dibikin jelek nantinya? Ah sudahlah nunggu bu diah koreksi jawaban aja, pikirku. 2 hari setelah ulangan, bu diah masuk ke kelasku untuk membagikan hasil ulangan. Anak yang dipanggil namanya langsung maju dan menerima hasil ulangan nya. Begitu namaku disebut, aku melihat nilai 6,5. Sebelum aku kembali ke tempat duduk, bu diah bilang “nanti pulang sekolah kamu ke ruang guru ya. Ada yang mau ibu bicarain sama kamu.” Aku langsung deg-degan. Tapi aku sudah berusaha mencoba tenang dan tidak akan diomelin nanti.

Sepulang sekolah, aku langsung menghadap bu diah.

Bu diah : “Wahyu, kok cuman kamu yang dapet jelek? Padahal kan gampang itu ulangan nya.”

Wahyu : “saya udah belajar bu. Seminggu yang lalu pas ibu bilang mau ulangan saya langsung belajar pkn”

Bu diah : “walaupun begitu, kamu masih tetep kurang maksimal belajarnya. Gimana kalo ibu kasih kamu tambahan biar kamu dapet bagus?”

Wahyu : “wah boleh tuh. Dimana bu?”

Bu diah : “ini alamat rumah ibu. Kamu dateng hari minggu siang. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya kalo kamu dapet tambahan”, memegang kedua tanganku sambil tersenyum.

Wahyu : “Oke bu. Yang penting nilai saya jadi bagus”

Aku langsung salaman sama bu diah dan bergegas pulang ke rumah. Alangkah senangnya aku hari ini, karena cuman aku yang dapet tambahan sama bu diah dan aku disenyumin bu diah. Bener-bener cantik. Aku jadi makin suka sama bu diah. Dari pulang sekolah, aku senyum terus. Sampe-sampe pas di bis aku diliatin sama ibu-ibu. Sampe rumah aku langsung mikirin bu diah terus. Seandainya bu diah jadi pacarku, terus aku mikir ah engga mungkin itu. Daripada mikir yang engga jelas terus mending belajar aja deh.

Hari minggu jam 1 siang, aku pergi ke rumah bu diah. Rumahnya engga begitu jauh. 10 menit dari rumahku. Aku melihat rumah bu diah yang sederhana tapi bersih. Aku memencet bel 3x, bu diah keluar.

Bu diah : “Oh Wahyu ibu kirain siapa. Ayo masuk, engga dikonci kok”

Aku langsung masuk begitu dipersilahkan. Bu diah memakai baju biru dengan rok hitam yang ketat. Aku jadi makin suka sama bu diah.

Bu diah : “Kamu mau minum apa?”

Wahyu : “Engga usah repot-repot bu. Apa aja boleh”

Tak lama kemudian, bu diah membawakan aku air putih. Setelah aku meminum sedikit, bu diah langsung mengajariku bab 2. Aku jadi lebih mengerti kalau diajarin sama bu diah. Tak terasa sudah 2 jam belajar sama bu diah.

Wahyu : “Bu makasih ya, saya jadi lebih ngerti kalo diajarin sama ibu. Saya pulang dulu ya”

Bu diah : “Kamu jangan pulang dulu deh, masa cuman belajar? Oya kita ngobrolnya pake aku kamu aja. Nonton tv dulu aja”

Wahyu : “yaudah terserah kamu aja deh”

Akhirnya kami ke ruang tengah dan duduk di sofa sambil nonton tv. Tiba-tiba dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku beranikan diriku untuk membelai rambutnya.

diah : “Aku ada hadiah buat kamu nih, tapi tutup mata dulu ya”

Wahyu : “Kenapoa engga langsung kasih aja?”

diah : “kamu nih disuruh tutup mata tapi masih buka, ih bandel”

Aku mengalah saja. Kututup mataku sambil bertanya-tanya dalam hatiku, apa yang mau dia kasih. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang lembut di bibirku, ketika aku membuka mataku, aku terkejut melihat guruku sendiri menciumku. Aku menyedot lidahnya sambil kucium-cium bibirnya, lalu kuteruskan dengan mencium-cium daun telinga dia sambil berkata “Aku sayang kamu”. Setelah daun telinga, kuterusi ke leher, kupegang-pegang leher bagian belakang dengan kedua tanganku sambil kucium-cium lehernya.

Dia begitu menikmatinya hingga matanya merem melek dan mendesah. Dari leher tanganku turun ke dada, kuremas-remas dadanya sambil kujilati putingnya. Desahan nya semakin kencang, kugigit pelan puting kiri nya, tangan nya sambil mengocok penisku. Aku langsung ganti posisi 69. Aku bisa melihat dengan jelas memiaw diah… baunya harumdan segera kujilat, rasanya benar-benar enak. Pasti dia sering memelihara badan nya. Kumainkan lidahku di baguan klitoris dan labia mayora, sembari kumasukkan lidahku ke dalam liang vagina nya.

Erangan nya tambah kencang. Sedotan diah juga enak, seluruh batang penisku dilumatnya, benar-benar enak. Saking enaknya, tak terasa aku sudah dibuat keluar oleh diah. Setelah aku mencapai kepuasan, kini gantian diah yg aku buat puas. Aku memasukkan jariku ke dalam lubang vagina nya sambil kujilat-jilati bibir vagina diah yang berwarna pink.

“ahh… aku engga tahan nih”

Kupercepat gerakan tanganku ke dalam vagina nya sambil kupegang klitoris nya dan akhirnya dia orgasme juga. Orgasme nya benar-benar deras sampe membasahi muka ku dan sebagian ranjang nya.

“Wahyu maafin aku ya, keluar sampe banyak gitu ngenain muka kamu”

“kalo kamu yang keluarin engga apa-apa”, aku langsung mencium bibir nya.

“masukin ademu ke dalem marmutku dong… kepengen nih aku”

Aku ambil posisi missionary, kumasukkan adekku dengan perlahan, masuk ke dalam vagina nya benar-benar sempit. Dia masih perawan, kumasukkan dengan perlahan penisku agar dia tidak kesakitan. Kupercepat sedikit, diah tampaknya meringis kesakitan, ku tak perdulikan erangan itu. Langsung ku masukkan seluruh penisku ke dalam vagina nya. Yeah aku mendapat perawan nya diah.

Dia tampak menangis kecil menahan kesakitan, langsung saja kucium untuk meredakan efek sakitnya. Aku mulai mempercepat permainanku. Expresi muka diah berubah, tadinya agak kesakitan sekarang berubah menjadi penuh nafsu. diah makin menikmati permainanku, ditambah desahan nya makin kencang. Aku pikir penisku mengenai bagian g-spot nya. Kusodok penisku di bagian itu, tak lama diah pun mengalami orgasme yang kedua. Aku mengajak diah untuk ganti posisi wot.

Penisku perlahan dimasukkan ke dalam vagina nya… Bless, benar-benar nikmat, ditambah dengan otot vagina nya yang meremas penisku membuat kenikmatan nya bertambah. Dia terus mendesah keenakan, goyangan nya hot juga, padahal baru pertama kali merasakan. 6 menit kemudian, goyangan nya makin cepat. “ahh aku mau keluar lagi nih”

“eh jangan keluar dulu, barengan aja sama aku. aku juga bentar lagi kok”

Akhirnya kami keluar secara bersamaan. Sperma ku banyak keluar di dalam dan dia orgasme juga cukup banyak. Setelah kami “bertarung”, diah memeluk ku dan menciumku. “makasih ya sayang, kamu udah bikin aku ngerasain nikmatnya bercinta”

“ya sama-sama sayang. Ngomong-ngomong, kamu mau engga jadi pacarku? Aku sayang banget sama kamu. Sejak pertama kali liat kamu, mulai ada perasaan suka sama kamu. Aku selalu mikirin kamu terus di rumah. Aku juga dulu kepengen kamu jadi pacarku.”. diah terdiam sejenak. Dia menitikkan air mata.

“aku juga sayang sama kamu. Aku engga mau kehilangan kamu.”

Kami berpelukan dan berciuman lagi. Tak terasa sudah jam 3 sore. Kemudian aku pamit sama diah untuk pulang. Hari-hari berikutnya berlangsung seperti biasa, tidak ada yang tahu tentang hubungan kami berdua. Sejak saat itu, kami mulai rajin bercinta setiap hari minggu dan sabtu.

Mudah-mudahan hubunganku dan diah bisa langgeng.




Minggu, 13 Agustus 2017

Nikmatnya Juga Curi Kesempatan Ngentot Dengan Suami Orang


Nikmatnya Juga Curi Kesempatan Ngentot Dengan Suami Orang

Tante Lendir - Aku baru saja selesai mandi saat HP-ku berdering. Dari nada deringnya dapat kuketahui kalau dering itu dari nomor telepon salah seorang klienku. Dengan dalam keadaan masih telanjang bulat aku bergegas keluar dari kamar mandi, yang langsung tembus ke kamarku, kamar mandiku memang terletak di dalam kamar.

Sambil mengeringkan badanku dengan handuk, aku menerima telepon dari rumah Pak Budi, seorang klienku.

“Hallo..! Selamat sore”, sapaku setelah menekan tombol.
“Hallo..! Sore Dok..!” balas suara anak kecil di seberang sana. Aku segera bisa mengenali suara di seberang sana, ini adalah suara Andi putra semata wayang Pak Budi.
“Hai..! Andi ya? Ada apa Ndi?” tanyaku.

“Dok! Carla baru saja melahirkan, cepet dong ke rumah”, pinta Andi kekanak-kanakan. Andi memang baru berusia 6 tahun, dan Carla yang dimaksud adalah nama anjingnya yang berjenis mini pincher, bentuknya seperti anjing doberman namun kecil sekali oleh karena itu disebut mini pincher.

“Lahir berapa anaknya Ndi?” tanyaku lagi.
“Ndak tau Dok! Papa yang tungguin sekarang, dokter ke sini dong!” cerocos Andi lagi.
“Baiklah aku langsung ke sana sekarang, tunggu aja ya” sahutku.
“Terima kasih Dok! Daah..!” sambung Andi sambil menutup telepon tanpa menunggu jawaban dariku lagi.

Selesai berbicara dengan Andi melalui telepon, aku pun segera mengenakan pakaian. Aku memakai hem longgar kotak-kotak warna merah maroon yang serasi warnanya dengan rok miniku yang juga berwarna merah maroon. Selesai berpakaian aku bergegas menuju ke rumah Pak Budi di kawasan elite Margorejo Indah.

Sesampai di rumah Pak Budi ternyata Andi sudah menungguku di halaman rumahnya bersama seorang baby sitter. Satpam langsung membuka pintu pagar mempersilakanku untuk langsung masuk. Rumah Pak budi memang cukup besar seperti rumah-rumah lainnya di sekitar perumahan Margorejo Indah, halamannya juga luas. Kuparkir mobilku di depan garasi di samping mobil mewah milik Pak Budi, kontras sekali dengan mobilku yang butut keluaran tahun 90-an.

Begitu turun dari mobil, Andi langsung menggandeng tanganku mengajakku masuk. Kami masuk lewat garasi yang langsung tembus ke dapur yang letaknya bersebelahan dengan ruang makan. Di samping ruang makan ada pintu menuju halaman belakang. Di salah satu pojok dekat kamar pembantu, di situlah rupanya tempat yang telah disediakan untuk Carla melakukan proses kelahiran. Pak Budi tampak sedang berjongkok di dekat box tempat Carla melahirkan.

“Sore Pak Budi” sapaku.
“Ee.. Lia..! Sore.., aduh maaf sudah bikin repot”, sambut Pak Budi ramah.
“Ini si Andi yang bingung terus sejak tadi” tambah Pak Budi.
“Sudah lahir berapa ekor Pak?” tanyaku pada Pak Budi.
“Sudah dua ekor dan keduanya betina, sepertinya masih ada lagi di dalam” jelas Pak Budi padaku.
“Ayo gantian, sekarang ahlinya sudah datang dan aku akan mandi dulu” Imbuh Pak Budi sambil mempersilakanku menempati posisinya.

Aku mendekat ke box tempat Carla melahirkan bayi-bayinya yang mungil, sementara itu Pak Budi naik ke lantai dua rumahnya, mungkin bersiap-siap untuk mandi. Aku ditemani Andi tetap menunggui Carla yang tampaknya sudah mulai gelisah lagi, pertanda anaknya yang ketiga akan lahir.

Saking asyiknya aku menunggui bayi ketiga Carla lahir, rupanya aku tidak sadar bahwa posisiku sedang berjongkok saat itu hingga otomatis pahaku bagian belakang terbuka lebar karena rok miniku bawahannya memang sangat lebar. Memang rok seperti ini biasanya dipakai oleh para cheerleader hingga dengan sendirinya kalau dilihat dari depan arahku berjongkok, semua isi dalam rok miniku dapat terlihat dengan jelas oleh Andi yang duduk di lantai tepat di hadapanku.

Rupa-rupanya si kecil ini sejak tadi telah tertegun memandang isi rok miniku. Aku memang memakai CD, namun CD-ku sangat mini, terbuat dari renda yang ukurannya hanya selebar jari melingkar di pinggangku, selebihnya juga berupa renda yang ukurannya sama tersambung dari belakang pinggangku, turun ke bawah melalui lipatan pantat melingkari selangkanganku. Hanya bagian depannya saja ada penutup yang ukurannya tak lebih dari seukuran dua jari berbentuk hati menutupi bagian depan liang vaginaku, sehingga CD warna merah yang kukenakan ini tidak mampu menutupi bulu kemaluanku yang menyeruak keluar dari celah-celah lipatannya. Rupanya bulu-bulu kemaluanku inilah yang menarik perhatian Andi.

“Dok! Itu kok ada rambutnya?” tanya Andi keheranan sambil menuding ke arah pangkal pahaku.


Aku cukup terkejut dan langsung mengubah posisiku. Kini aku berlutut di depan box. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan Andi, untung saja bersamaan dengan itu dari arah belakang saat kutengok ternyata Pak Budi datang menghampiri kami. Pak Budi rupanya sudah selesai mandi. Saat ini dia memakai celana pendek longgar dan T Shirt. Namun tiba-tiba Andi berkata pada ayahnya..

“Pa! Bu dokter sininya ada rambutnya” lapor Andi pada Pak Budi sambil menunjuk ke arah selangkangannya sendiri. Mukaku langsung memerah karena jengah, untung saja Pak Budi cukup bijak dan langsung menegur Andi.

“Hush, tidak boleh ngomong begitu”. Andi rupanya masih belum mengerti mengapa papanya melarangnya bertanya. Tak lama kemudian Bu Lusi istri Pak Budi muncul dan menyapaku..

“Hey Nat! Sudah lama?” sapa Bu Lusi, Bu Lusi memang biasa menyapaku “Nat”, kalau Pak Budi lebih suka menyapaku “Lia”, tidak masalah bagiku.

“Ooh..! Selamat sore Bu!” sahutku pada sapaan Bu Lusi.
“Eeh..! Nat! Kamu di sini dulu ya, nanti makan di sini sekalian saja, kita makan malam sama-sama, aku sekarang mau ngantar Andi ke ulang tahun temannya sebentar, kita tidak akan lama kok, paling cuma kasih kado sebentar terus langsung pulang” demikian jelas Bu Lusi padaku, rupanya Bu Lusi akan pergi mengantar Andi yang memang sejak tadi tampak sudah selesai mandi.

Akhirnya Bu Lusi pergi mengajak Andi yang didampingi baby sitternya. Tinggallah aku di rumah besar itu bersama Pak Budi dan beberapa pembantunya, namun saat ini pembantu Pak Budi sedang sibuk di halaman rumah depan, ada yang menyapu halaman, ada yang menyiram taman dan yang satu lagi sedang membersihkan ruang tamu. Ini kuketahui saat aku datang tadi.

Kini tinggallah aku berdua dengan Pak Budi di teras halaman belakang yang cukup luas, untung Pak Budi tidak lama berdiri di dekatku. Pak Budi duduk di sofa teras belakang, yang letaknya di belakangku,jadi aku memunggunginya tapi jaraknya agak jauh, karena posisinya yang menghadap ke arahku maka saat aku sedikit membungkuk sewaktu membantu proses kelahiran Carla, tanpa kusadari bagian belakang rok miniku sedikit terangkat.


Karena rok yang kukenakan mini sekali maka begitu terangkat sedikit bentuk pantatku dapat terlihat dengan jelas oleh Pak Budi yang duduknya memang agak jauh dariku, namun posisi ini justru lebih menguntungkan baginya. Dengan jelas sekali Pak Budi memperhatikan lekuk belahan pantat dan pahaku bagian atas yang mulus itu. Pemandangan ini rupanya cukup membuat Pak Budi horny hingga dia sudah tidak tahan lagi, kemudian berdiri dan berjalan mendekatiku.

“Lia..! Tadi yang dimaksud Andi rambut apa toh?” Tanya Pak Budi pura-pura ingin tahu. Aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya.
“Aaah..! Pak Budi ini kok ikutan tanya yang bukan-bukan?” sahutku tersipu malu.

Pak Budi ikut berjongkok di sampingku, tidak lama kemudian kedua tangannya meraih lenganku dan mengangkatku berdiri, kami pun berdiri berhadap-hadapan. Seketika itu juga Pak Budi langsung menciumku. Aku berusaha mengelak, namun Pak Budi lebih agresif memeluk sambil melumat bibirku.

Usia Pak Budi sekitar 35 tahun, wajahnya lumayan ganteng, badannya tegap dan gagah. Lumatannya membuatku horny, terlebih saat tangannya mulai menyusup ke dalam rok miniku, tangannya mengelus bagian depan pahaku hingga membuatku terangsang dan sedikit tak berdaya.

Akhirnya aku pun mulai berani membalas lumatan bibirnya. Kami berpagutan sambil berdiri, sementara tangan Pak Budi menyusup semakin ke atas pahaku, kurasakan jari-jari tangannya mulai menyentuh ujung CD-ku. Aku merasakan sebuah rangsangan yang cukup dahsyat, terlebih saat jari-jari tangan Pak Budi mulai menjelajah di selangkanganku. Vaginaku diremas-remas dari luar CD-ku, bibirnya tetap tidak berhenti melumat bibirku, lidahnya dijulurkan ke dalam mulutku, aku pun membalas dengan menghisapnya, demikian pula sebaliknya, kujulurkan lidahku ke dalam mulut Pak Budi dan Pak Budi langsung melumat dan menghisap lidahku.

Merasa tempat kami saat ini kurang aman dan bisa tiba-tiba kepergok oleh pembantunya, maka Pak Budi membisiki telingaku sambil mengajakku masuk ke dalam. Pak Budi rupanya juga tahu kalau posisiku saat ini sudah tidak mungkin lagi menolak, karena aku sudah benar-benar terangsang olehnya hingga ujung CD-ku juga sudah lembab oleh elusan jari-jarinya. Maka aku pun mengikuti Pak Budi dari belakang saat ia masuk menuju ruang keluarga dan kami menyelinap ke sebuah kamar tidur yang biasa mereka pakai kalau ada tamu atau kerabat yang datang menginap.

Setelah menutup dan mengunci pintu dari dalam, Pak Budi langsung menciumku kembali sambil merebahkan tubuhku ke tempat tidur. Kakiku masih terjuntai ke bawah sehingga posisiku yang telentang begini membuat bagian depan rok miniku terangkat sampai pangkal paha.

Tangan Pak Budi langsung mengelus selangkanganku yang tersembul keluar, jari tangannya segera disusupkan ke dalam CD-ku melalui ujung lipatannya. Ujung jari Pak Budi langsung dapat menyentuh bibir vaginaku dengan mudahnya. Dielus dan digesek-gesekkannya bibir vaginaku dengan jarinya, sementara jari telunjuknya mengorek-ngorek klitorisku.

Tangan kirinya mulai membuka kancing hem-ku satu persatu hingga buah dadaku langsung terpampang dengan jelas karena aku tidak memakai BH. Seperti kisahku terdahulu, aku memang sejak kecil tidak suka dan tidak terbiasa mengenakan BH hingga hingga kini usiaku sudah 28 tahun, aku tetap tidak pernah memakai BH, jadi tak heranlah kalau aku juga tidak tahu berapa besar ukuran payudaraku.

Yang jelas payudaraku tidak terlalu besar bentuknya, namun sangat indah dan berwarna sedikit merah muda agak kecoklatan di puting dan sekitarnya. Kini payudaraku pun sudah mulai mengeras, dan giliran mulut Pak Budi turun mengulum kedua payudaraku secara bergantian. Dihisapnya puting susuku sambil memainkan ujung lidahnya di ujung puting susuku.

Tangan kanan Pak Budi mencari dan melepas pengait rok miniku dan kubiarkan saja bahkan kuangkat sedikit pinggangku agar dia lebih mudah melepas pengait rok-ku, kemudian ditarik dan dilemparkannya begitu saja ke lantai. Langsung saja sisa penutup alat vitalku ditariknya ke bawah, kakiku pun membantu melepas CD yang kukenakan.

Serta merta Pak budi langsung saja membenamkan wajahnya di selangkanganku sambil tangannya membuka kedua pahaku lebar-lebar. Posisinya sekarang berjongkok di tepian tempat tidur dan wajahnya berada tepat di pangkal pahaku, bibirnya mengulum bibir kemaluanku dengan lembut, lidahnya dijulurkannya di antara lipatan bibir vaginaku.

“Ayo masukin dong Pak!” pintaku pada Pak Budi.

Mungkin karena Pak Budi juga tak ingin ketahuan istrinya yang mungkin saja tiba-tiba pulang, maka ia pun begegas melepas celananya. Batang kemaluannya yang tidak terlalu besar, ukurannya biasa saja, langsung ditancapkannya ke dalam liang vaginaku.

Kami bermain tidak terlalu lama karena takut istrinya tiba-tiba muncul, namun kami merasakan orgasme secara bersama-sama saat itu. Sungguh sangat berkesan sekali kejadian itu. Enak juga ML sambil curi-curi karena takut ketahuan.

Berawal Dari di Perkosa Pembantuku


Berawal Dari di Perkosa Pembantuku

Tante Lendir - Gila, hanya kata itu yang ada dalam benakku saat mengingat kisah pemerkosaan dari para pembantuku yang hingga kini menjadi skandal perselingkuhan. Aku dibuat liar oleh mereka, sungguh ini bukan kehendakku tapi aku sangat menikmatinya. Cerita panas yang sampai kini menjadi rahasia dalam rumah tanggaku.

Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tidak sanggup melihat dua orang suami istri terbujur kaku, sedangkan di sampingnya terdapat anak yang masih berusia 11 tahun yang sedang menangisi ke dua orang tuanya, karena merasa kasihan aku meminta izin suamiku untuk menemuinya,

setelah mendapat izin aku lalu menghampiri anak tersebut berharap dapat menenangkan hati anak tersebut,
“Al..” panggilku pelan sambil duduk di sampingnya, “sudah jangan nagis lagi, biarkan kedua orang tuamu beristirahat”

Anak itu tetap menangis, beberapa detik dia memandangku dan tidak lama kemudian dia langsung memelukku dengan air mata yang bergelinang,
“tante, hiks…hiks… Aldi ga mau sendirian, Aldi mau mama, papa…” dengan penuh rasa kasih sayang aku mengelus punggungnya berharap dapat meringankan bebannya,

“tante… bangunin mama,”katanya sambil memukul pundakku, aku semakin tak kuasa mendengar tangisnya, sehingga air mataku pun ikut jatuh,
“Aldi, jangan sedih lagi ya? Hhmm… kan masih ada tante sama om,” aku melihat ke belakang ke arah suamiku sambil memberikan kode, suami ku mengangguk bertanda dia setuju dengan usulku,

“mulai sekarang Aldi boleh tinggal bersama tante dan om, gi mana?” tawarku sambil memeluk erat kepalahnya,

Sebelum lebih jauh mohon izinkan aku untuk memperkenalkan diri, namaku Lisa usia 25 tahun aku menikah di usia muda karena kedua orang tuaku yang menginginkannya, kehidupan keluargaku sangaatlah baik, baik itu dari segi ekonomi maupun dari segi hubungan intim, tetapi seperti pepatah yang mengatakan tidak ada gading yang tak retak,

Begitu juga dengan hidupku walaupun aku memiliki suami yang sangat mencintaiku tetapi selama 4 tahun kami menikah kami belum juga dikaruniai seorang anak sehingga kehidupan keluarga kami terasa ada yang kurang, tetapi untungnya aku memiliki seorang suami yang tidak perna mengeluh karena tidak bisanya aku memberikan anak

Untuk membalas budi baik kakakku, aku dan suamiku memutuskan untuk merawat anaknya Aldi karena kami pikir apa salah menganggap Aldi sebagai anak sendiri dari pada aku dan suamiku harus mengangkat anak dari orang

Sudah satu minggu Aldi tinggal bersama kami, perlahan ia mulai terbiasa dengan kehidupannya yang baru, aku dan suamiku juga merasa sangat senang sekali karena semenjak kehadirannya kehidupan kami menjadi lebih berwarna, suamiku semakin bersemangat saat bekerja dan sedangkan aku kini memiliki kesibukan baru yaitu merawat Aldi,

“Bi…. tolong ambilin tasnya Aldi dong di kamar saya,” kataku memanggil bi Mar

Hari ini adalah hari pertama Aldi bersekolah sehingga aku sangat bersemangat sekali, setelah semuanya sudah beres aku meminta pak Rojak untuk mengantarkan Aldi ke sekolahnya yang baru, beberapa saat Aldi terseyum ke arahku sebelum dia berangkat ke sekolah. Seperti pada umumnya ibu rumah tangga, aku berencana menyiapkan makanan yang special untuk Aldi sehingga aku memutuskan untuk memasak sesuatu di dapur,

Tetapi saat aku melangkah ke dapur tiba-tiba kakiku terasa kaku saat melihat kehadiran pak Isa yang sedang melakukan hubungan intim dengan mba Ani, mereka yang tidak menyadari kehadiranku masih asyik dengan permainan mereka,

“Hmm… APA-APAAN INI?” bentakku ke pada mereka, mendengar suaraku mereka terlihat tanpak kaget melihat ke hadiranku, “kalian benar-benar tidak bermoral, memalukan sekali!”


Mereka tampak terdiam sambil merapikan kembali pakaian mereka masing-masing, beberapa saat aku melihat penis pak Isa yang terlihat masih sangat tegang, sebenarnya aku sangat terkejut melihat ukuran penis pak Isa yang besar dan berurat, berbeda sekali dengan suamiku,

“maafin kami Bu,” kini Ani membuka mulutnya, sedangkan pak Isa masih terdiam,

“Maaf… kamu benar-benar wanita murahan, kamu tahu kan pak Isa itu sudah punya istri kenapa kamu masih juga menggoda pak Isa, kamu itu cantik kenapa tidak mencari yang sebaya denganmu?” emosiku semakin memuncak saat mengingat bi Mar istri dari pak Isa, “saya tidak menyangka ternyata anda yang sangat saya hormati ternyata tidak lebih dari binatang, betapa teganya anda menghianati istri anda sendiri,” beberapa kali aku menggelengkan kepalaku, sambil menunjuk ke arahnya,

“maaf Bu ini semua salah saya, jangan salahkan Ani” kata pak Mar yang membela Ani,
“mulai sekarang kalian saya PECAT, dan jangan pernah menyentuh ataupun menginjak rumah ini, KELUAR KALIAN SEMUA!!” bentakku

Mendengar perkataanku Ani terlihat pucat tidak menyangkah kalau kelakuan bisa membuatnya kehilangan pekerjaan, sedangkan pak Isa terlihat tenang-tenang saja malahan pak Isa tanpak terseyum sinis,

“he..he… Ibu yakin dengan keputusan Ibu,” pak Isa tertawa mendengar perkataanku, perlahan pak Isa mendekatiku, “jangan pernah main-main dengan saya Bu,” ancamnya dengan sangat sigap pak Isa menangkap kedua tanganku,

“apa-apaan ini lepaskan saya, atau saya akan berteriak,” aku mencoba mengancam balik mereka yang sedang mencoba mengikat kedua tanganku,
“teriak saja Bu, tidak akan ada orang yang mendengar,” timpal Ani sambil membantu pak Isa mengikat kedua tanganku,

Apa yang di katakan Ani ada benarnya juga, tetapi walaupun begitu aku tidak mau menyerah begitu saja dengan susah payah aku berusaha melepaskan diri tapi sayangnya tenagaku kalah besar dari mereka berdua, tanpa bisa berbuat apa-apa aku hanya dapat mengikuti mereka saat membawaku ke dalam kamar pak Isa. Sesampai di kamar aku di tidurkan di atas kasur yang tipis, sedangkan Ani mengambil sebuah Hp dan ternyata Hp itu di gunakan untuk merekamku, sehingga kehawatiranku semakin menjadi-jadi.

“kalian biadab, tidak tau terimakasih ****** kalian!” air mataku tidak dapat kubendung lagi saat jari-jemari pak Isa mulai merabahi pahaku yang putih,

“ja-jangan, mau apa kalian lepaskan saya ku mohon jangan ganggu saya,” kataku di sela-sela isak tangis,
“siapa suruh ikut campur urusan saya, he…he… maaf bu ternyata hari ini adalah hari keberuntungan saya, dan hari yang sial bagi Ibu,” semakin lama aku merasa tangannya semakin dalam memasuki dasterku,

“tidak di sangkah impian saya akhirnya terkabul juga,”” sambungnya sambil meremasi paha bagian dalamku,
“makanya Bu jangan suka ikut campur urusan orang,” kini giliran Ani yang menceramahiku,
“ya, saya ngaku salah tolong lepasin saya,” kini aku hanya dapat memohon agar mereka sedikit iba melihatku, tetapi sayangnya apa yang kuharapkan tidak terjadi, pak Isa tanpa semakin buas memainkan diriku

Aku hanya dapat melihat pasrah saat dasterku terlepas dari tubuhku, kedua payudaraku yang memang sudah tidak tertutupi apa-apa lagi dapat dia nikmati, jari-jarinya yang kasar mulai memainkan selangkanganku,

“sslluupss…sslluuppss… hhmm…. ayo Bu puaskan saya?” pinta pak Isa, sambil mengulum payudaraku beberapa kali lidahnya menyapu putting susuku yang mulai mengeras,

“ko’ memiawnya basah bu, he…he…” memang harus diakui, tubuhku tidak dapat membohonginya walaupun bibirku berkata tidak,
“wa…wa… Ibukan sudah punya suami ko’ masih juga menggoda laki orang lain, ga malu ya Bu,”

Ani melotottiku seolah-olah ingin membalas perkataanku tadi, “dasar wanita munafik, sekarang Ibu tau kan kenapa saya menyukai pak Isa,”bentak Ani kepadaku, sehingga membuat hatiku terasa amat sakit mendengarnya,

“aahhkk… pak, hhmm…. pak sudah jangan di terusin…” kataku dengan kaki yang tidak dapat diam saat jarinya menyelusup kedalam vaginaku yang sudah banjir, perlahan kurasakan jari telunjuknya menyelusuri belahan vaginaku,

“oo… enak ya? he…he…” pa Isa tertawa melihatku yang sudah semakin terangsang, leherku terasa basah saat lidah pak Isa menjilati leherku yang jenjang,

Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik celana dalamku, sehingga vaginaku yang tidak di tumbuhi rambut sehelaipun terlihat olehnya, aku memang sangat rajin mencukur rambut vaginaku agar terlihat lebih bersi dan seksi.

Ani berjongkok di sela-sela kakiku, kamera Hp di arahkan persis di depan vaginaku yang kini sudah tidak ditutupi oleh sehelai kain, tanpa memikirkan perasaanku pak Isa membuka bibir vaginaku sehingga bagian dalam vaginaku dapat di rekam jelas oleh Ani, beberapa kali jari telunjuk pak Isa menggesek clitorisku,

“ohk pak plisss.. jangan…? saya malu…” aku merasa sangat malu sekali di perlakukan seperti itu, baru kali ini aku bertelanjang di depan orang lain bukan suamiku sendiri,
“Ha…ha… malu kenapa Bu? ****** aja tidak malu ga pake baju masa ibu malu si…” katanya yang semakin merendahkan derajatku, setelah puas mempertontonkan vaginaku di depan kamera, pak Isa bertukar posisi dengan Ani untuk memegangi kakiku sedangkan pak Isa berjongkok tepat di bawa vaginaku,

Dengan sangat lembut pak Isa menciumi pahaku kiri dan kanan secara bergantian, semakin lama jilatannya semakin ke atas menyentuh pinggiran vaginaku,
“aahkk… sudah pak, rasanya sangat geli hhmm…” aku berusaha sekuat tenaga mengatupkan kedua kakiku tetapi usahaku sia-sia saja, dengan sangat rakus pak Isa menjilati vaginaku yang berwarna pink, sedangkan Ani tanpa puas melihat ke adaanku yang tak berdaya,

“nikmatin aja Bu, he..he.. saya dulu sama seperti ibu selalu menolak tapi ujung-ujungnya malah ketagihan” kata Ani tanpa melepaskan pegangannya terhadap kakiku,
Semakin lama aku semakin tidak tahan, tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti di aliri listrik dengan tegangan yang tinggi, kalau seandainya Ani tidak memegang kakiku dengan sangat erat mungkin saat ini wajah pak Isa sudah menerima tendanganku, mataku terbelalak saat orgasme melandah tubuhku dengan sangat hebat, cairan vaginaku meleleh keluar dari dalam vaginaku, sehingga tubuhku terasa lemas,

“ha…ha… bagaimana Bu, mau yang lebih enak….” pak Isa tertawa puas, aku hanya dapat menggelengkan kepalaku karena aku sudah tidak mampu lagi untuk mengeluarkan suara dari mulutku, perlahan pak Isa berdiri sambil memposisikan penisnya tepat di depan vaginaku,

“aahkk… sakit…” aku memikik saat kepala penisnya menerobos liang vaginaku, “uuhk… hhmm… pelan-pelan pak…” pintaku sambil menarik napas menahan rasa sakit yang amat sangat di vaginaku karena ukuran penis pak Isa jauh lebih besar dari penis suamiku,

“tahan Bu, bentar lagi juga enak ko’ “ kata Ani yang kini melepaskan ikatan di tanganku, setelah ikatanku terlepas Ani kembali merekam adegan panas yang kulakukan,

Dengan sangat cepat pak Isa menyodok vaginaku sehingga terdengar suara “plokkss….ploskkss…” saat penisnya mentok ke dalam vaginaku yang mungil,
“aahhkk… aahhkk… aaahh… oooo…”semakin cepat sodokannya suaraku semakin lantang terdengar,

“oh yeeaa… enak Bu, hhmm… ternyata memiaw Ibu masih sempit sekali walaupun sudah pernah menikah,” katanya memujiku, tetapi mendengar pujiannya aku tidak merasa bangga melainkan aku meresa jijik terhadap diriku sendiri,

Aku merasa vaginaku seperti di masuki benda yang sangat besar yang mencoba mengorek isi dalam vaginaku, rasanya memang sangat sakit sekali tetapi di sisi lain aku merasa sangat menikamati perkosaan rehadap diriku, selama ini aku belum pernah merasakan hal seperti ini dari suamiku sendiri,

“ayo sayang, bilang kalau tongkol saya enak…” dengan sangat kasar pak Isa meremasi kedua payudaraku,
“ti-tidak…. ahk… hhmm…” aku di buat merem melek olehnya,
“ha..ha.. kamu mau jujur atau tidak, kalau tidak hhmm… saya akan adukan semua ini kepada suamimu, ha…ha…” katanya mengancamku dengan tawa yang sangat menjijikan,

“ja-jangan pak,” aku memohon ke padanya, karena takut dengan ancamannya akhirnya aku menyerah juga “iya, aahhkk… aku suka…” kataku dengan suara yang hampir tidak terdengar,
“APA… SAYA TIDAAK MENDENGAR?” pak Isa berteriak dengan sangat kencang sehingga gendang telingaku terasa mau pecah mendengar teriakannya,

“IYA PAK, ENAK SEKALI SAYA SUKA SAMA tongkol BAPAK….aahhk…uuhhkk!!” dengan sekuat tenaga aku berusaha tegar dan berharap semuanya cepat berlalu,
Setelah berapa menit kemudian tubuhku kembali merasa tersengat oleh aliran listrik saat aku kembali mengalami orgasme yang ke dua kalinya,

Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik tubuhku sehingga aku berposisi menungging, pantatku yang bulat dan padat menghadap dirinya,
“hhmm… indah sekali pantatmu sayang” katanya sambil meremasi bongkahan pantatku,
“pak, saya mohon cepat lakukan,”

“ha..ha.. kenapa Bu, sudah ga tahan” berkali-kali pantatku menerima pukulan darinya, sebenarnya aku tidak menyangka dengan kata-kataku tadi bisa membuatku semakin renda di mata mereka, sebenarnya aku hanya bermaksud agar semua permainan ini segera berakhir tapi sayangnya pak Isa tidak menginginkan itu,

“tenang Bu, santai saja dulu?”
Pak Isa sangat pintar memainkan tubuhku, dengan sangat lembut jari kasarnya menyelusuri belahan pantatku dari atas hingga ke bawah belahan vagianaku, gerakan itu di lakukan berkali-kali sehingga pantatku semakin terlihat membusung ke belakang,

“ohhkk… pak, hhhmm….” ku pejamkan mataku saat jarinya mulai menerobos lubang anusku, dengan gerakan yang sangat lembut jarinya keluar masuk dari dalam anusku, “ahhkk….ooo… ssstt…uuuuu… pak” ternyata rintihanku membuat pak Isa semakin mempercepat gerakan jarinya,

pak Isa dengan rakusnya kembali menjilati vaginaku dari belakang sedangkan jari-jarinya masih aktif mengocok anusku. Pada saat aku sangat terangsang tiba-tiba kami mendengar suara ketukan yang kuyakini itu adalah pak Rojak yang baru pulang dari mengantar Aldi,


“Pak Rojak tolongin saya…” kataku berharap ia bisa membantuku untuk lepas dari pelecehan yang ku alami, dengan santainya Ani membukakan pintu tanpa rasa takut kalau pak Rojak mengadukan kejadian ini ke pada suamiku, pak Rojak tanpak kaget saat melihat keadaanku yang sedang di gagahi oleh pak Isa,

“pak, tolong ku mohon,” kataku memelas,
“Wa…wa…. apa-apaan ini, “ beberapa kali pak Rojak menggelengkan kepalahnya dengan mata yang tak henti-hentinya memandangi tubuh mulusku,
“Udah pak, jangan sok mau jadi pahlawan kalau bapak mau embat aja, dia sudah menjadi budaknya saya,” pak Isa mulai membujuk pak Rojak dan aku hanya bisa berharap pak Rojak tidak memperdulikan tawaran pak Isa,

“kenapa bengong? sini ikutan!” ajaknya lagi
“jangan pak saya mohon tolongin saya,” aku mengiba ke pada pak Rojak, tetapi pak Isa tidak mau kalah kedua jarinya membuka bibir vaginaku,
“bapak liat ni, memiawnya sudah basa banget… wanita ini munafik” pak Rojak terdiam seperti ada yang sedang di pikirkannya,

“memiawnya masih sempit lo, apa lagi anusnya kayaknya masih perawan,” bujuk pak Isa berharap pak Rojak mau bergabung dengannya untuk menikmati tubuhku,
Akhirnya pak Rojak tidak tahan melihat vaginaku yang becek terpampang di depannya,

“hhmm… oke lah tapi boolnya buat saya ya, ” tubuhku semakin terasa lemas, kini aku sudah tidak tau harus meminta tolong ke pada siapa lagi, perlahan pak Rojak mendekatiku,
“sekarang Ibu dudukin tongkol saya, cepat…” perintah pa Isa sambil tidur telentang dengan penis yang mengancung ke atas, dengan sangat pelan aku menuduki penis pak Isa,

“eennnggkk…. “ aku menggigit bibir bawahku saat kepala penis pak Isa kembali menembus vaginaku, perlahan penis itu amblas ke dalam vaginaku, dengan sangat erat pak Isa memeluk pinggangku agar tidak dapat bergerak,

Setelah melepas semua pakaian yang ada di tubuhnya, pak Rojak mendekatiku dengan penis berada di depan anusku beberapa kali pak rojak menamparkan penisnya ke pantatku,

“pak sakit… aahhkk… aahkk… ja-jangan pak saya belum pernah” aku berusaha melepaskan diri saat pak Rojak mulai berusaha memasuki anusku, sempat beberapa kali ia gagal menembus anusku yang memang masih perawan,

“ha…ha… ayo dong Pak, masak kalah sama cewek si…” kata pak Isa memanas-manasi pak Rojak agar segera membobol anusku, pak rojak yang mendengar perkataan pak Isa menjadi lebih beringas dari sebelumnya,

“AAAAAA….” aku berteriak sekencang-kencangnya saat penis pa Rojak berhasil menerobos anusku, tanpa memberikan aku nafas ia menekan penisnya semakin dalam, “aahkk…. oohhkk… pak, hhmm…” aku merintih ke sakitan saat pak Rojak mulai memaju mundurkan penisnya di dalam anusku,

“gi mana pak? Enak kan?” tanya pak Isa yang kini ikutan memaju mundurkan penisnya di dalam vaginaku,
“eehhkknngg… mantab pak, enak banget he….he… hhmm….” semakin lama kedua pria tersebut semakin mempercepat tempo permainan kami,

Sudah beberapa menit berlalu kedua orang pria ini belum juga menunjukan kalau mereka ingin ejakulasi, sedangkan diriku sedah beberapa kali mengalami orgasme yang hebat sehingga tubuhku terasa terguncang oleh orgasmeku sendiri. Setelah beberapa menit aku mengalami orgasme tiba-tiba pak Isa menunjukan bahwa dia juga ingin mencapai klimaks. Dengan sekuat tenaga pak Isa semakin menenggelamkan penisnya ke dalam vaginaku dalam hitungan beberapa detik kurasakan cairan hangat membasahi rahimku,

“aahkk… enak…. hhmm…” gumamnya saat menyemburkan sperma terakhirnya, setelah puas menodaiku pak Isa melepas penisnya di dalam vaginaku begitu juga dengan pak Rojak yang melepaskan penisnya di dalam anusku,

“buka mulutmu cepetan,” perintah pak Rojak sambil menarik wajahku agar menghadap ke arah penisnya yang terlihat berdeyut-deyut, aku sangat kaget sekali saat pak Rojak memuntahkan spermanya ke arah wajahku, sehingga wajahku ternodai oleh sperma pak Rojak,

Kini aku benar-benar sudah tidak memiliki tenaga sedikitpun, untuk mengangkat tubuhku saja terasa sangat berat sekali, sedangkan mereka tanpa puas memandangku yang sedang berpose mengangkang di depan mereka karena kedua kakiku kembali dipegangi Ani, sperma yang tadi di muntahkan pak Isa terasa mengalir keluar dari dalam vaginaku,

Aku duduk di atas sofa sambil melihat anak angkatku Aldi yang sedang di temani suamiku belajar, wajah mereka terlihat sangat cerah sekali bertanda bahwa mereka sangat bahagia, entah kenapa tiba-tiba di pikiranku terlintas kembali apa yang terjadi tadi pagi yang menimpa diriku, semakin aku berusaha melupakannya rasanya ingatan itu semakin menghantuiku, aku tidak bisa membayangkan kalau sampai suamiku mengetahui kalau aku di perkosa oleh ketiga pembantuku sendiri,

“hhmm… gi mana Aldi sudah negerti belom” kataku sambil mengucek rambutnya yang sedang sibuk menghitung soal yang di berikan suamiku, “ya sudah kalau begitu mama bikinin minuman dulu ya, buat kalian,” kataku yang di sambut dengan teriakan mereka berdua,
Baru satu langkah aku keluar dari kamar tiba-tiba pergelangan tanganku terasa sakit saat pak Rojak menarik tanganku,

“bapak apaan sih!?” bentakku dengan suara yang sangat pelan,
“ssstt… jangan berisik…” kata pak Rojak dengan jari telunjuk di bibirnya, “nanti suami dan anak mu dengar, hhmm… bapak cuman mau ini Bu,” katanya lagi sambil mencubit payudaraku, dengan sigap aku mundur ke belakang,

“jangan main-main pak,” beberapa kali aku memandang pintu kamarku yang tidak tertutup rapat, tetapi pak Rojak tidak kehabisan akal dia balik mengancamku dengan mengatakan akan membongkar semua rahasiaku ke pada suamiku, sehingga nyaliku menjadi ciut,

“oke, hhmm… kalau begitu bapak ikut saya” kataku dengan suara yang bergetar, karena sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, dia terseyum puas melihatku tak berdaya dengan permintaanya,
“maaf Bu, saya inginnya di sini bukan di tempat lain,” katanya dengan suara yang cukup jelas,

setelah berkata seperti itu pak Rojak langsung memelukku dengan erat sehingga aku sulit bernafas, “hhmm… bauh tubuh ibu benar-benar menggoda saya,” perlahanku rasakan lidahnya menjulur ke leherku
“pak ku mohon, jangan di sini” pintaku kepadanya,

Pak Rojak yang mengerti kekhawatiranku langsung membalik tubuhku menghadap daun pintu kamarku yang sedikit terbuka,
“Ibu bisa bayangkan kalau sampai orang yang sedang di dalam kamar Ibu mengetahui apa yang sedang Ibu lakukan,” ancamnya sambil menarik rambutku sehingga aku harus menutup mulutku dengan telapak tanganku agar suara terikanku tidak terdengar oleh suami dan anakku,

“Pak ku mohon jangan di sini,” aku hanya bisa menurut saja saat pak Rojak menyuruhku untuk menungging dengan tangan yang menyentuh lantai, sedangkan wajahku menghadap ke celah pintu kamarku yang terbuka,

“tahan ya Bu,” katanya sambil menyingkap dasterku, sehingga celana dalamku yang berwarna hitam terpampang di depan matanya, dengan sangat kasar pak Rojak meremas kedua buah pantatku yang padat sehingga aku tak tahan untuk tidak mendesah,

“aahkk.. pak hhmm.. ja-jangan di sini pak,” pak Rojak diam saja tidak mendengar kata-kataku melainkan pak Rojak semakin membuatku terangsang dengan mengelus belahan vaginaku dari belakang,

“kalau kamu tidak mau ketahuan jangan bicara,” bentak pak Rojak sambil memukul pantatku
“ta-tapi pak, oohhkk… aku ga kuat,” kataku dengan suara yang sangat pelan, “ku mohon pak mengertilah,”

Pak Rojak seolah-olah tidak mau tahu, kini dengan rakusnya pak Rojak menjilati vaginaku yang masih tertutup celana dalamku, sehingga aku merasa celana dalamku tampak semakin basah oleh air liurnya. Setelah puas menciumi vaginaku pak Rojak memintaku untuk membuka celana dalamku sendiri masih dengan posisi menungging. Sangat sulit bagiku untuk melepaskan celana dalamku dengan posisi menungging belum lagi aku harus bekonsentrasi agar suaraku tidak keluar dengan keras walaupun pada akhirnya aku berhasil menurunkan celana dalamku sampai ke lutut,

“hhuuu… mantab….” katanya sambil merabahi vaginaku dari belakang, “kamu mau tahukan gimana rasanya ngent*t di depan suamimu sendiri,” katanya lagi sambil menunjuk ke arah suamiku yang sedang mengajari anaku Aldi,

“pak, ja-jangan…” aku sangat takut sekali kalau suamiku melihat ke arahku, tiba-tiba aku di kejutkan dengan jari telunjuk pak Rojak yang langsung memasuki vaginaku sehingga aku terpekik cukup keras,

“sayang… ada apa?” kata suamiku dari dalam, saat mendengar suaraku.

“aahkk… tidak pa, cuman hhmm.. tadi ada tikus lewat,” jawabku asal-asalan agar suamiku tidak curiga kepadaku, tetapi untungnya suamiku tidak melihat ke arahku, dalam ke adaan terjepit seperti ini pak Rojak masih asyik mempermainkan vaginaku dari belakang,

“ada tikus??” katanya lagi seolah-olah tidak percaya, “apa perlu papa yang usir,” mendengar tawarannya nafasku teras berhenti tetapi untungnya aku masih banyak akal,
“aahhgg… ga usah hhmm.. pa…” kataku terputus-putus menahan rasa nikmat yang di berikan pak Rojak kepadaku, untungnya suamiku tidak curiga dengan suaraku,

“asyikan Bu, ngobrol dengan suami sambil di mainin memiawnya,” aku memandangnya dengan wajah yang memerah karena nafsuku sudah di puncak, “ko’ diam cepat ajak suami Ibu ngobrol,” mendengar perkataanya aku langsung melotot ke arahnya, “Ibu mau kalau suami Ibu tau apa yang sekarang Ibu lakuin,” mendengar ancamannya aku kembali terdiam,

Dengan sangat terpaksa aku kembali mengajak suamiku mengobrol, walaupun di dalam hati aku merasa was-was takut kalau suamiku menyadari suaraku yang berubah menjadi desahan,
“paaa… ma-mau minum apa?” tanyaku yang kini sedang diperkosa oleh pak Rojak, tanpa kusadari pak Rojak sudah memposisikan penisnya di depan bibir vaginaku sehingga beberapa kali aku terpanjat saat pak rojak menghantamkan penisnya dengan sangat keras ke dalam vaginaku,

“terserah mama saja… papa sama Aldi ikut aja,”
“iya ma, apa aja asalkan enak,” sambung Aldi,

Waktu demi waktu telah berlalu sehingga sampai akhirnya sikapku berubah menjadi sedikit liar dan mulai menyukai cara pak Rojak memperkosaku walaupun pada awalnya hatiku terasa miris sekali di perlakukan seperti ini,
“aahk…. pak hhmm.. enak,” aku melenggu panjang saat orgasme melandahku, kini perkosaan yang ku alami berganti dengan perselingkuhanku dengan pembantuku,

“ohhk… memiaw istri majikan ternyata enak sekali, ahhkk…” katanya yang terus-terusan menggoyang penisnya di dalam vaginaku,
“pak… aahhkk… eehkk… aku, hhmm… ingin keluarrr, uuhhkk…” kali ini suaraku terdengar sangat manja

Beberapa menit kemudian kami mengerang bersamaan saat kenikmatan melanda kami berdua, setelah merasa puas aku dan pak Rojak kembali merapikan pakaian kami masing-masing, sebelum pak Rojak pergi meninggalkanku sempat terlihat seyumannya yang tersungging di bibirnya.

Setelah membuatkan minuman aku kembali ke kamarku menemui anak dan suamiku, mereka terlihat tanpak senang sekali melihatku hadir dengan membawa minuman dan makanan kecil,
“ini di minum dulu, nanti baru di lanjutin lagi,” kataku sambil meletakan cangkir dan piring di atas meja kecil yang di gunakan Aldi untuk belajar,

“makasi mama…” kata Aldi yang langsung saja menyambar minuman yang baru ku bikin, entah kenapa setiap kali melihat Aldi hatiku terasa menjadi damai, dan semua masalah seperti terlupakan,
Aku merasa sedikit aneh, saat suamiku memandangku dengan tatapan mencurigakan sehingga aku memberanikan diri untuk bertanya ke padanya,

“ada pa, ko memandang mama seperti itu” kataku sambil mengupas jeruk untuk Aldi yang sedang menulis,
suamiku mendekatkan mulutnya ke telingaku, “hhmm.. sayang ko’ kamu bau hhmm… gitulah…” mendengar pertanyaannya jantungku terasa berhenti,
“bau, bau apa pa?” tanyaku untuk memastikan apa maksud dari pertanyaan suamiku,
“kamu tadi ko’ lama ma,” kami terdiam beberapa saat, “mama abis dari kamar mandi ya, hhmmm… papa jadi curiga ni,” katanya sambil tertawa memandangku, mendengar perkataanya aku menjadi sedikit lega,
“Iya ni pa, abis kangen si…” kataku manja sambil mencubit penis suamiku,

Setelah yakin Aldi tertidur pulas, suamiku mengjakku untuk melayaninya semalaman suntuk. Tubuhku memang terasa lelah karena seharian harus mengalami orgasme, tetapi di sisi lain aku sangat senang karena suamiku tidak mencurigai aku karena bau tubuhku seperti bau orang yang habis bercinta.

Hampir tiap hari aku merengkuh kenikmatan bersama para pembantuku, kenikmatan yang tidak aku dapatkan dari suamiku yang membuat aku semakin liar.

Sabtu, 12 Agustus 2017

Nadya Ponakanku Jadi Pemuas Hasratku


Nadya Ponakanku Jadi Pemuas Hasratku

Tante Lendir - Sekitar 2 minggu yang lalu saya dapat tugas keluar kota tepatnya ke Pan***daran untuk melakukan tugas rutin , saya sendiri tinggal dikota Band**g . Hari itu tepatnya hari rabu jadi subuh- subuh saya sudah berangkat kesana sendiri dgn mobil operasional kantor, sengaja saya gak bawa supir karena ingin berlibur disana , kebetulan hari senin dpnya pas merah jadi saya Cuma kerja kamis dan jumat jadi masih ada 3 hari untuk berlibur.

Singkat cerita dari rabu sore sampai jumat siang , saya hanya disibukkan dengan kerjaan , meeting dengan cabang dikota tersebut , jumat siang saya mohon pamit balik kehotel karena semua kerjaan saya sudah selesai. Setelah tiba dihotel lalu makan siang dan ganti baju saya bergegas bersiap-siap mau main surfing dilaut , ini hobi yg sudah saya tekuni dari 1 tahun lalu apalagi tiap bulan saya pasti kekota ini. Hal ini yg membuat saya selalu semangat setiap dinas ke Pan***daran.

Saat hendak beranjak dari kamar , HP saya bunyi dan dilayar hp saya lihat nama Kak Lisa , ” aduh…ada-ada aja yg ganggu ” pikirku agak kecewa”. Lalu hp saya angkat siapa tau penting.
“iya…halo ada apa kak”.sahut saya ketus.
“lho..lho…kok…marah si”.balas kak lisa.
“kakak Cuma mau minta tolong bisa gak…”sahutnya merayu.
“…iya deh ada apa “balas saya dgn nada lembut.
” gitu dong jadi adek , yang baik sama kakak” sahutnya
“iya…ada apa” sahut saya memotong
“itu..Nadya kan lagi di pangandaran , kakak minta tolong kalo bisa entar pulang bareng kamu ke bandung , bisa gak leo “Tanya kakak saya.

Oh iya Kak Lisa adalah kakak kandung saya dan sudah menikah punya 3 anak , yg pertama Nadya umur 17 tahun masih kelas 11 SMU , yang kedua Cintya Umur 15 thn kelas 9 SMP dan yg terakhir Liam umur 10 thn kelas 4 SD.

” emang Nadya nginap dimana ” kata saya.
“Dia nginap di Hotel ANU , Cuma sore hari ini rombongannya sdh mau pulang ke Bandung , jadi tadi Nadya telp kakak , eh..saya bilang kalo Om Leo lagi disitu ” sahut kakak saya
“trus ” sahut saya kembali
” nah pas dia dengar gitu , eh..dia malah pengen ikut kamu pulangnya hari senin , gimana boleh gak Leo , kalo boleh telp Nadya sekarang iya” kata kakak saya memelas.
“iya udah gak apa-apa ” kata saya


Akhirnya saya telp Nadya dan menjemput dihotel dia nginap , setelah izin dari guru-gurunya saya pun bawa dia ke Hotel tempat saya nginap.
Awalnya saya tdk terlalu memperhatikan penampilan ponakan saya ini karena hamper 3 bulan terakhir saya jarang ketemu dia , Nah pas masuk kamar baru saya sadar akan kemolekan tubuh Nadya .dengan tinggi 165 cm , buah dadanya yg montok besar terlihat dari kaos pink ketatnya dipadu dengan BH putih ikat leher membuat penisku mulai sadar dari kebisuannya , apalagi saat itu dia Cuma pakai rok mini ketat memamerkan pahanya yg seksi dan bongkahan pantat yg padat berisi . kulit Nadya sangat putih mulus bersih didukung wajah yg cantik seperti gadis oriental . Ponakan saya ini sangat aktif didunia Modeling dikota bandung hal ini membuat dia selalu rajin mengurus badannya.

” Om..tidurnya disini iya, asik sekali kamarnya , viewnya langsung kelaut sunset trus kolam renang juga kelihatan ” sahut dia sambil masuk kekamar dgn santai dan menuju balkon kamar hotel , hotel yang disediain kantor emang kelas VIP jadi fasilitas lengkap.
” eh..bukannya bantu Om Leo bawa barangmu , km malah main nyelonong aja ” kata saya . ” ihhh…om Leo gitu aja sudah cape , huu….payah”sahut dia menantang dari ruangan kamar padahal saya baru mindahin kesebalah pintu dan menutup pintu.

“apa….kamu bilang om..payah , awas iya” kata saya sambil berlari mengejar dia pengen dijotos eh dicubitin, eh dia malah lari naik ke atas kasur lalu saya kejar , eh dia lari kearah balkon saya lompat kelantai dan hap……” kena…” kata saya , saya langsung memeluk pinggangnya dari belakang dan mengangkatnya keatas , dia hanya berontak bergoyang kesana kemari sambil tertawa dan meronta ampun..om…ampun.., saya pun mempererat pegangan saya takut lepas dan tanpa saya sadari tangan kanan saya memegang buah dadanya yang kiri dan Nadya juga tidak merasakan hal tersebut , lalu saya angkat kekasur dan saya jatuhkan , dia berguling kekiri mau lari saya langsung tindih dia dari atas kedua tangannya saya pegang dia hanya berontak biar lepas masih sambil tertawa .

Saya baru sadar bahwa posisi saya saat itu sangat erotis persis gaya misionaris dimana Nadya dibagian bawah menghadap kearah saya dengan kedua tangan terlentang saya pegang erat dan kedua pahanya terbuka lebar dgn posisi kemaluan kami saling menempel tapi masih pake baju.tiba- tiba saya terdiam dan Nadya juga diam , kami saling menatap membisu , saya merasakan penisku berdiri dibalik celanaku dan tampa Nadya sadari saat kami berguling dikasur ternyata roknya naik dan memperlihatkan G-Stringnya yang merah merona ( seleranya bagus juga pikirku).

Tiba-tiba dia mau bangkit karena menyadari akan hal itu , tapi saya tidak membiarkankan malah saya pegang erat ,
“om..lepasin om..” kata Nadya memelas , saya tau kalau vaginnya merasakan kontolku yg berdiri makin tegang menempel di kemaluannya , saat itu saya sudah lupa dengan daratan bahkan saya tdk berpikir lagi siapa gadis yg ada didepan saya ,
” om…lepas..” kata Nadya sekali lagi , tapi saya malah langsung membuka celana pendekku dgn tangan kanan sedangkan yg kiri tetap memegang erat tangan kanan Nadya. Secepat kilat kontolku yg tegang sudah kelihatan mengacung .

Nadya mencoba brontak untuk bisa lepas. ” jangan..om ” kata Nadya menangis , bukannya saya sadar eh malah makin liar , dengan sigap saya buka g-string nadya karena memang ada tali disamping sehinggah memudahkan reaksiku , pas melihat vaginannya yg gemuk merah merona dgn bulu –bulu halus membuatku makin liar ingin membenamkan kontolku , Nadya menangis ingin melepaskan diri , tapi apa daya saya lebih kuat apalagi bandanku sangat atletis.

Dengan tangan kananku saya arahkan kontolku kelubang vaginanya , apalagi sudah 1 bulan saya tdk melakukan hal ini dgn pacarku Vega.
Setelah pas didepan lubang vagina nya , saya dorong dikit , ” aduh…sakit om…jangan Om”,pinta Nadya menangis karena kaget kontolku ingin memasuki vaginanya .akhirnya saya mencoba fore play karena vaginanya kering saya langsung cium sedot sedot klistorilnya tapi tangan saya yg kiri tetap memegang tangan kanannya , tapi tangan kananku sudah masuk ke balik kaosnya dan meremas – remas bergantian buah dadanya yang memang besar .

”akh…om..jangan..om” sahut nadya , tapi kali ini dia berhenti brontak hanya menangis saja tersedu –sedu .
“Om ingin menikmati tubuhmu , jadi diam saja nanti kamu malah ketagihan ” sahut saya langsung , dan Nadya terdiam saja mungkin kaget dgn omong saya yg dimatanya omnya ini memang baik dan sayang sama dia.Lalu saya menaikkan kaosnya keatas dan menarik kasar BH putihnya …brakkk….
“om…sadar om..” sahutnya.

Langsung saya kulum pentil dadanya , yg memang menggairahkan berwarna pink dgn buah dada yg putih bersih .saya kulum dada yg kiri yg kana saya remas .

“uh…oh…uh..” tib-tiba suara ponakan saya berubah merintih keenakan , sepertinya nafsunya naik pikirku dan memang benar kelemahan ponakan saya memang pada buah dadanya pada pentilnya, saya terus lanjutkan aksi saya , puas menjilati dadanya saya naik mencium bibirnya mengulum sambil tangan kanan saya mengelus vaginanya , kali ini Nadya makin terbawa arus dia membalas semua kecupanku ,setelah itu saya kembali menjilati klistorilnya , Nadya makin meracu..

Uh…uh…..oh…….oh…. Suara ponakan saya bikin saya makin bernafsu ,
Saya terus jilati vaginanya yang harum karena sering dirawat , tiba-tiba 3 menit kemudian
Akh…oh…okhhhhh…ouuuuuuuuuuuuuuuuuuu……. Badan keponakan saya bergetar hebat dan saya melihat cairan bening keluar dari vaginanya , saat dia mengalami organisme matanya tertutup sambil menggigit bibir bawahnya , keenakan kali pikirku , lalu saya buka kaos saya saya buka rok dan kaosnya , dan saya ambil posisi saya arahkan kontolku yg tegang memerah itu kepintu vaginannya saat itu nadya masih merasakan kenikmatan yg baru dia alami , dan tampa tunggu komando kontolku saya dorong keras dan…

Akh…kkk…saaaakkkkitttt ommm…” jerit Nadya sadar dari sisa sisa kenikmatan tadi
Saya hanya diam meliahat wajahnya yg manis menggoda sambil memegang erat pinggulnya , setelah dia agak tenang saya langsung dorong keras….

Blesss………kotolku masuk semua
Akh…..sakit……….rintih nadya
Dan akhirnya saya diamkan dulu , saya melihat airmatanya menetes dan perlahan saya merasakan kontolku terasa dipijit dan raut muka Nadya mulai merasakan keenakan kelihatan dari dia menggigit bibirnya…

Lalu saya tarik pelan kontolku dan dorong lagi kedalam makain lama makin kencang

Akh…akkhhh,,,,ouhhh…ouhhhh…jerit Nadya keenakan
Saya dorong terus makin kencang sambil meremas kedua buah dadanya yg menggemaskan.
Akah…akah…saya…mau pipis om…”sahut Nadya .
“keluarain aja kata saya , dan aouuuuhhhhh….yeassss…ohhhh…” suara keenakan dari ponakan saya.

Setelah itu saya turun kelantai saya tarik badannya setengah menggantung dan saya masukin lagi kontolku , saya dorong terus….makin cepat ….

Akhhh,…akkhhhh….” Sayang vaginamu enak sekali apalagi buah dadamu , om senang bisa menidurimu hahaha…” sahut saya sambil bersemangat mendorong mudur kontolku.

Akh…akahhhhh…..eeehhhhh..” suara Nadya keenakan .lalu saya rubah gaya dogy stile sampai gaya monyet memanjat , dan akhirnya balik ke misionaris . kira kira 20 menit kemudian Nadya mengalami organisme dan saya juga sepertinya sdh mau keluar , makin saya percepat genjotan saya sambil mengangkat paha kiri Nadya ini membuat efek yg berbeda pada kontolku…dan tiba-tiba…

Akh…akhhh….croot….crooot….. saya keluarkan spermaku kedalam vaginannya.


Dan bandanku lemas kemudian , kami pun tertidur pulas karena kelelahan.
Tiba-tiba saya terbangun , dan melihat nadya masih tidur pulas saya lihat jam masih jam 6 sore diluar matahari mulai terbenam , eksotis pikirku , saya pun bangun dan membuat minuman penyegar tubuh tak lupa saya membuat minuman penambah tenaga , karena saya masih ingin memuaskan hasratku dgn ponakanku.

Malam itu saya melakukan 5 kali dgnnya dan sampai hari senin kami mau pulang , bahkan dijalan yg sepi saya sempat menuntaskan nafsuku dgn Nadya.

Setelah kejadian itu saya hampir tiap malam tidak bisa tidur.

Dan akhirnya saya coba telpon kak lisa 2 hari yg lalu , Katanya Nadya baik-baik saja bahkan , saya minta mau bicara padanya ,

“halo Nadya”kata saya
“iya” katanya pendek
” besok kan minggu ” kata saya
” habis dari gereja langsung keapartemen om ya “sahut saya kembali.

Sambil menulis cerita ini saya menunggu keponakan saya akan datang ,dan

Tok…tok..tok pintu apartemen saya terbuka dan hp saya bunyi ada sms , sebelum saya beranjak membuka pintu saya baca sms dulu ” Om..saya sudah didepan pintu”
Asik kata saya.

Aku Rela Menjual Tubuhku Demi Anakku


Aku Rela Menjual Tubuhku Demi Anakku

Tante Lendir - Vika yang sudah menjanda diusia mudanya dengan beranak satu, demi mencukupi kebutuhan ekonominya dia bekerja sebagai SPG. Karena penghasilanya tidak cukup sebagai seorang SPG pada akhirnya dia juga menjual diri kepada para pria hidung belang.

Namaku Vika aku berumur 24 tahun diusia dini aku menikah dengan seorang pria. Aku sudah memiliki anak yang sudah berumur 2 tahun. Setelah lulus SMA aku dulu langsung menikah karena hamil duluan. Aku menikah dengan pria yang jauh lebih tua dariku. Tidak begitu mapan cuma dia memiliki usaha yaitu punya bengkel motor.

Kala itu usahanya sukses belum banyak saingan, suamiku banyak teman jadi bengkel selalu ramai. Sebenarnya aku tidak direstui menikah dengannya namun apalah daya aku hamil duluan dan dia mau tanggungjawab. Orangtuaku meragukan suamiku, karena dia termasuk pria nakal banyak tato di tubuhnya. Itu semua membuat orangtuaku kurang suka dengannya.

Namun setelah anakku lahir semua menjadi membaik. Hubunganku dengan orangtuaku sudah sedikit ada perubahan. Setelah satu tahun menikah usaha suamiku hampir bangkrut karena dia hobi taruhan. Setiap hari pulang malam taruhan kesana kesini menghabiskan uang. Sementara kebutuhan semakin mendesak, anakku juga butuh susu butuh membeli keperluan rumah tangga.

Setiap malam mabuk-mabukkan pulang pagi marah-marah karena kalah taruhan. Hingga akhirnya sampai saat ini dia banyak hutang, dikejar bank sana sini. Aku semakin tidak betah tinggal serumah dengan dia. Bengkel juga jarang buka karena dia takut jika ada yang menagih. Dirumah sendiri serasa neraka banyak dicari orang sementara setiap kali orang datang aku yang menghadapi.

Lama-lama orangtuaku mengetahui kelakuan suamiku. Apalagi aku banyak minta uang dengan kedua orangtuaku. Mereka sudah mengetahui semua keburukan suamiku pada akhirnya aku harus cerai dengan dia. Itu permintaan oangtuaku dan memang aku sudah tidak betah lagi hidup dengannya.  Akhirnya aku bercerai dan hak asuh anak jatuh kepadaku.

Sebenarnya dia tidak mau bercerai , aku maju ke pengadilan agama didampingi orangtuaku. Aku kasihan melihat wajahnya yang sedang dalam kesusahan itu. Tapi dia tidak bisa menafkahi aku dan anakku. Setelah perceraian itu aku tinggal dengan orangtuaku kembali. Semua kebutuhanku dan Adel anakku di tanggung kedua orangtuaku.


Aku masuk ke perguruan tinggi lagi sementara anakku diasuh oleh pembantu. Aku kembali seperti masa muda dimana aku selalu berdandan rapi dan cantik. Aku bertemu dengan teman-temanku dulu mereka udah masuk di semester akhir sedangkan aku baru mulai kuliah. Senangnya aku bisa menghilangkan masa-masa tersulit dalam hidupku.

Kini aku bangkit lagi  menjadi diriku sendiri walaupun statusku sudah janda. Itu semua tidak membuat aku patah semangat, Aku harus kembali bangkit demi anakku. Aku juga mencari pekerjaan sambilan dikala waktu luang karena aku tidak mungkin mengandalkan orangtua terus-menerus. Pada waktu itu aku berangkat kuliah bertemu dengan Devi temanku.

Dia teman SMA ku aku lihat dia berpenampilan sangat menarik jauh beda dengan dulu yang cupu,

“Dev..masih inget aku nggak?”
“haaayy Vikaaa apa kabar kamu?”
“baik Dev sekarang kamu beda ya?lebih cantik deh…”
“ehhmm..makasih  ya..kamu kuliah disini juga to?kok nggak pernah tau ya?”
“aku barusan masuk aku sempat berhenti 2 tahun , lulus terus nikah..”
“oh jadi kamu ini udah berumah tangga ya?wah enak dong…”

“apanya yang enak Dev, aku bercerai dengan suamiku dan kini aku kembali sama orangtuaku. Anakku udah umur 2 tahun..aku lagi binggung nih Dev pengen kerja nggak enak tergantung sama orangtua  terus…”

“Oh gitu maaf ya aku nggak tahu. Kalau aku sih kerja sambilanku SPG kalau ada event tertentu gitu gajinya lumayan kok perjamnya..”

“biasanya setiap hari apa?”
“ya nggak pasti sih Cuma kalau ada event aku dihubungi gitu aja..gimana kamu minat nggak?”
“boleh juga sih Dev..coba deh ajak aku ya…”

Aku dan Devi bertukar pin bbm sejak saat itu aku sering menghubunginya. Suatu hari ada event di luar kota lumayan deh perjamnya 150 ribu. Aku berminat sebelumnya aku sudah bilang sama orangtuaku kalau mau kerja mereka memperbolehkan aku. Aku pergi ke kost Devi disana banyak temannya yang lagi siap-siap mau kerja.

Aku ikut dandan seperti mereka setelah melihat pakaian yang dikenakan aku terkejut. Sexy sekali baju yang di pakai pas event itu. Rok diatas lutut dan tanpa lengan terlihat sangat sexy. Yaudahlah aku ikuti semua yang mereka kenakan. Kurang lebih ada 6 gadis yang berangkat dijemput untuk berangkat ke tempat  tujuan.

Ya mereka semua temanku dulu waktu SMA sekarang sama-sama lagi. Dan yang berstatus janda bukan hanya aku. Awalnya aku minder lama-lama terbiasa sendiri. Mereka semua memang nakal cara pergaulannya trus cara bicaranya begitulah. Persis jaman aku sekolah SMA dulu, tapi aku sempat berubah waktu hidup berumah tangga.

Namun setelah bergaul kembali dengan mereka aku jadi seperti terpengaruh. Kerjanya nyantai Cuma nawarin produk rokok jika laku nanti dapat bonus. Cuma harus pandai menggoda biar banyak yang tertarik dengan produk yang di tawarkan. Banyak sekali pria hidung belang yang datang dan teman-temanku menanggapinya ganjen dengan mereka.

Tapi menguntungkan karena setiap produk yang laku pasti dapat bonus. Bahkan ada temanku setelah event usai dia pergi dengan om-om entah kemana. Aku tanya dengan Devi katanya udah biasa kayak gitu. Kalau pengen uang lebih ya jalan sama om-om puasin gairah seksnya. Wah ternyata sampingan SPG ini banyak ya, makanya dia berpenampilan mewah.

Aku banyak belajar dengan Devi dia mengajariku berbagai macam cara mendapatkan uang. Ada event apapun dia mengajakku , pernah ada event besar gajinya juga lumayan. Selama 3 hari di Jogja, pengalamanku kali ini menghasilkan banyak uang. Awalnya aku mencoba seperti mereka pulang sama om-om mampir ke hotel.

Bermalam dengan pria hidung belang menghasilkan uang banyak. Waktu itu hari pertama kerja , aku bekerja hingga pukul 9 sampai mall tutup. Aku berkemas untuk pulang tiba-tiba ada 2 om-om nyamperin aku sama Devi. Intinya mereka mau bermalam dengan kita. Devi dengan cepat mengiyakan dan mematok tariff. Setelah deal aku dan Devi di bawa pergi bersama.

Kemudian sampai di hotel yang di tuju, kita masuk di kamar masing-masing. Aku bertingkah profesional padahal aku baru pertama. Tapi aku masih ingat cara memuaskan pria walaupun lama sekali aku tidak berhubungan seks. Aku pun masuk kamar dengan pria itu namanya Om Sandy. Setelah itu kita duduk di sofa ngobrol biasa layaknya tamu dengan pelanggan.

Dia janji memeberikuu 5 juta jika akuu bisa memuaskan gairahnya. Aku semakin bersemangat malam itu, dengan menggunakan rok seksi aku siap memulainya.  Aku mendekati om Sandy aku duduk dipangkuannya. Kakiku mengangkang dan berhadapan dengan dia. Rok miniku terbuka lebar aku langsung meraba wajahnya dan mencium  bibirnya dengan semangat.

Aku kecup bibirnya aku mainakn lidahku terus didalam mulutnya. Kemudian aku berdiri secara perlahan aku melepas rokku dan hanya memakai bra dan celana dalam saja. Payudaraku yang montok membuat dia terpesona. Aku mendekatinya kembali aku duduk dipangkuan menciumi bibirnya dia meremas payudaraku dengan lembut,

“aaaaahhh…..aaahhhhh……aaakkkkhhh…..”

Aku melepaskan ciuman dan mendesah keras. Dia menggendongku menidurkan aku di ranjang, aku tertidur. Dia diatasku menciumi ku dengan penuh gairah, payudaraku bergesekan dengan dadanya. Dia melepas semua bajunya. Akuu melihat penisnya yang besar itu berdiri tegak. Sepertinya penis om Sandy mantap deh, aku jadi semakin horny melihatnya.

Dia membuka braku yang berukuran 36B , montok dan putingnya menonjol. Putting udah siap untuk dimainkannya, dia memutar-mutar putting susuku hingga aku semakin bergairah,

“aaaaakkkhh….aaaakkkhhhh….ooohh…aaahhhhh……ooohhh………”

Tangan kanannya meremas payudaraku sementara bibirnya masih mengulum putting susuku hingga aku lemas. Secara bergantian dia memainkan payudaraku, dia tampak gemas melihat payudaraku yang semok itu. Dia memberikan tanda merah kecupan di payudaraku,

“aaahhhhh…om….lagi om…..aaaaaaaaaaahhhhhhhh……”

Aku memintanya terus memainkan payudaraku. Aku tak kuasa tubuhku terus menggeliat merasakan kenikmatan. Dia meraba seluruh  badanku hingga aku horny, dia menciumi tubuhku dari atas hinggakebawah. Celana dalamku dibuka dia melihat memekku yang rimbun akan bulu kemaluan itu. Dia meraba bagian demi bagian dari luar hingga ke dalam.

Kakiku mengangkang lebar , bibirnya terus mendekati memekku. Dia menciumi memekku hingga aku lemas,

“aaahhhh….nikmaaat omm…aaaahhh……aaaakkkkkkkhhhh ooooohhhh…..”

Setelah itu dia menjilati selakanganku terasa sangat geli. Lidah nya bermain dengan lihay, lalu lidahnya menjilati memekku. Lubang memekku terus dijilatinya dengan penuh kegairahan. Setelah itu aku mengeluarkan cairan dari memekku. Kemudian dia menjulurkan penisnya ke depan mulutku. Dia memintaku untuk mengulum penisnya.

Aku jilati ujung penisnya dengan lidahku. Dari atas hingga ke bawah hingga Om Sandy merasakan kenikmatan,

“aaaahhh….aaaaaaahhhhhh…lagi Vik…enak…masukkan ke dalam mulutmu….aaaaaakkkkhh…”

Penisnya yang besar itu aku masukkan ke dalam mulutku hingga penuh. Tanganku mengocok penisnya naik turun dia semakin mendesah keras. Keluar masuk di dalam mulut penis itu terasa sangat nikmat,

“aaaaakkkhhhh….aaaahhhhhh……aaahhhh……..ooohhhh…….”


Dia melepaskan penisnya dan kembali dia menggesek-gesekkan penisnya kedalam lubang memkku. Dia gesekkan, oh nikmat sekali. Dia coba memasukkan penisnya ke dalam memekku secara perlahan. Masuk ujungnya ke dalam memekku dengan mudahnya. Dia menggoyang-goyangkan penisnya hingga seluruh bagian penis itu masuk. Maju mundur gerakan itu teras sangat nikmat,

“ooouuuugghhh…..ooouuugghh…aaaaakkkhhhh…”

Tangannya masih saja meremas payudaraku apalagi bibirnya mengulum payudaraku tanpa henti. Sedangkan penisnya terus keluar masuk ke dalam memekku. Mentok masuk ke dalam seperti tertancap di dalam memekku,

“aaaaaahhhh….aaahhhhhh…ooohhh….aaahhh…lagi om….aaaakkkkhhh….”

Aku menjepit penisnya kemudian melepaskannya aku jepit lagi om Sandy mendesah sangat keras,

“aaaaaaaaahhhhhh…lagi vik….aaaahhhhhh…..”

Pantatku aku angkat dan dia merasakan kenikmatan yang tak terkira. Aku juga sudah berpengalaman dengan seks jadi aku tahu bagaimana cara membuat dia puas. Aku terus mengangkat pantatku dan sedikit memberikan goyangan,

“aaaaaakkkhhhh….aaaahhhhhhhh…..aaaaakkkkkkhhh…..”

Keringat om Sandy jatuh bercucuran membasahi tubuhku. Tekanan penis itu semakin keras maju mundur dari dalam liang vaginaku keluar masuk sesuka hatinya. Aku hanya pasrah menikmati kenikmatan sex kami saat itu. Tak lama kemudian sperma om Sandypun  mengeluarkan spermanya didalam liang senggamaku,

“cccccrrrrroooooooooootttt…ccccrrrrrooooottttt….ccccrrrrrooootttttt……”

Om sandy tampak puas dan sangat menikmati seks denganku. Setelah itu aku masuk kekamar mandi membersihkan tubuhku. aku memakai pakaian kembali dan dia memberi ku uang sesuai perjanjian awal. Sejak saat itu aku bekerja sebagai SPG dan pemuas gairah om-om hidung belang. Biarlah semua dosa-dosa aku tanggung, karena sampai sekarang pekerjaan itu sudah mendarah daging padaku.

Selasa, 08 Agustus 2017

Sekdes Bohay Jarang di Jablay


Sekdes Bohay Jarang di Jablay

Tante Lendir - Pada waktu kuliah kerja nyata (KKN) di suatu desa terpencil di Jawa Tengah yg belum terjangkau angkutan dari arah kota, bahkan untuk mencapai jalan raya yg di lalui mobil angkutan, harus jalan kaki selama dua jam, kukira warganya masih terbelakang dan kurang pergaulan. Maklum di desa itu yg dihuni sekitar seratus keluarga, hanya satu keluarga yg mempunyai tv dengan menggunakan aki. Tetapi kenyataanya lain. Inilah kisah sex ku di tengah-tengah penduduk tersebut.

Di desa itu kebetulan aq menginap di rumah sekretaris desa (sekdes), yg ternyata seorang ibu muda aq taksir usianya kurang dari 40 thn. Tubuh langsing, kulit putih mulus dan rupawan. Memang lain dibandingkan dengan penduduk kebanyakan disekitarnya. Dan yg membuatku sangat bergairah adalah karena statusnya yg janda beranak satu.

Disuatu sore ketika aq baru datang dari kampus untuk urusan skripsi, kudapati rumah mbak Yuli (begitulah panggilan sekdes yg rumahnya aq tempati itu) nampak sepi. Tubuhku basah kuyup, karena kehujanan sepanjang perjalanan kaki dari jalan raya. Aq dorong pintunya dan ternyata pintunya tdk terkunci. Aq segera menuju kamarku, Kulepas semua pakaianku dan kukeringkan tubuhku dengan handuk. Tiba-tiba terdengar suara langkah mendekati kamarku, kuintip dari balik korden, mbak Yuli melangkah mendekat ke kamarku “Kesempatan nih” kataku dalam hati.


Aq terus mengeringkan kepalaku dengan handuk sehingga mataku tertutup dan pura-pura tdk tau kalau mbak Yuli mendatangi kamarku. Tanpa kusengaja batang penisku tegang mengeras. Gelantungan kesana kemari ketika tergoncang karena gosokkan yg keras di kepalaku.

Benar saja mbak Yuli membuka korden kamarku, namun aq pura-pura tak melihatnya, walaupun dari pori-pori handuk aq melihat mbak Yuli dengan raut mukanya sungguh kaget, tetapi diam saja. Bahkan sepertinya dengan seksama memperhatikan batang penisku yg makin lama makin tegang mengeras oleh tatapan mbak Yuli. Aq pun pura-pura kaget ketika kulepas handukku dari kepalaku.

“Wwohhhh, mbak Yuli, kirain siapa” aq sengaja membiarkan batang penisku tdk kututupi, ada perasaan bangga memperlihatkan batang penisku di saat sedang gagah-gagahnya.

“Dik Aris, datang kok nggak bilang-bilang sih” bicaranya cukup tenang, seakan-akan tdk melihatku aneh.
“Iya mbak, baru datang terus kehujuanan” cerita sex janda
“Aduhh, nanti masik angin lho, mbak ambilkan minyak angin ya, dik..”
“Sudah mbak nggak usah, takut panas”
“Lha iya biar anget gitu lho” Cerita Dewasa Terbaru
“Maksut aq, takut panas kalau kena ini, lho mbak” jawabku sambil menunjuk batang penisku.
“Ah dik Aris bisa aja, mikirin apa sih kok nunjuk-nunjuk kayak gitu” kali ini mbak Yuli melihat batang penisku, sungguh bahagianya diriku.
“Ihh, besar banget sih dik” sambungnya.
“Pernah aq ukur 18cm kok mbak” aq melangkah mendekati mbak Yuli.
“Ih, dik Aris bisa aja, pakai diukur-ukur segala” kupegang pundak mbak Yuli dan dia diam saja.
“Sepi banget mbak, kemana anak-anak yg lain.”

“Emmm.. anu dik, lagi bertemu sama pak Bupati” tampaknya mbak Yuli agak gugup dan seperti mau melangkah mundur ke belakang. Tapi kutahan dia, ketika kukecup keningnya ia diam saja. Kulanjutkan kukecup bibirnya, ia juga diam saja. Bahkan mbak Yuli memberikan sambutan hangat.

Kini mbak Yuli aktif menciumi tubuhku dengan gemasnya, aq diam saja, dan kulucuti pakaian mbak Yuli. Ketika kulepas BH nya, aq tertegun, toketnya masih padat dan mulus, ukurannya tdk besar dan tdk kecil. Perutnya langsing, cembung di bawah, sedikit di atas rambut memeknya. Mbak Yuli terus menyerangku dengan ciuman-ciuman yg membuatku kelojotan dan jatuh ke ranjang karena terdorong oleh kuatnya desakan mbak Yuli yg sudah dalam keadaan bugil itu. Aq hanya bisa memegang toketnya sambil mengelus, meremas dan memilin-milin puting susunya.

Mbak Yuli terus mencium setiap inci tubuhku, telingaku, leherku, lenganku, perutku dan pahaku. Batang penisku yg sudah tegang mengeras dipegangnya terus seakan sudah menjadi miliknya seutuhnya saja. Diciumnya kepala penisku, aq menggelinjang kegelian. Namun mbak Yuli tdk meneruskan. Sambil tersenyum mbak Yuli berbisik,

“Nanti saja yah…”

Sambil memeluk dan menciumiku dangan mesra dan membalikkan posisinya sehingga aq berada di atasnya. Kini posisiku lebih leluasa, aq bisa memandang keindahan tubuh mbak Yuli, setiap senti dari permukaan tubuh itu kuciumi dengan penuh nafsu.

Nafas mbak Yuli mulai memburu, cukup lama kutempelkan pipiku di perutnya. Sambil tanganku terus meremas-remas toketnya. Kepalaku kuturunkan ke bawah, kuciumi paha dalamnya, hingga sampailah ke memeknya. Kujilati klitorisnya, hingga mbak Yuli mendesah pelan sambil mengangkat pantatnya tinggi-tinggi. lubang memek mbak Yuli sudah basah oleh cairan kenikmatanya, aq terus menjilati klitorisnya.

Setelah jenuh aq menjilati memeknya, aq bersiap-siap mengarahkan batang penisku ke lubang memeknya, dengan cepat ia membimbing batang penisku. Tampak masih lumayan seret, sehingga tdk semuanya batang penisku langsung bisa menghujam ke dalam lubang memeknya. Setelah beberapa maju mundur barulah semuanya batang penisku tenggelam hingga ujung penisku menyentuh dinding memeknya yg terdalam. Mbak Yuli melenguh, mengerang dan makin memelukku dengan erat.

“Teruss dik Ariss.. terussss… tahan dikk, aq.. mauu… keluaarr, oogghhh…” pelukannya semakin erat sambil meluruskan kedua kakinya, hingga batang penisku terasa terjepit. Nikmat luar biasa. Hingga aq pun tak tahan lagi untuk membendung lendir kenikmatanku. Aq segera mencabut batang penisku dan kukocok-kocok hinngga menyemburlah lendir kenikmatanku di atas perutnya.

Beberapa detik kemudian heninglah suasana kamar itu. Tampaknya hari sudah mulai malam, hujan terus turun dengan lebatnya. Nafas mbak Yuli masih terdengar memburu dengan tubuhnya terbaring dengan lemas. Aq terlentang di sampingnya. Mbak yuli segera tidur dengan kepala bersandar di perutku, menghadap ke penisku. Aq pun tertidur juga.

Pada waktu mbak Yuli membangunkanku, untuk makan malam. Aq mengenakan piyamaku dan menuju ruang makan, dan mbak Yuli mengenakan daster tipis. Ketika kurogoh dari bawah dasternya, ternyata mbak Yuli tdk mengenakan CD. Mbak Yuli mengelak dengan genit meskipun sempat tersentuh juga.

Dalam pebincangan selama makan malam, baru kutahu bahwa dia mempunyai soerang anak perempuan sekolah di sekolah pekerja sosial di kota Semarang. Seminggu sekali ia pulang kerumah. Anis, anak mbak Yuli, orangnya memang manis dan supel.

Hari minggu dia memang datang dan aq sempat ngbrol dengan Anis. Waktu itu ibunya sedang ada tugas mendampingi pak Kades menerima kunjungan dari DPRD. Saking akrabnya aq ngobrol dengan Anis, hingga tak canggung-canggung lagi ia keluar masuk kamarku maupun sebaliknya. Bahkan ketika Anis meminta bantuanku untuk membuatkan tugas teks pidato, aq tanpa sungkan-sungkan masuk ke kamarnya. Secara tak sengaja aq menemukan sebuah amplop kecil di atas meja belajarnya. Ketika kubuka amplop itu ternyata berisi beberapa gambar porno kategori XXX. Anis terlihat cuek ketika kuamati gambar-gambar tersebut. Tak terasa batang penisku mulai berontak.

Tiba-tiba Anis membungkukkan badan tepat di depanku, sambil ikut melihat gambar porno tersebut.
“Aku nggak pakai Bra lhoooh…” mendengar kata-kata itu membuatku kaget bukan kepalang. Ketika aku melihat wajahnya ternyata wajahnya sudah sangat dekat dengan wajahku. Dan yg bikin aku tambah kaget begitu aku melirik kearah dadanya terlihat toket yg bergelantung indah tanpa terbungkus Bra.


Dengan segera aku merangkulnya, sambil kuciumi bibir manisnya. Anis membalas dengan tak mau kalah ganasnya. Kumulai membuka kaosnya, kuciumi putingnya yg ranum tapi agak nonggol, sama persis kayak punya mbak Yuli. Aku melepas semua pakaian yg menempel di tubuh Anis, begitu juga dengan CDnya. kuraih memek Anis yg beleum begitu lebat oleh jembut, sehingga belahan lubang memek yg berwarna merah jambu dapat terlihat dengan jelas. Tangan Anis pun ikut merogoh ke dalam celana pendekku, begitu dia menemukan batang penisku yg sudah tegang dia lalu menarikku ke tempat tidur.

Aku lepaskan pakaian yg kukenakan, hingga telanjang bulat. Lalu aku berbaring di tempat tidur dengan posisi terlentang, memberi kesempatan pada Anis untuk menikmati seluruh bagian tubuhku yg sangat kubanggakan ini. Dan benar saja, Anis pun dengan segera mengulum batang penisku dengan liarnya. Meski belum profesional, aku teteap menikmati setiap jilatannya. Mungkin dia ingin mempraktekkan apa saja yg pernah dia lihat pada gambar porno yg dia miliki.

“Aduh, jangan sampai kena gigi” jeritku pelan ketika giginya menggesek ujung penisku.
“Ohya mas…maaf mas gak sengaja…” kembali dia menjilati seluruh batang penisku. Hingga kedua biji penisku tdk luput dari jilatan liarnya. Reaksiku meringis menikmatinya.

Setelah tak ada lagi variasi dari mulutnya untuk penisku, lantas kubimbing dia untuk tidur terlentang. Diapun menurut saja. Kubuka perlahan pahanya, kini dengan jelas terlihat lubang memek yg cantik dan menggairahkan. Ketika kubuka, kulihat warna merah menantang, sedangkan lendirnya sudah banyak mengalir keluar. Posisiku sudah siap untuk menggenjot memeknya. Batang penisku tepat berada di depan lubang memeknya.

“Anis, masih perawan nggak sih?” tanyaku.

Anis tak menjawab pertanyaanku, dia malah menarik bokongku hingga masuklah batang penisku ke dalam memeknya. Memang belum sepenuhnya masuk, habisnya masih sempit sih. Aku hampir tak tega ketika melihat Anis meringis menahan sakit sambil memejamkan matanya.

“Sakit ya Nis?…aku cabut aja ya?”

“Jangan Mas” bisik Anis sambil menjepit punggungku dengan kedua kakinya.

Perlahan-lahan kugerakkan maju mundur, karena sempitnya lubang memeknya. Mmebuat Anis menggeleng-gelengkan kepalanya hingga sebuah erangan panjang. Namun segera kuciumi mulutnya agar erangannya itu tdk terdengar tetangga.

Orgasme Anis lama sekali, seperti orang kesurupan, kepalanya kupegangi erat-erat agar mulutnya tdk terlepas dari ciumanku. Sehingga eranganya itu tertelan sendiri. Tubuhnya mengejang kuat, pelukannya erat sekali.

Ahkirnya tumpahlah kenikmatan Anis. Aq sangat senang sekali bisa memuaskannya. Biarpun aku belum orgasme, aq sangat puas sekali. Anis tertidur pulas, aq segera mengenakan pakaianku, dan dengan melangkah ke arah kamarku dekat kamar mbak Yuli. Di depan kamar mbak Yuli terdengar suara, saat kusingkap dan aq terkejut ternyata ada mbak Yuli. Aq ketakutan dan hampir tak bisa bicara. Dengan suara seadanya aq bertanya,

“Ohh, mbak Yuli kok sudah pulang” tdk kusangka mbak Yuli tersenyum manis, mendekatiku dan mencium mulutku. “Jadi, mbak Yuli tau kalau aq habis begituan sama Anis?”

“Iya, anak sekarang memang lain dengan jamanku dulu, baru kenal udah tidur bareng”

Aq hampir tak mempercayai ini, batang penisku masih belum puas, karena memang belum keluar. Mbak Yuli tau itu. Ia melucuti celanaku dan langsung mengulum batang penisku dengan lihainya hingga keluarlah lendir kenikmatanku. Mbak Yuli tersedak, dan segera menuju dapur untuk minum. Aq hanya bengong aja Lama tak bergerak dari tempatku berdiri. Batang penisku tergantung dengan santainya.